Selasa, 22 Maret 2016

Menciptakan Momentum Ekspor

Menciptakan Momentum Ekspor

Enny Sri Hartati  ;  Direktur Institute for Development of Economics and Finance
                                                       KOMPAS, 21 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kinerja neraca perdagangan Januari-Februari 2016 kembali menunjukkan geliat. Selama dua bulan berturut-turut, neraca perdagangan mencetak surplus. Hal ini memunculkan optimisme sektor perdagangan. Sebab, selama November-Desember 2015, neraca perdagangan defisit. Padahal, pada Januari-Oktober 2015, neraca perdagangan dalam kondisi surplus.

Kendati demikian, surplus pada 2015 bukan disebabkan perbaikan kinerja ekspor, melainkan lebih disebabkan impor yang anjlok dengan nilai surplus yang sangat terbatas.

Nilai ekspor Februari 2016 mencapai 11,3 miliar dollar AS, tumbuh 7,8 persen secara bulanan. Secara kumulatif, ekspor pada Januari-Februari 2016 mencapai 21,78 miliar dollar AS atau turun 14,29 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2015. Secara tahunan, kinerja ekspor masih turun. Ekspor nonmigas turun 9,86 persen, sedangkan ekspor migas turun 40,16 persen.

Adapun impor Januari-Februari 2016 mencapai 20,23 miliar dollar AS, turun 14,47 persen secara tahunan. Impor nonmigas turun 9,81 persen, sedangkan impor migas turun 39,16 persen.

Di tengah pelambatan pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas internasional yang masih merosot, sulit untuk mengoptimalkan kinerja ekspor Indonesia. Apalagi, ekspor Indonesia masih didominasi komoditas, sekitar 69 persen. Ditambah lagi, negara tujuan utama ekspor, seperti Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, dan negara Eropa, mengalami pelambatan ekonomi.

Sejatinya, pelemahan kinerja ekspor Indonesia telah terjadi selama lima tahun terakhir atau pada periode 2011-2015. Ekspor yang merosot tidak semata-mata karena dampak pelemahan ekonomi global. Terbukti, negara tetangga, seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia, masih menunjukkan performa kenaikan ekspor pada 2011-2014. Ekspor Filipina, Thailand, dan Malaysia baru turun pada 2015. Bahkan, ekspor Singapura naik pada 2015.

Hal ini dikonfirmasi dengan kinerja ekspor sektoral, yakni penurunan terjadi pada ekspor komoditas dan produk industri manufaktur. Pada Januari-Februari 2016, ekspor hasil tambang Indonesia turun 21,12 persen dan ekspor hasil pertanian turun 14,80 persen. Ekspor industri pengolahan juga turun 7,69 persen dalam setahun.

Di sisi lain, penurunan impor justru bukan berita bagus. Pasalnya, selama Januari-Februari 2016, impor bahan baku/penolong turun 53,65 persen secara tahunan dan impor barang modal turun 12,62 persen. Impor barang konsumsi naik drastis 34,39 persen. Penurunan relatif terbatas pada impor barang modal karena ditopang kebutuhan impor guna percepatan pembangunan infrastruktur. Menjadi jelas bahwa impor bahan baku/penolong yang anjlok mengindikasikan penurunan kinerja industri manufaktur di Indonesia.

Sekalipun demikian, jika dicermati lebih dalam, profil neraca perdagangan Indonesia justru membuka berbagai peluang emas. Peluang muncul dalam mengoptimalkan strategi substitusi impor ataupun mengoptimalkan promosi ekspor. Impor barang konsumsi yang meningkat menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup besar. Ini menjadi kesempatan mendorong industri substitusi impor, yang akan memperbaiki problem struktural ketergantungan konsumsi barang impor.

Kejatuhan harga komoditas memberi peluang untuk melakukan hilirisasi industri. Bahan baku yang murah dan melimpah akan mendorong produk yang lebih efisien dan berdaya saing. Berbagai hilirisasi industri komoditas yang berbasis pertanian akan memperluas negara tujuan ekspor Indonesia. Potensi industri agro yang dapat dikembangkan amat banyak, antara lain industri berbasis kelapa sawit, karet, kopi, rumput laut, hasil hutan, dan perikanan.

Oleh karena itu, harus ada prioritas produk-produk unggulan yang menjadi komitmen semua pemangku kepentingan. Koordinasi dan sinergi harus dilakukan di tingkat hulu hingga hilir. Saat produk ekspor telah ditetapkan menjadi produk unggulan, seluruh pemangku kepentingan harus berkontribusi merealisasikan pencapaian target prioritas ini. Perlu juga dukungan regulasi, kemudahan investasi, penyediaan infrastruktur, hingga berbagai insentif. Tentu, produk-produk unggulan tersebut telah melalui kajian yang komprehensif dan berdampak nyata terhadap peningkatan kinerja ekonomi nasional.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas pada Februari 2016 ternyata disumbang ekspor perhiasan/permata sebesar 593,7 juta dollar AS atau naik 153,80 persen secara bulanan. Artinya, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga memiliki potensi besar untuk pengembangan ekspor. Jika berbagai industri kreatif, seperti kerajinan, furnitur, dan produk makanan, mendapatkan perhatian dan fasilitas dari pemerintah, potensi ekspor sangat besar. Untuk itu, perlu pengetahuan pasar dan berbagai kegiatan promosi ekspor dari Kementerian Perdagangan untuk mendapatkan informasi soal peluang pasar.

Dengan potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah, peluang ekspor juga sangat luas. Pekerjaan rumah yang selalu tertinggal adalah mewujudkan kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan momentum ekspor. Dengan demikian, keunggulan absolut dan komparatif dapat terwujud, yang pada akhirnya merealisasikan potensi. ●