Minggu, 13 Maret 2016

Saat Bulan dan Matahari Asyik Bermadu

Saat Bulan dan Matahari Asyik Bermadu

Sindhunata ;   Wartawan; Penanggung Jawab Majalah Basis Yogyakarta;
Kurator Bentara Budaya
                                                       KOMPAS, 12 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Gerhana adalah fenomena keindahan alam. Karena itu, para perupa yang hidupnya bergelut dengan keindahan tak ingin ketinggalan menangkap fenomena itu dalam kanvas mereka. Beberapa karya mereka dapat dinikmati dalam pameran berjudul Kala Rahu di Bentara Budaya Yogyakarta, 11-20 Maret ini.

Kita mengalami pagi dan malam sebagai kejadian biasa setiap hari. Karena biasa, kita jadi lupa bahwa sesungguhnya keduanya adalah hal luar biasa yang dianugerahkan Sang Pencipta. Gerhana matahari membuat pagi tidak lagi biasa dan kita dibuatnya jadi kagum akan keindahan karunia semesta. Diah Yulianti menggambarkan gerhana matahari sebagai remang-remang yang hening dan sunyi, yang bukan cahaya fajar atau senja. Remang-remang itu adalah suasana persujudan, di mana manusia berada dalam situasi yang tak dimengertinya. Mereka tertelan ke dalam misteri dan tak tahu harus berbuat apa, kecuali sujud dan menyembah kebesaranNya.

Seakan bukan kebetulan, gerhana matahari kali ini jatuh bersamaan dengan perayaan umat Hindu, Saka 1938, hari raya Nyepi, yang mengajak manusia masuk ke dalam keheningan diri. Dalam suasana hening dan sepi itu, I Made Palguna menggambarkan bukan hanya matahari, bulan juga merupakan misteri. Bulan hanyalah kecil, tetapi kali ini bulan mampu menutupi matahari yang besar hingga gelaplah sebagian wilayah bumi. Maka gerhana matahari juga mengundang kita untuk mengagumi kebesaran bulan. Tanpa bulan tiada gerhana matahari. Kita diajak merenungkan kembali tentang perlunya malam bagi siang, seperti perlunya bulan bagi matahari. Tataplah bulan dan di sana akan kita melihat ada makhluk seperti lelaki dan wanita, ikan-ikan, dan cahaya terang. Di bulan pun ternyata ada kehidupan.

Putu Sutawijaya menggambarkan matahari itu sebagai lelaki, yang kuat dan gagah, mengendap-endap mencari bulan. Ketika bulan ditemukan, suasana pun menjadi gelap seketika. Bumi harus mau mengalah, ia harus merelakan pagi menjadi sejenak malam karena di sana matahari dan bulan sedang asyik terbenam dalam persanggamaan. Bumi harus rela untuk sejenak ditinggalkan terang agar raja siang dan ratu malam, dua penguasa jagad raya itu, dapat asyik berpadu di gelapnya malam.

Inilah kisah gerhana di Tanah Jawa. Waktu itu para dewa di kahyangan sedang meminum tirta amerta, air kehidupan. Tanpa sepengetahuan mereka, menyusuplah di sana Kala Rahu, asura, yang berupa raksasa. Ulahnya ini ketahuan oleh Batara Surya, dewa matahari, dan Batara Candra, dewa bulan. Keduanya berteriak sehingga membuat para dewa tersadar akan kehadiran Kala Rahu. Batara Wisnu segera memanahkan senjata cakranya, menebas leher Kala Rahu. Panah itu terlambat karena Kala Rahu sudah telanjur menenggak air kehidupan sampai di lehernya. Maka, hanya badan Kala Rahu yang mati dan jatuh ke bumi, sementara kepalanya tetap hidup selamanya. Kala Rahu menaruh dendam terhadap Batara Surya dan Batara Candra dan ingin selalu menelan mereka. Setiap kesempatan pelampiasan dendamnya itu tiba, terjadilah di dunia ini gerhana matahari atau gerhana bulan.

Jadi, gerhana matahari terjadi karena Kala Rahu, "raksasa menakutkan" itu. Karena itu, Hermanu melukiskan datangnya gerhana sebagai pratanda bahwa alam akan bergejolak. Badai, hujan petir menyambar-nyambar, dan tanah longsor. Bahkan, gerhana itu adalah prawarta bakal terjadi huru-hura. Karena itu, gerhana mengingatkan agar manusia janganlah terlena. Kala Rahu bukan sekadar raksasa yang menelan matahari, melainkan kekuatan tak kelihatan yang terus berusaha untuk menggelapkan hidup kita dan menjerumuskan kita ke dalam kekacauan dan kegelapan. Tidakkah "gerhana kegelapan hidup" itu juga sedang terjadi dalam hidup sosial kita sekarang ini? Kegelapan yang membuat kita kehilangan arah, saling menubruk, dan membuat kita membabi buta mempertahankan kepentingan diri kita sendiri. Untuk itu, mungkin kita diingatkan akan kedatangan Kala Rahu dengan gerhananya sekarang ini.

Bergerak cepat

Subandi Giyanto menggambarkan Kala Rahu itu bergerak cepat, bahkan lebih cepat dari gerak senjata cakra Batara Wisnu yang hendak mematikannya. Maksudnya, sejenak saja kita terlena, kegelapan akan menelan kita. Tampaknya itulah yang kini terjadi di negeri ini. Kekuatan gelap itu demikian berkuasa di antara kita dan kekuatan baik terlambat atau tak sanggup lagi menghadapinya. Maka, keserakahan, ketamakan, dan kerakusan merajalela di mana-mana. Hilanglah segala rasa malu, hilang pula tata tepa selira dalam hidup bernegara. Kekuatan gelap itu menyusup ke mana saja, juga ke dalam tubuh agama, dan menjadikan orang-orang beragama berperilaku dalam kemunafikan dan kekerasannya. Sejenak saja kegelapan itu melanda kita, tak dapat lagi kita mengendalikannya. Itulah kekuatan Kala Rahu yang menjadikan gerhana. Maka, seharusnya kita waspada terhadap "sejenaknya gelap" yang melanda kita.

Kala Rahu adalah ibarat bagi kuasa gelap yang mau menelan apa saja di bumi ini. Maka, Kala Rahu juga bisa "terjelma" dalam diri orang-orang berdasi. Itu yang digambarkan oleh Gunawan Bonaventura. Karena diliputi kuasa gelap, orang-orang berdasi ini bisa menelan apa saja, emas, batubara, kelapa sawit, minyak, palawija, padi, sapi, unggas, dan sebagainya. Dengan memukul lesung, Kala Rahu bisa diusir. Akan tetapi, tak semudah itu mengusir kuasa gelap yang meliputi orang-orang berdasi itu. Mereka tak takut akan suara apa pun. Jangankan suara kentungan dan kendang, suara rakyat pun tak mereka dengar. Telinga mereka sudah tuli akan sinyal bahwa bahaya kegelapan sedang melanda negeri ini. Mereka terus menguntal "matahari kekayaan rakyat ini". Orang-orang berdasi itulah gerhana mengerikan bagi negeri ini.

Demikianlah gerhana adalah saat paling tepat untuk mengajak kita menjadi eling lan waspada. Itulah yang ingin dikatakan oleh Waljiono dengan patung Mbilungnya. Mbilung, gambaran rakyat jelata, menjalankan semadi gerhana. Dengan semadinya, ia tidak ingin menjadi sakti atau hebat. Ia hanya ingin pasrah kepada "kekuatan" yang tak dapat dikuasainya. Ia ingin semeleh dan sujud kepada matahari pada saat gerhana. Justru dengan sujud dan semadi seperti ini, matahari berkenan menyerahkan diri kepadanya dan tinggal di telapak tangannya. Inilah simbol bagi persatuan manusia dengan alam semesta.

Dan akhirnya, Herjaka mengingatkan kita, setelah gerhana, pasar menjadi ramai seperti semula. Irama hidup berjalan seperti irama matahari. Tak ada sesuatu yang istimewa di muka bumi, seperti matahari pun tak merasa istimewa ketika memberikan cahayanya kepada manusia setiap hari. Sejauh pasar ramai berkumandang, matahari pun setia bersinar terang. ●