Minggu, 13 Maret 2016

Mengajar dengan Hati

Mengajar dengan Hati

Komaruddin Hidayat ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                  KORAN SINDO, 11 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Selaku dosen junior di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1981, setiap masuk ruang kuliah untuk mengajar saya berusaha menata hati. Tidak cukup hanya menguasai materi ajar, tetapi ke ruang kelas mesti membawa cinta.

Hati mesti gembira. Saya ingat salah satu sabda Rasulullah: Barangsiapa menyampaikan ilmu Allah pada orang lain dengan ikhlas, maka gantian Allah yang akan menjadi gurunya, mengajari ilmu yang belum diketahuinya. Itu saya yakini sejak masih di pesantren sampai hari ini. Bahwa mengajar hendaknya diniati sebagai ibadah, dilakukan dengan ikhlas, kemuliaan ilmu itu jangan ditukar dengan gaji.

Kalaupun terima gaji, itu upah sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang dibayarkan oleh negara. Jika diniati sebagai ibadah, Allah akan memberi imbalan dengan cara-Nya sendiri, di luar gaji PNS. Tentu ini merupakan keyakinan iman. Di samping sebagai karyawan pemerintah, jauh lebih penting lagi saya ingin menjadi karyawan Tuhan sehingga yang akan saya dapatkan bukan saja rezeki yang halal dan berkah, namun juga Allah akan membukakan jalan untuk memperoleh ilmu baru.

Mengajar dengan hati itu akan terasa ringan dalam melakukannya, dan lagi akan menimbulkan jalinan yang lebih akrab dengan mahasiswa. Yang demikian itu saya rasakan dan amati setiap mengikuti kuliah almarhum Prof Dr Harun Nasution. Pak Harun selalu menolak menghadiri undangan seminar jika bentrok dengan jadwal mengajar. Mengajar dan bertemu mahasiswa selalu menjadi prioritas.

Pak Harun terlihat semakin antusias memberi kuliah jika mahasiswa aktif bertanya secara kritis. Mahasiswa yang diam, tak pernah bertanya, tidak berarti dia pintar, katanya. Sebaliknya, mungkin tidak tahu apa yang akan ditanyakan, atau tidak tahu dan tidak berani bagaimana bertanya. Pak Harun selalu mengoreksi jika mahasiswa salah membuat pertanyaan, tanpa mempermalukan. Ilmu pengetahuan itu tersembunyi di balik pertanyaan yang kritis dan mendasar.

Pertanyaan yang serius dan sistematis namanya research. Sebuah pencarian kebenaran terhadap objek yang diriset. Jadi, dengan bertanya mahasiswa akan mendapatkan informasi lebih banyak lagi dari dosen. Ini mirip dengan pepatah lama, malu bertanya sesat di jalan. Pelajar dan mahasiswa Indonesia memang kalah aktif dalam mengajukan pertanyaan dibanding hasil pendidikan di Barat yang sejak awal siswa diajari bersikap asertif. Menyampaikan perasaan dan pikirannya dalam forum secara jujur. They are thinking loudly.

Berpikir sambil berbicara. Kalau masyarakat Timur cenderung thinking silently. Tetapi kita tidak tahu persis, apakah diam berarti berpikir atau pasif. Sepanjang pengalaman memberi kuliah, mahasiswa strata satu kebanyakan enggan mengajukan pertanyaan kritis pada dosen. Kalaupun ada hanya sedikit jumlahnya. Tetapi jika dosen membiasakan dan mengondisikan sejak awal, suasana kuliah akan berubah. Menjadi cair dan lebih hidup.

Salah satu cara paling efektif adalah memberi tugas pada mahasiswa untuk menyampaikan hasil kajiannya terhadap topik tertentu, lalu diperdalam dan diperkaya oleh dosen. Keengganan bertanya dan mendebat guru ini mungkin sekali dipengaruhi oleh pendidikan sewaktu di SMP dan SMA, khususnya di pesantren, di mana guru adalah pembicara, murid adalah pendengar. Guru adalah sosok yang paling tahu, yang tidak mungkin ilmunya dilangkahi oleh murid.

Murid masuk kelas layaknya celengan yang siap diisi oleh guru, lalu dicatat, dihafal, dan nanti dikeluarkan untuk menjawab pertanyaan dalam ujian. Pola menghafal untuk bersiap menghadapi ujian masih cukup menonjol dalam pendidikan kita. Padahal, yang lebih penting itu proses memahami dan latihan menyelesaikan masalah agar terbentuk sikap kritis kreatif, bukan berpikir repetitif, mengingat dalam realitas kehidupan ini akan ditemui masalah dan tantangan baru.

Guru-guru kita kurang mendidik para siswa untuk berimajinasi, keluar dari pakem berpikir yang ada. Rasa kagum dan mencintai profesi guru atau dosen, rasanya sudah merupakan panggilan hati sejak kecil. Kata orang bijak, seorang guru itu memberikan yang terbaik dan termahal dari apa yang dimiliki untuk anak-anak bangsa. Jika orang kaya menolong orang lain dengan memberikan sebagian kecil hartanya, seorang guru memberikan hati, pikiran, dan jiwanya.

Mereka mesti tampil sebagai role model bagi muridnya, guru artinya digugu lan ditiru, mendidik mereka agar berbudi luhur, berpengetahuan luas, bisa mandiri, dan berani menghadapi masa depan yang kita semua belum tahu dan belum mengalami. Mirip ungkapan Khalil Gibran, orang tua, termasuk guru, hendaknya berperan bagaikan busur yang mampu melepaskan anak panahnya untuk melesat jauh ke depan, melampaui dan meninggalkan dirinya.

Anak-anak kita akan menjadi anak zamannya. Mereka berumah di masa depan. Guru dan orang tua hanya bisa mengantarkan dan membayangkan, tetapi tidak bisa menyertai dan tidak bisa menengoknya. Sampai hari ini saya percaya bahwa jika guru mengajar dengan hati, maka murid juga akan mendengarkan dengan hati, bukan sekdar masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bahkan ada yang mengatakan, masuk telinga kanan keluar lagi dari telinga kanan.

Makanya, kalau seseorang ingin menyampaikan pengumuman, dimulai dengan kalimat: Saudara-saudara sekalian, mohon per-hati-an.... ●