Rabu, 11 Mei 2016

YY

YY

Putu Setia ;   Pengarang;  Wartawan Senior TEMPO
                                                   KORAN TEMPO, 07 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Hari libur panjang ini, Anda pergi ke mana? Mengunjungi desa mungkin lebih baik, apakah itu kampung halaman Anda sendiri atau kampung orang lain yang sudah jadi tujuan wisata. Desa sudah demikian maju.

Para remaja desa suka nongkrong di tempat tertentu, misalnya di depan minimarket yang sekarang bertebaran di desa. Sampai larut, karena "pasar modern" itu buka 24 jam. Tapi coba perhatikan, jarang ada obrolan di antara mereka. Masing-masing sibuk dengan handphone-nya. Entah buka Facebook atau memelototi YouTube. Semuanya aplikasi gratisan, minimarket pun menyediakan Wi-Fi gratis.

Di desa saya, mungkin juga di desa Anda, anak-anak sekolah dasar sudah akrab dengan YouTube, sampai-sampai bahasa Indonesia-nya berbau Malaysia, saking keranjingan nonton Ipin Upin. Adapun siswa sekolah menengah demam Facebook. Mereka punya komunitas sendiri, berbagi obrolan, berbagi foto, berbagi pengalaman.

Internet murah sudah masuk desa. Handphone buatan Cina cukup ditebus dengan sejuta rupiah, setara dengan sekarung kopi basah. Paket Internet Rp 10 ribu sebulan sudah dapat 3 GB (gigabyte), dan itu tersisa karena Wi-Fi gratis ada di banyak tempat. Mereka sangat dimanjakan oleh Internet murah, mereka asyik dengan dirinya dan khayalannya sendiri.

Celakanya, khayalan itu bisa jauh dari dunia yang normal, di mana sopan santun dan etika diajarkan para leluhur. Lewat Internet, tersaji banyak adegan kekerasan, juga adegan pornografi. Situs porno boleh saja diblokir, tapi adegan porno yang diunggah seseorang lewat video pendek di Facebook, Instagram, Line dan sebagainya, siapa yang memblokir?

Dan tiba-tiba kita dihebohkan oleh kabar seorang gadis 14 tahun, sebut saja YY, yang diperkosa sampai meninggal. Pemerkosanya ada 14 orang, ya Tuhan, tujuh di antaranya masih tergolong anak di bawah umur, dan semuanya warga desa setempat, teman YY sendiri. Ini kejadian di Rejang Lebong, seratus kilometer lebih dari Kota Bengkulu.

Saya tak mengatakan bahwa ini pengaruh Internet. Apalagi tak ada kabar yang menyangkut-pautkan hal itu dengan kepornoan dunia maya. Bahwa para pemerkosa awalnya minum tuak, saya pun tak terlalu bersemangat membawa kasus itu ke arah perbuatan orang mabuk. Saya lebih tertarik untuk bertanya kenapa ada sekelompok remaja memperkosa temannya sendiri sampai tewas? Setan mana yang memasuki jiwa mereka?

Pastilah keakraban sosial sudah hilang. Mungkin orang sibuk "berkomunikasi semu dalam diam" lewat Internet. Karang Taruna, atau apa pun nama organisasi para pemuda di desa, sudah kehilangan tempat untuk bercanda. Lapangan voli berubah menjadi "pasar modern", lapangan sepak bola di kecamatan menjadi ruko dan di kota menjadi mal. Kementerian Olahraga mencanangkan di setiap desa ada lapangan sepak bola, tapi itu baru teori. Seribu pasar tradisional akan direhab, itu juga baru mulai, sementara "pasar modern" sudah ada di selepas tikungan.

Jika tempat bersosialisasi sudah tak ada, yang tinggal adalah rasa asing dan makin tipis kepekaan kepada sesama warga. Jangankan saling membantu di antara orang yang kesusahan, berbuat buruk pun makin gampang. Tak ada lagi teman, yang ada adalah seseorang yang bisa dijadikan sasaran melampiaskan khayalan.

Pemerkosa YY layak dihukum berat. Jika perlu, dikebiri-sementara kita tahu usianya belum 17 tahun, masih ada harapan berbuat baik dan melahirkan keturunan. YY milik kita, kepedihannya milik kita. Ya betul, kita tak ingin ada lagi YY yang lain, dan mari nyalakan lilin, bukan cuma untuk YY, tapi juga untuk membuat terang kegelapan yang menimpa anak-anak kita.