Rabu, 11 Mei 2016

Gerakan Tutup Mulut

Gerakan Tutup Mulut

Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                                                    KORAN SINDO, 08 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Gerakan Tutup Mulut (GTM) yang biasa kita kenal adalah aksi bersama oleh satu kelompok tertentu untuk tidak mau bicara tentang suatu hal tertentu oleh karena alasan tertentu. Misalnya, penduduk yang tinggal di pegunungan Poso tidak akan mau mengaku kalau ditanya oleh petugas keamanan di mana keberadaan kelompok Santoso. Alasannya, kalau dia dianggap tidak mau kerja sama dengan petugas, paling-paling dia dibentak atau yang paling sial dimasukkan sel. Tetapi kalau dia mengaku pada petugas dan diketahui oleh kelompok Santoso, dia bisa disembelih seperti kambing kurban di musim Idul Adha.

Tetapi saya bukan mau ngomongin GTM model itu. Juga bukan GTM para anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri) yang tidak mau bicara sedikit pun tentang selingkuhannya, walaupun istrinya mengancam mau pulang ke rumah orang tuanya. Yang mau saya bicarakan adalah kebiasaan baru wanita Indonesia, yang banyak saya lihat di televisi dan juga di tempat umum mana saja yang suka menutup mulutnya ketika tertawa.

GTM perempuan ini baru saya lihat akhir-akhir ini saja, mungkin setahun terakhir ini. Sebelumnya, sejak saya masih anak-anak, belum pernah saya lihat perempuan-perempuan Indonesia menutup mulutnya ketika tertawa. Paling-paling demi sopan santun, wanita Jawa hanya diajarkan supaya tidak tertawa keras-keras atau lebar-lebar, karena wanita Jawa perlu menjaga marwahnya dengan cara senantiasa menunjukkan dirinya sebagai makhluk yang halus (bukan ”makhluk halus” loh ) dan berbudi pekerti lembut (tetapi bukan lelembut ), tetapi tidak perlu menutup mulut.

GTM yang saya biasa lihat sebelumnya adalah di siaran-siaran TV Jepang, atau ada berita tentang Jepang yang ada wanitanya tertawa, atau kalau ada wanita Jepang yang dihadirkan di TV nasional. Saya perhatikan kalau mereka tertawa, selalu tangan mereka menutupi mulut, seakan-akan malu kalau terlihat giginya yang indah itu. Saya rasa ini aneh, karena apa yang salah dengan gigi yang indah? Tapi ya sudahlah, namanya juga adat, atau budaya. Kata pepatah: ”Lain lubuk, lain ikannya; lain ladang lain belalang; lain kandang lain ayamnya”.

Tetapi sekarang kebiasaan GTM ini menular ke tanah Jawa, termasuk Jakarta. Artisartis cantik selalu menutupi mulutnya kalau tertawa. Maka di acara-acara komedi yang melibatkan artis cantik, si artis itu selalu menutup mulut mereka setiap kali tertawa, padahal tertawanya sering sekali karena mana bisa orang menahan tawa ketika melihat ulah para pelawak yang memang disengaja untuk memancing tawa.

Latah GTM yang ditiru artis-artis Indonesia dan kemudian dicontoh oleh wanita awam, supaya kelihatan seperti artis selebritas, menunjukkan bahwa orang Indonesia memang cepat sekali meniru. Dalam hal lain harus kita akui bahwa grup band ABG cowok dan cewek adalah copy paste dari bandband K-pop (Korean Pop ) yang tidak kalah dahsyatnya ketika ditiru oleh orang Indonesia.

Bahkan bukan hanya musik dan koreografinya yang ditiru, melainkan juga busananya, bahkan warna kulit. Rambut lurus dan raut wajah ingin juga ditiru. Maka larislah salon-salon tukang catok rambut, dokter-dokter kulit dan ahli bedah kosmetik untuk memenuhi selera para Tuti (Tukang Tiru) itu. Tetapi sebetulnya kebiasaan suka meniru itu bukan kebiasaan bangsa Indonesia saja.

Semasa saya masih SMP, pada tahun 1950-an, Indonesia kebanjiran barang-barang dari Jepang, seperti kamera dan jam tangan. Barang-barang itu tertulis made in Jepang, tetapi mengambil merek terkenal dari Jerman yang sudah sangat ngetop, seperti kamera merek Agfa, Ricoh, Leica, atau Zeiss (mudah-mudahan saya nggak mencampurkan dengan buatan Amerika), atau jam-jam tangan merek Timex dan Junghans (mudah-mudahan benar merek-merek itu sudah beredar sejak 1950-an).
Merek dan tampilan kamera serta jam tangan benar-benar persis sama, tetapi kualitasnya jauuuh lebih rendah.

Pokoknya kalau membeli barang-barang made in Japan ketika itu, orang sudah tahu bahwa benda itu hanya buat gaya-gayaan sebentar, sesudah itu... rusak. Tetapi sekarang? Barang-barang made in Japan jenis apa pun (mobil, elektronik dll) paling dicari di seluruh dunia. Bahkan, Korea pun adalah bangsa peniru.

Dalam bidang telepon genggam, sekarang Samsung sudah jauh mengalahkan Nokia yang bikinan Finlandia. Padahal awalnya, ketika orang Indonesia belum mengenal Samsung sama sekali, Samsung hanya meniru Nokia. Kesimpulannya, orang Jepang dan Korea memang peniru ulung, tetapi mereka meniru, membuat dan memproduksi produk, dan berusaha lebih baik dan lebih baik lagi dari produk yang dikeluarkan oleh negara aslinya. Adapun orang Indonesia hanya mampu meniru gaya dan perilaku saja.

Setiap keluar smartphone model terbaru, sebagian besar orang Indonesia pasti membeli untuk bermain Instagram, WhatsApp, Facebook dsb. Ke mana HP yang lama? Dilungsur saja ke adik atau temannya. Kita tidak pernah berpikir bagaimana membuat fitures baru yang bisa lebih unggul dari fitures yang lama.

Memang sekarang sudah mulai ada orang-orang Indonesia asli yang sudah bisa mulai menggunakan akal sehatnya untuk menciptakan fitures-fitures yang khas Indonesia. Namun, jumlah mereka masih terlalu sedikit. Kita memerlukan sebuah BANGSA Indonesia yang kreatif, bukan hanya beberapa orang yang kreatif, sementara bangsa itu sendiri lebih senang meniru GTM buat gaya-gayaan biar dikira selebritas.