Rabu, 04 Mei 2016

tuhan

tuhan

Goenawan Mohamad  ;   Esais; Mantan Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO
                                                       TEMPO.CO, 02 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tuhan semakin banyak....

Sajak-sajak Mustofa Bisri tak pernah dibangun dari statemen yang marah. Puisi itu bahkan bisa kocak. Lebih sering bait-baitnya gundah-kegundahan yang menarik: seorang alim melihat keadaan rumpang di sekitarnya tanpa ia merasa jadi lebih suci dari sekitarnya itu. Tiap kali sajak penyair dan kiai dari Rembang ini mengandung kritik sosial, tiap kali ia serasa ditikamkan ke satu bagian hidupnya sendiri.

"Tuhan semakin banyak" mengemukakan satu paradoks zaman ini: makin sering Tuhan dipajang di pelbagai laku dan kata-kata, makin jauh Ia dari bumi. "Aku" manusia telah menggantikan-Nya:

Di mana-mana tuhan, ya Tuhan

Di sini pun semua serba tuhan

Di sini pun tuhan merajalela

Memenuhi desa dan kota

Mesjid dan gereja

Kuil dan pura

Menggagahi mimbar dan seminar

Kantor dan sanggar

Dewan dan pasar

Mendominasi lalu lintas

Orpol dan ormas

Swasta dan dinas

Tuhan pun jadi "tuhan" (dengan "t"): bukan saja hanya jadi salah satu dari wujud di dataran benda-benda, tapi juga hanya sebuah bunyi yang diulang-ulang. Tuhan jadi banal. Iman jadi otomatik. Bersamaan dengan itu, "Aku" manusia menggantikannya dalam posisi di depan.
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama'ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan

Tentu saja ada perbedaan yang radikal antara "Akuku aku tuhan" di akhir sajak itu dengan ekspresi mistik manunggaling kawula gusti. Pengalaman seorang sufi adalah pertalian cinta; sajak Mustofa Bisri menunjukkan sebaliknya: Tuhan dipasang sebagai alat, mirip stempel. Dan puisi ini mencatatnya dengan masygul.

Tuhan yang "semakin banyak" yang disebut Mustofa Bisri agaknya seperti dewa-dewa Yunani dalam Iliad: mereka ikut mengintervensi dan bertikai dalam hampir tiap babakan Perang Troya. Atau mungkin yang terjadi sebaliknya: dalam perang yang bengis itu, para pelakunya ingin memindahkan tanggung jawab dan kesalahan kepada kekuatan di luar diri mereka-kekuatan yang digambarkan sebagai mutlak dan bebas dan bisa berbuat tak semena-mena. Dan itulah dewa-dewa mitologi Yunani.
Roberto Calasso, yang beberapa novelnya adalah tafsir baru atas mitologi, menulis dalam La letteratura e gli dèi ("Sastra dan Para Dewa") bahwa sastra dapat merupakan siasat halus untuk membawa dewa-dewa lepas dari tempat mereka yang aman, bersih, dan kekal-dari "klinik universal" (clinica universale) mereka. Sastra "mengembalikan mereka ke dunia, untuk diserakkan ke permukaan bumi, tempat mereka biasanya berdiam".

Dengan kata lain, sastra, karena tak meletakkan diri sebagai Kitab Suci, bisa membuat yang sakral jadi bagian hidup sehari-hari, bersentuhan dengan segala macam hal, termasuk yang terbuang, najis, dan kurang patut. Tapi biarpun terserak di seantero muka bumi, yang suci tetap tak jadi profan dan banal, selama ia tak dijadikan alat manusia seperti "tuhan" dalam sajak Mustofa Bisri.

Ada sebuah petuah agar kita membuat iman ibarat garam: sesuatu yang tak tampak namun meresap memberi corak, membubuhkan rasa tanpa berlebihan, dan sebab itu tak membuat berat atau heboh dalam perjalanan.

Novel Ahmad Fuadi, Negeri Lima Menara, adalah contoh yang baik 
bagaimana iman selamanya hadir tak kurang dan tak berlebihan-dan sebab itu tak berbenturan dengan kehidupan, bahkan ketika kehidupan berpindah dan berubah.

Novel ini sebuah rekaman rite of passage Alif Fikri, seorang anak muda Sumatera Barat. Ia selalu murid yang pintar sejak di madrasah tsanawiyah di Kabupaten Agam sampai dengan ketika ia belajar di Pondok Gontor, Jawa Timur. Ia sebenarnya ingin masuk SMA, tapi pesan amaknya yang ia cintai menahannya untuk tetap berada di jalur pendidikan agama. Sesekali ada kebimbangan, tapi Alif Fikri menyukai kehidupan di pesantren itu-yang sebenarnya tak terpisah dari Indonesia yang "modern". Di sana ia juga bertemu dengan fragmen-fragmen dunia lain. Ia tak gentar mengalami beda dalam dirinya. Pesan Kiai Rais selalu dikenangnya: "Jangan berharap dunia yang berubah, tapi diri kitalah yang harus berubah."

Maka dalam novel ini tak terasa ada guncangan dan krisis, ketika kesalihan kota kecil Indonesia bertaut dengan modernitas "Barat". Awal cerita di dekat Gedung Capitol yang diselimuti salju di Washington, DC; akhir cerita: di bawah monumen Nelson di Trafalgar Square, London. Negeri Lima Menara dibuka dengan kata-kata Imam Syafi'i di abad ke-8 yang diajarkan kepada para murid Pondok Gontor: "Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih...."

Yang dirayakan gerak dan perjalanan. Tuhan sudah dengan sendirinya menyertai, tanpa, dalam kata-kata Mustofa Bisri, "mendominasi lalu lintas".