Selasa, 17 Mei 2016

Buah Hati

Buah Hati

Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                                                    KORAN SINDO, 15 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam ungkapan bahasa Melayu, anak adalah ”buah hati” bunda. Buah di mana-mana tumbuh dari pohonnya, merupakan kepanjangan atau ekstensi dari pohon, setelah melalui proses putik dan bunga. Ketika buah itu terlepas dari pohonnya pun, identitasnya tidak terlepas dari pohon induknya. Pohon pepaya ya membuahkan buah pepaya. Tidak ada pohon pepaya membuahkan pisang atau jambu, apalagi durian.

Lain hal dengan sebutan ”permata hati” atau ”pujaan hati”. Ungkapan seperti itu bisa ditujukan kepada siapa saja, baik dari ibu terhadap anaknya, maupun dari anak terhadap ibunya, atau ayahnya, bahkan pacarnya.

Seseorang yang menganggap orang lain sebagai permata akan menilai orang lain itu sesuatu yang indah, tak ternilai harganya, dan patut dipuja. Perasaan seperti itu bisa terjadi pada diri siapa saja terhadap siapa saja. Biasanya yang dijadikan permata itu dipuja, tetapi yang dipuja belum tentu dimaknai sebagai permata hati. Misalnya, orang bisa memuja Tuhan tanpa harus membuat Tuhan itu sebagai permata hatinya. Sebaliknya, seorang anak yang memandang ibunya sebagai permata hatinya biasanya dengan sendirinya memuja ibunya itu.

Namun, singkatnya, antara ”permata” dan ”pujaan” hati ada persamaan, yaitu keduanya merupakan ekspresi dari emosiemosi positif terhadap sesuatu yang ada di luar atau berasal dari luar diri kita sendiri. Sedangkan objek ”buah hati” adalah bagian yang tumbuh dan berkembang (ekstensi) dari diri kita sendiri. Ibaratnya orang menambah paviliun dari rumahnya, paviliun itu adalah ekstensi dari rumah utama itu sendiri. Apa pun yang terjadi pada paviliun misalnya atap bocor dan sebagainya secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh pada rumah utama.

Demikian pula, kalau si buah hati (anak) sakit, atau sedang senang bermain, ibunya juga ikut merasa sakit, atau bahagia. Lihat saja betapa seorang ibu sangat menderita ketika mendampingi anaknya yang sedang tergolek di rumah sakit, dan betapa lebar senyumnya ketika menemani anaknya sedang bermain perosotan di taman.

Dalam teori psikologi Kepribadian dari psikolog GW Allport (1897-1067), gejala ”buah hati” adalah salah satu simptom dari ”extension of the self”, yaitu gejala pertumbuhan dan perkembangan dari diri (self ) yang tadinya terpusat dari ego sendiri, kemudian disambungkan ke hal lain di luar dirinya.

Memang waktu bayi baru dilahirkan, dia belum bisa membedakan mana yang dirinya mana yang bukan dirinya. Tetapi, ketika dia berumur 1-2 tahun, yaitu pada saat dia mulai bisa bilang ”tidak”, dia mulai sadar bahwa dirinya berbeda dari hal lain di luar dirinya. Cobalah pada umur-umur 1-2 tahun, hadapkan seorang anak ke cermin dengan noda (lipstik atau bedak) di hidung atau di pipinya. Lihatlah reaksinya. Kalau dia masih tidak peduli, masih usrek sendiri di depan cermin, dia belum bisa membedakan antara dirinya (wajahnya) dan bukan dirinya (noda). Tetapi, kalau dia sudah memperhatikan noda itu, dan menganggapnya sebagai benda asing, apalagi sudah mencoba menghapuskan noda dengan tangannya, itulah tandanya dia mulai bisa membedakan mana yang ”diriku” dan mana yang ”bukan diriku”.

Untuk beberapa tahun ke depan, sampai ia remaja atau masuk usia dewasa muda, anak itu akan disibukkan dengan dirinya sendiri yang makin berbeda dari lingkungan di luar dirinya. Tetapi, dirinya itu masih terbatas pada jasad dan jiwanya sendiri saja. Dia belum bisa berbagi perasaan seperti seorang bunda dengan buah hatinya.

Setakat ini anak baru bisa menemukan ”permata” atau ”pujaan” hati. Ketika seseorang menemukan sebuah permata yang dipujanya, ada perasaan ingin memiliki yang bersifat egois (mementingkan pribadi sendiri). Perasaan takut akan kehilangan permata yang dipuja itu akan berwujud misalnya dalam perilaku posesif seperti waktu anak muda pacaran, ketika dia banyak menuntut, banyak melarang, menelepon, atau SMS/WA tiap 30 menit untuk menanyakan, ”Kamu di mana?”, ”Lagi ngapain ?”, ”Udah makan belum?”, ”Kamu bener tar ada yang jemput?” dan 1001 macam pertanyaan dan sapaan enggak penting lainnya yang isinya sebenarnya adalah ikhtiar agar si pacar tetap dalam kontrol dia atau selalu jadi miliknya.

Sebaliknya, memperlakukan buah hati jauh dari egoisme, bahkan justru egonya si anak yang lebih diperhatikan oleh orang tua. Kalau anak kedinginan misalnya ibu atau ayah rela melepas jaketnya sendiri untuk menambah kehangatan si anak walaupun si ayah atau si bunda sendiri kedinginan setengah mati. Menurut Allport, ekstensi dariself atau sering juga disebut ego ini adalah salah satu tanda dari kedewasaan (mature personality).

Pada tahapan selanjutnya, ekstensi diri ini bisa berkembang bukan hanya kepada anak sendiri, tetapi juga kepada alam sekitar, kepada anak yatim, kepada organisasi, kampus atau perusahaan di mana dia bergabung atau bekerja, pada kelompok teman yang sehobi atau seminat atau pada apa pun yang lain. Tanpa ekstensi diri ini, menurut Allport, orang itu belum dewasa.

Tetapi, hati-hati, suatu buah hati tidak otomatis selamanya menjadi buah hati. Pada suatu saat seorang ibu bisa menginginkan anaknya masuk ranking 10 besar di sekolah sehingga ibu ini memaksa anaknya les ini-itu sampai anaknya kelelahan untuk mencapai ambisinya sendiri. Di sini si buah hati sudah berubah menjadi permata hati. Namanya juga permata, tidak hanya untuk dimiliki, tetapi juga untuk dipoles dan diproses sebegitu rupa sehingga tampak makin cantik dan makin elok untuk dipuja. Nasib si permata sendiri tidak dipikirkan lagi oleh si pemilik. ●