Jumat, 20 Mei 2016

Sinergi Kelautan RI-Malaysia

Sinergi Kelautan RI-Malaysia

Rokhmin Dahuri ;   Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kemaritiman
                                                      REPUBLIKA, 16 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Indonesia dan Malaysia, kerap disebut sebagai negara serumpun. Hubungan yang naik dan turun kerap kita lalui dengan berbagai peristiwa yang memicu. Tapi, layaknya saudara, kita selalu bisa mengatasi dan kembali rukun.

Dua negara ini adalah negara besar di ranah Benua Asia dan sepatutnya bergandeng tangan, bahu-membahu, dan saling jaga. Sebelum 1980-an, Malaysia banyak belajar dari Indonesia.  Kini, mungkin tiba masanya kita belajar pada Malaysia.

Pada 23-25 Februari tahun ini penulis diundang ceramah oleh empat lembaga ternama di Kuala Lumpur.  Ceramah dan diskusi pertama adalah tentang "Indonesian Maritime Axis Policy: Achievements and Challenges" (Kebijakan Indonesia tentang Poros Maritim Dunia: Pencapaian dan Tantangan) di Institute of Strategic and International Studies, sebuah lembaga think tank tersohor di negeri jiran untuk berdiskusi hal-hal strategis di antara dua negara. Hal yang didiskusikan mulai dari pokok-pokok kebijakan Pemerintah Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, potensi ekonomi kelautan, sampai dengan percik konflik Laut Cina Selatan.

Ceramah kedua di Malaysian Armed Force Defence College, semacam Universitas Pertahanan yang kita miliki di Indonesia, tetapi khusus untuk jenjang S-2 dan kursus-kursus yang diikuti oleh peserta militer atau polisi berpangkat perwira menengah, baik dari Malaysia maupun mancanegara. Topik yang dibawakan tentang "Enhacing Maritime Cooperation Among East Asian Nations for Regional Peace, Prosperity, and Sustainability" (Mengembangkan Kerja Sama Maritim di Antara Bangsa-Bangsa Asia Timur untuk Perdamaian, Kesejahteraan, dan Keberlanjutan Regional). Beberapa tahun lagi, para perwira ini bakal menempati posisi-posisi penting di negara masing-masing. 

Ceramah ketiga tentang "Strengthening Indonesia and Malaysia Cooperation in Maritime Education and Technology" (Memperkokoh Kerja Sama Indonesia dan Malaysia di Bidang Pendidikan dan Tekonologi Kemaritiman) saya sampaikan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang dihadiri sekitar 300 mahasiswa S-2 dan S-3 serta para dosen dan pimpinan universitas. Yang menarik, dari diskusi yang berkembang, mereka berpendapat dalam hal pendidikan dan iptek kelautan, Indonesia lebih maju ketimbang Malaysia.

Di bawah kepemimpinan PM Najib, Malaysia sangat serius merancang dan menetapkan kebijakan-kebijakan strategisnya, terutama di bidang kelautan. Meski semua diskusi di berbagai instansi tersebut sangat menarik, perhatian penulis tersita ketika berkunjung dan berdiskusi dengan para pemimpin negara yang bertugas di bawah Lembaga Kemajuan Ikan Malaysia (LKIM), setingkat Direktorat Jenderal Perikanan, KKP Indonesia.

Lembaga ini, meski tidak setingkat kementerian seperti di Indonesia, mempunyai tugas yang sangat fokus, yakni mengembangkan sektor perikanan tangkap dan meningkatkan taraf hidup nelayan Malaysia. Saat pertama kali tiba, kami disambut dengan berbagai hidangan laut yang telah disiapkan. Pimpinan LKIM menjelaskan satu per satu produk yang dihidangkan. Mulai dari makanan ringan hasil olahan laut, nasi ikan dalam kemasan, mi instan dari rumput laut, gamat (ekstrak teripang) yang dijadikan obat dikemas rapi dengan kualitas ekspor ke luar negeri.

Para petugas menjelaskan proses pendampingan dan pelatihan yang dilakukan oleh LKIM bagi para nelayan dan pengusaha produk olahan laut. Tak hanya mendampingi, mereka juga membangun dan menyiapkan pasarnya. Pelayanan terhadap nelayan juga terasa extraordinary. LKIM bahkan punya sebuah video yang diputar luas di semua kawasan permukiman nelayan tentang pentingnya menggunakan pelampung dan sarana keamanan laut lainnya di saat melaut dan mencari ikan.

Total nelayan Malaysia hanya sekitar 200 ribu orang, sedangkan nelayan Indonesia mencapai 2,7 juta orang. Tapi, kita bisa belajar apa yang baik sebagai inspirasi. Setiap bulan, nelayan Malaysia mendapatkan tunjangan sekitar 300 RM sebagai cost of allowence yang ditanggung oleh negara. BBM khusus untuk nelayan pun mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Di bawah administrasi PM Najib Tun Razak, Malaysia menetapkan penghasilan minimal nelayan sekurang-kurangnya 2.000 RM per orang tiap bulan (setara Rp 6 juta per orang tiap bulan). Bandingkan dengan rata-rata pendapatan nelayan Indonesia yang hanya Rp 1,5 juta per orang tiap bulan. Bahkan, secara berkala LKIM diberi tugas untuk mencetak sekurang-kurangnya 50 nelayan dalam setahun yang naik taraf menjadi usahawan di bidang kelautan dan perikanan. Ini belum lagi hal-hal seperti perbaikan kapal hingga santunan kematian bagi nelayan yang mengalami kecelakaan di laut, negara memberikan santunan hingga 2.000 RM.

Malaysia mengetahui persis jumlah nelayan mereka yang bujang, berkeluarga, atau duda. Bahkan, diketahui pula jumlah nelayan pria yang melakukan poligami atau memiliki istri lebih dari satu. Data tentang istri nelayan dan rumah tangga mereka diketahui secara pasti oleh negara.

Secara berkala, Malaysia melakukan pembaruan data sensus nelayan yang mereka miliki agar pelayanan bisa dilakukan dengan lebih baik. Karena itu pula, Malaysia mengetahui dengan pasti berapa jumlah nelayan yang hidup di bawah garis ekonomi standar dan melakukan tindakan yang tepat guna. Selain memberikan bantuan melalui program Makanan Nelayan 1 Malaysia (MN1M) program-program lain juga dilakukan berdasarkan temuan sensus. Mulai dari pendampingan, pelatihan, pemberdayaan, hingga membangun dan menyiapkan pasar bagi produk yang dihasilkan.

Tentu, tidak mudah dan perlu waktu untuk meneladani sejumlah kebaikan negara Malaysia bagi para nelayannya seperti di atas. Tapi, harus dimulai dari sekarang. Seiring waktu, bisa kita perbaiki dan sempurnakan.

Kehidupan laut adalah kehidupan yang berat dan menantang. Kehadiran negara sangat diperlukan sebab nelayan adalah bagian dari rakyat Indonesia yang memiliki hak untuk hidup sejahtera sesuai amanat konstitusi. Agar, para nelayan juga merasa apa artinya menjadi rakyat dari sebuah negeri besar yang bernama Indonesia Raya.