Jumat, 20 Mei 2016

Haji Pengabdi Setan

Haji Pengabdi Setan

Amidhan Shaberah ;   Ketua MUI (1995-2015);
Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama (1991-1996)
                                                      REPUBLIKA, 13 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ramadhan sebentar lagi tiba. Ratusan ribu, bahkan jutaan umat Islam Indonesia, akan ramai-ramai melaksanakan umrah ke Tanah Suci. Harapannya, umrah pada bulan suci mendapat pahala lebih besar. Apalagi, jika mendapatkan malam Lailatul Qadar yang pahalanya lebih baik dari ibadah 1.000 bulan.

Keutamaan umrah pada bulan suci dan harapan mendapatkan Lailatul Qadar ini menjadi bisnis "empuk" perusahaan travel di Tanah Air. Bagi umat Islam yang kaya, apalah arti uang 3.000-5.000 dolar AS untuk umrah bila dibandingkan pahala yang akan diraihnya.

Para selebritas dan kalangan the have kini menjadikan umrah sebagai "rekreasi batin" bila mengalami kegalauan. Bahkan, tidak sedikit dari mereka melakukan "tunangan dan ijab kabul pernikahan" di depan Ka'bah sembari umrah.

Iklan perusahaan travel yang menampilkan sejumlah pejabat publik dan artis terkenal saat di depan Ka'bah makin menjadikan umrah sebagai "ibadah sekaligus rekreasi". Dampaknya, kalangan the have menjadikan umrah sebagai "pelesiran spiritual". Itulah sebabnya, tak sedikit kaum berpunya dengan bangga menyatakan sudah umrah puluhan kali. Luar biasa!

Kita tahu, secara ekonomi, Indonesia masih membutuhkan devisa untuk membiayai pembangunan. Sebagian besar Muslimin pun masih hidup dalam kemiskinan. Alangkah baiknya jika uang sebanyak itu digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Misalnya, membantu fakir miskin, anak yatim, membangun sekolah atau madrasah di tempat-tempat terpencil, dan membangun ekonomi umat.

Terbangnya devisa dari Indonesia ke Arab Saudi ini tak hanya melalui umrah, tapi juga ibadah haji. Bila umrah hukumnya sunah, haji wajib. Namun, wajibnya haji bersyarat, yaitu bagi yang mampu secara ekonomi.

Meski demikian, dari kedua jenis ibadah ini, devisa yang terbang ke Saudi jumlahnya miliaran dolar AS tiap tahun. Padahal, bila umat Islam mewajibkan dirinya menunaikan haji hanya sekali sepanjang hidupnya, niscaya akan banyak uang yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan umat yang lebih penting.

Dalam konteks umrah dan haji yang "menerbangkan uang sangat besar" itulah saya mengenang Prof KH Ali Mustafa Yaqub MA yang wafat pada Kamis (28/4) di Jakarta. Sebagai orang yang pernah ikut mengurusi jamaah umrah dan haji di Indonesia, saya terkejut membaca artikel almarhum berjudul "Haji Pengabdi Setan" yang dimuat di majalah Gatra edisi 16 Januari 2006.

Setelah tuntas membaca artikel itu, Kiai Ali ternyata seorang ulama yang sangat peduli dengan kehidupan umat Islam sehingga mungkin "kesal" melihat orang-orang kaya yang berkali-kali naik haji dan umrah untuk memenuhi dahaga ibadahnya.

Kekesalannya itu beliau tulis, "Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?"

"Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau, sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, berarti ibadah haji kita bukan karena Allah, melainkan karena setan."

"Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi, Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya." (Gatra No 10, edisi 16 Januari 2006).

Membaca artikel itu saya tercenung. Berdosakah saya sebagai pejabat yang pernah mengurusi umrah dan haji ini? Dalam berbagai rapat, saya mengusulkan sebaiknya umrah dan haji itu dibatasi.

Pemerintah harus tegas mengatur "berapa kali" seharusnya umat Islam umrah dan haji sepanjang hidupnya. Ini bukan sekadar pencegahan kaburnya devisa ke Saudi, tapi juga soal mengikuti sunah Rasul. Sampai sekarang, nyatanya pemerintah belum berhasil menyosialisasikan sunah Rasul ini.

Dalam artikel "Haji Pengabdi Setan" itu, Prof Ali yang ahli hadis lulusan King Saud University tersebut menjelaskan, selama hidupnya, Nabi Muhammad hanya haji sekali dan umrah tiga kali. Bayangkan, Rasul yang lahir di Makkah saja hanya haji yang wajib itu sekali sepanjang hidupnya.

Padahal, kalau mau, berkali-kali pun bisa. Makkah adalah tempat kelahiran beliau. Makkah adalah tempat tinggal favorit beliau. Dan, juga tak perlu biaya untuk berkali-kali haji. Namun, Rasul tetap kukuh: haji hanya sekali.

Mengapa? Hal itu dilakukan Rasul agar tidak membebani umatnya. Haji itu biayanya mahal. Persiapan fisiknya juga berat. Menyadari ini, Nabi Muhammad sebagai uswatun hasanah, memberi contoh--cukup haji sekali sepanjang hidup. Itulah teladan Rasul dalam berhaji.

Menurut pimpinan Pesantren Darus Sunnah Ciputat itu, dalam Islam ada dua kategori ibadah. Pertama, ibadah qashirah atau ibadah individual yang manfaatnya hanya dirasakan sang pelaku.

Kedua, ibadah muta'addiyah atau ibadah sosial yang manfaatnya dirasakan tidak hanya oleh sang pelaku, tapi juga orang lain. Haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Ketika dihadapkan pilihan ibadah qashirah atau muta'addiyah, Nabi Muhammad SAW memilih ibadah muta'addiyah.

Menyantuni anak yatim dan fakir miskin, misalnya, termasuk ibadah muta'addiyah. Rasul menyatakan, penyantun anak yatim akan mendapat surga dan di sana hidup berdampingan dengan beliau.

Sedangkan, untuk haji mabrur, Rasul hanya menjanjikan surga, tanpa janji untuk mendampinginya di sana. Ini bukti, tulis Kiai Ali, ibadah sosial lebih utama ketimbang individual.

Di tengah kondisi umat Islam yang mayoritas masih berkubang di lembah kemiskinan itu, "kepergian" Prof KH Ali Mustafa Yaqub yang peduli umat sungguh sangat mengguncang. Bangsa Indonesia kehilangan seorang "ulama" yang kritis dan penuh perhatian terhadap umat.

Di tengah hiruk pikuk umat Islam yang lelah menunggu giliran haji sampai puluhan tahun, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta itu justru mengingatkan, hati-hati dengan niat haji kalian. Alih-alih haji kalian mendapat ganjaran, yang terjadi malah menjadi pengabdi setan. Naudzubillah min dzalik.

Saya tahu, di antara mereka yang antre haji sampai puluhan tahun itu, sebetulnya ada yang sudah pernah menunaikan haji, bahkan lebih dari satu kali! Jadi, untuk apa antre haji dengan melanggar sunah Rasul?

Selamat jalan, Kiai Ali. Innalillahi wainna ilaihi raajiun.