Minggu, 15 Mei 2016

Pendidikan Seks pada Anak, Perlukah?

Pendidikan Seks pada Anak, Perlukah?

Muazzah Muhammad ;   Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh
                                               MEDIA INDONESIA, 09 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DALAM sepekan terakhir media massa di Indonesia dihebohkan dengan kasus yang menimpa Yuyun, 14, yang ditemukan tewas setelah diperkosa 14 anak baru gede (ABG). Kasus pemerkosaan dan pembunuhan warga Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, itu jadi perhatian publik karena seperti fenomena gunung es. Tiga bulan lalu, ditemukan mayat bocah berusia 9 tahun dalam sebuah kardus, dan dipastikan juga jadi korban kekerasan seksual.

Salah satu stasiun TV menyatakan kasus kekerasan terhadap anak sejak 2010 (117 kasus) mengalami kenaikan hingga 500% pada 2015 (560 kasus). Ragam kekerasan yang terjadi ialah mulai fisik, peleceh an seksual, hingga pembunuhan. Pelaku kekerasan mulai orang tak dikenal, pendidik (guru), hingga orang terdekat (orangtua/kerabat).

Seyogianya orang dewasa menjadi pelindung anak, bukan malah jadi predator. Di rumah, orangtua dan kerabatlah yang bertanggung jawab memberikan kenyamanan sehingga si anak tumbuh dalam kasih sayang. Di sekolah, guru dan segenap tenaga kependidikan bertanggung jawab memberikan kenyamanan. Begitu juga di lingkungan masyarakat, orang dewasa patut melindungi mereka. Hal itu sebagaimana tertera dalam UU Perlindungan Anak Pasal 16 ayat 1, yaitu ‘Anak-anak berhak mendapatkan perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi’.

Secara psikologis, anak yang dibesarkan dengan kekerasan akan belajar untuk melawan. Jika dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah. Sementara itu, jika dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Anak yang dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam hidupnya.

Ada kecanggungan

Dalam budaya masyarakat Timur, masalah seks masih dianggap tabu sehingga sangat sulit untuk menanamkan pendidikan seks kepada anak sejak dini. Sejak dulu orangtua menganggap anak-anak akan tahu dengan sendirinya seiring dengan pertambahan usianya.Ada istilah `tidak pantas' yang ditanamkan pada anak jika ingin bertanya tentang seks.

Namun, zaman makin berkembang pesat. TV dan internet menyediakan banyak pengetahuan apa saja (termasuk seks) tanpa sensor. Orangtua tidak bisa lagi menjawab pertanyaan kritis anak dengan sembarangan. Contohnya, “Dari mana adik bayi ada?“ Mungkin dulu sudah pasti jawabannya dari pesawat. Sekarang iklan produk susu kehamilan jelas menggambarkan bayi ada di dalam rahim ibu. Internet menyajikan banyak video proses persalinan. Bahkan, video tak senonoh dengan mudahnya dapat diakses siapa saja.

Kekerasan yang kerap didapatkan anak, khususnya kekerasan seksual, sebenarnya dapat diminimalkan dengan pembekalan pengetahuan seks sejak usia dini. Dengan tidak membiarkan masalah seks menjadi hal yang tabu bagi anak, ia akan banyak tahu dan mampu menjaga diri lebih baik. Menurut seorang pakar kesehatan (http://www.alodoktor.com), pendidikan seks harus sudah diberikan sejak usia balita, hanya sebatas memberikan pengertian adanya perbedaan antara tubuh lelaki dan perempuan.

Ketika anak dalam usia sekolah, peran orangtua dan guru harus sejalan dan seirama. Anak sudah harus dijelaskan dengan benar tentang anatomi tubuh manusia. Dokter Boyke dengan jelas mengatakan memberikan perumpamaan pada alat kelamin justru ber akibat buruk pada pemahaman seks anak.

Nurul Chomaria (Pendidikan Seks untuk Anak, 2014), mengatakan pendidikan seks pada anak-anak bukan berarti mengajarkan soal hubungan badan, melainkan lebih pada upaya memberikan pemahaman kepada anak tentang organ seks mereka, juga naluri alamiah yang mulai muncul, serta bimbingan dalam menjaga dan merawat organ intim se suai dengan pemahaman usia mereka. Melalui pendidikan seks yang benar, anak-anak diharapkan dapat melindungi diri dan terhindar dari pelecehan, sementara para remaja diharapkan lebih bertanggung jawab dalam menjaga naluri seks mereka.

Toilet training

Pemberitaan seperti kasus pelecehan seksual atau penganiayaan anak/remaja dapat kita jadikan contoh untuk penanaman pendidikan seks terhadap anak. Kita, selaku orangtua maupun guru, dapat menjelaskan siapa saja yang boleh menyentuh tubuh anak (daerah vital), bagaimana cara menyelamatkan diri jika ada orang asing yang berusaha menyentuh tubuh anak secara tidak sopan, atau hal-hal tidak baik yang dilakukan dengan teman lawan jenis.

Pada anak usia SD, sekolah dapat memberikan pengetahuan seks melalui toilet training, yaitu anak diajari cara membersihkan diri dengan benar sehingga tidak sembarangan orang dapat menyentuh daerah intim si anak. Guru bidang sains dapat menjelaskan secara terang anatomi tubuh laki-laki dan perempuan dengan segala perbedaannya, menjelaskan menstruasi pada wanita, ereksi pada laki-laki, serta proses kehamilan. Jika guru merasa kurang mampu melakukannya, ia dapat mengundang ‘guru tamu’ (dokter kandungan) yang lebih kompeten dalam memaparkan pendidikan seks pada anak.

Pada anak usia SMP dan SMA, pendidikan seks secara gamblang dijelaskan dalam pelajaran biologi. Yang menjadi tantangan ialah bagaimana guru mampu mengemas pelajaran itu hingga tidak disalahartikan siswa. Memberikan contoh kasus faktual akan lebih mengena untuk anak remaja. Tujuannya ialah sebagai tindakan preventif agar anak tidak terjerumus pada pergaulan bebas.

Sudah saatnya sekolah menjadi sumber pengetahuan yang relevan mengenai seks pada anak, dan memasukkannya dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, anak tidak lagi merasa penasaran dan mencari tahu sendiri melalui berbagai media tanpa arahan dan bimbingan yang akhirnya menjerumuskan mereka pada pemahaman yang salah, atau ingin ‘mencoba informasi’ yang mereka peroleh.

SD Sukma Bangsa memberikan pengetahuan seks pada siswa baru melalui toilet training saat MOS (masa orientasi siswa), dan secara berkala diulang (selama kelas satu) untuk memupuk pemahaman dan pembiasaan. Sementara itu, untuk siswa yang sudah lebih dewasa, guru bidang sains yang berperan aktif sebagai sumber pengetahuan seks memberikan penjelasan tentang alat reproduksi dan cara menjaganya. Unit keamanan sekolah juga sangat ketat dalam hal penjemputan siswa SD. Hanya orangtua atau keluarga yang dikenal yang diperbolehkan membawa pulang anak. Jika si penjemput tidak dikenal, satpam memastikan ke guru apakah siswa diperbolehkan pulang.

Saya juga seorang guru biologi, dan ketika mengajar pada bab reproduksi (kelas 9 dan 12), saya melakukan jajak pendapat dengan siswa dan melakukan diskusi mengenai cara menjaga kesehatan alat reproduksi serta manfaatnya. Saya meminta mereka mencari berbagai informasi melalui media cetak maupun elektronik tentang kasus-kasus yang berkenaan dengan seks, yang kemudian juga akan menjadi bahan diskusi di kelas. Selain itu, sekolah Sukma Bangsa Pidie juga bekerja sama dengan dinas kesehatan kabupaten setempat untuk memberikan sosialisasi kesehatan reproduksi bagi siswa SMP dan SMA.

Anak yang sudah memiliki pemahaman seks dengan baik tidak akan dengan mudah dikelabui para predator anak. Rusaknya generasi bangsa akan menjadi awal hancurnya negara. Orangtua, guru, dan seluruh lapisan masyarakat harus menjadi kontrol bagi perilaku anak sehingga tidak akan ada lagi kasus penganiayaan, pelecehan seksual, dan pembunuhan, terutama pada anak. ●