Minggu, 08 Mei 2016

Paradigma Baru Pendidikan Tinggi

Paradigma Baru Pendidikan Tinggi

Asep Saefuddin ;   Rektor Universitas Trilogi;  Guru Besar Statistika FMIPA IPB
                                               MEDIA INDONESIA, 03 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

UNIVERSITAS di seluruh dunia ini ialah tempat berkumpulnya orang-orang pintar, para intelektual, bahkan para filsuf. Tingkat keleluasaan berpikir kelompok itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat biasa. Karena itu, dikenal istilah-istilah seperti kebebasan akademik, kebebasan mimbar, dan otonomi universitas. Kebebasan berpikir itu memang diperlukan sebagai syarat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada saat teknologi informasi belum secanggih saat ini, dosen bisa dikatakan sebagai sumber utama pembelajaran. Dosen menjadi tempat bertanya dan jawaban seputar ilmu pengetahuan. Sumber belajar kedua ialah perpustakaan dengan buku-buku teks (text books), karya ilmiah dosen atau mahasiswa, dan jurnal-jurnal. Semuanya berbentuk hard copy.
Tidak ada bentuk virtual. Kalaupun ada, paling modern dalam bentuk pita dan disket yang disimpan di tempat khusus, gudang data secara fisik, bukan virtual seperti cloud atau sejenisnya. Artinya, perpustakaan secara fisik sangat penting. Kampus tanpa perpustakaan seakan makhluk tanpa jantung. Tidak ada denyut kehidupan. Itulah kehebatan kampus pada saat pola teacher-centered learning.

Penulis merasakan peranan dosen dan perpustakaan itu pada saat kuliah S-1 di IPB (1976-1980), S-1 di Universitas Paris XI Orsay Prancis (1984-1986), dan S-2/S-3 di Universitas Guelph Kanada (1990-1996). Mahasiswa umumnya ialah generasi baby boomers yang umumnya gagap teknologi. Waktu di IPB dan Orsay, nuansa virtual masih belum terasa.
Berbeda dengan suasana di Guelph, arah-arah ke pemanfaatan teknologi informasi sudah mulai muncul. Internet saat itu sudah ada, tapi masih sebatas e-mail berupa tulisan (text) tanpa gambar. Sistem operasi komputer masih lambat dan terbatas walaupun denyut-denyut orientasi ke arah komputerisasi sudah mulai marak. Mahasiswa Indonesia di luar negeri sudah mulai berkomunikasi melalui e-mail dengan grup-grup diskusi milist sampai ke berbagai negara. Kartu nama juga sudah mencantumkan alamat e-mail.

Para dosen sudah mewajibkan mahasiswa untuk menganalisis data yang sumbernya diambil dari server kampus. Mahasiswa memperoleh alamat e-mail dan kata sandi untuk akses ke sumber data. Sivitas akademika memanfaatkan komputer kampus (mainframe) secara terpusat melalui CMS (central management system). Bila dibandingkan dengan keadaan saat ini memang masih jauh. Akan tetapi, proses pembelajaran saat itu sudah menggunakan pola student-centered learning. Artinya, paradigma pendidikan sudah mulai berubah. Dosen tidak lagi bertindak sebagai sumber utama belajar. Mereka condong menjadi motivator dan fasilitator.

Pengajaran memang masih ada, tetapi, selain memegang buku teks, dosen wajib menyampaikan contoh-contoh kasus dari hasil riset mereka bersama mahasiswa pascasarjana atau peserta postdoctoral. Karena itu, pengajaran dan riset menjadi satu kesatuan. Pada dekade 1990 itu sudah terjadi pergeseran paradigma dari universitas pengajaran ke universitas riset.

Internet of things

Berbeda dengan generasi X apalagi generasi baby boomers, saat ini IoT (internet of things) sudah masuk ke berbagai sektor kehidupan, tidak saja masalah ekonomi. Pada dekade 1990 memiliki alamat e-mail sudah menjadi tanda melek internet. Itu pun masih terbatas di kalangan orang tertentu. Saat ini kita bisa saksikan hampir semua pelajar SMA, SMP, bahkan SD sudah mampu mengakses berbagai informasi melalui telepon cerdas. Pemuda saat ini sering disebut generasi TGIF (Twitter, Google, Instagram, dan Facebook) atau FANG (FB, Alibaba, Netflix, Google).
Pada suatu pertemuan dengan mahasiswa, saya menerjemahkan TGIF sebagai thank God it's Jum'at, mereka pada tertawa. Kelebihan generasi TGIF/FANG itu ialah kemudahan mereka untuk learn, unlearn, dan relearn. Itu berbeda dengan generasi X dan baby boomers yang cenderung konservatif, sulit menerima perubahan.

CMS yang dulu menandakan manajemen sistem berbasis mainframe, tetapi era saat ini CMS ialah cloud, mobile, dan social media. Melalui CMS terjadi revolusi dalam berbagai fasilitas yang berkaitan dengan data dan operasinya. Berbagai informasi dan layanan iklan sudah tersimpan secara murah melalui CMS. Data pun sudah semakin besar, cepat, beragam, dan tak terstruktur yang saat ini dikenal dengan istilah big data.

Para ahli yang berkecimpung dengan big data itu pun bukan orang statistik saja. Bidang keilmuannya, dikenal sebagai data science, isinya sudah semakin kompleks. Diperlukan kekuatan matematika, statistika, informatika, dan kemampuan daya analisis secara transdisiplin.

Bila dunia bisnis sudah terbiasa dengan IoT, sudah barang tentu dunia kampus jangan hanya menjadi penonton. Tidak bisa lagi melakukan proses pembelajaran dengan cara-cara lama berbasis teacher-centered learning. Namun, harus masuk pola student-centered learning atau bahkan community and student centered learning. Kampus tidak bisa lagi mengklaim sebagai pusat ilmu pengetahuan. Saat ini, masyarakat pun sudah semakin cerdas dan banyak kreasi yang dimilikinya. Misalnya fenomena Go-Jek, jual beli daring, KTP-E, e-passport, dan banyak lagi penggunaan internet untuk barang dan jasa ini (internet of things).

Ubah paradigma

Dunia universitas di luar sudah marak dengan pola e-learning.
Generasi FANG bisa menggali ilmu pengetahuan melalui MOOCs (massive on-line open courses) yang bisa diperoleh secara gratis.
Banyak kampus besar WCU (world class university) yang tergabung ke dalam coursera, yakni suatu grup yang memanfaatkan MOOCs untuk memperoleh sertifikat atau bahkan gelar kesarjanaan dari universitas yang ada pada coursera. Mengapa coursera perlu kampus? Karena pola MOOCs digabung proses pembelajaran peer dan diskusi secara fisik dengan dosen universitas pemberi gelar atau sertifikat.

Kampus di Indonesia saat ini belum ada yang bergabung dengan coursera. Banyak faktor penyebab hal itu yang bermuara pada paradigma pendidikan kita masih condong ke mindset lama. Kita masih tabu dengan virtual learning, pendidikan jarak jauh, pendidikan kelas jauh. Kita takut bahwa pola itu tidak bermutu yang hanya menghasilkan gelar abal-abal.
Kita ngeri soal itu sehingga banyak sekali regulasi-regulasi yang memproteksi (baca: mengekang) perguruan tinggi.

Kalaupun ada, pola MOOCs harus dilakukan pemerintah (Kementerian Ristek dan Dikti). Selalu ada anggapan bahwa pemerintah lebih bisa daripada universitas. Kebiasaan itulah yang menyebabkan kampus-kampus Indonesia telat mengantisipasi perubahan zaman.