Rabu, 11 Mei 2016

Lucifer

Lucifer

Trias Kuncahyono ;   Penulis Kolom KREDENSIAL Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 08 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Terakhir kali Manasseh Allen melihat sepupunya, dua tahun lalu, dalam sebuah pesta perkawinan keluarga. Sepupunya, Maryamu Wavi, gadis yang lagi beranjak remaja. Maryamu gadis pemalu. Rajin sekolah. Setelah pesta perkawinan selesai, gadis remaja itu segera kembali ke sekolah untuk belajar menghadapi ujian.

Beberapa hari kemudian, 14 April 2014, tersiar kabar kelompok Boko Haram menyerang sekolah Maryamu di Chibok, sekolah menengah perempuan, milik pemerintah. Chibok adalah ibu kota Negara Bagian Borno, Nigeria, yang terletak sekitar 860 kilometer sebelah timur laut Abuja, ibu kota Nigeria.

Boko Haram-yang oleh PBB dimasukkan dalam kelompok teroris-tidak hanya menyerang sekolah itu. Mereka juga membakar gedung sekolah dan menculik murid-murid sekolah: 276 orang! Maryamu termasuk yang diculik. Sejak saat itu, tidak jelas nasib murid-murid perempuan tersebut.
Maryamu adalah satu dari sekian banyak perempuan dan gadis remaja yang diculik Boko Haram. Jumlah pasti berapa yang diculik tidak jelas. Namun, korban penculikan diperkirakan berjumlah antara 500 dan 2.000 perempuan dan anak-anak (laki-laki dan perempuan) sejak tahun 2012 (Unicef).

Masih menurut Unicef, sejak Mei 2013, sebanyak 2,3 juta orang terpaksa mengungsi, tercerai berai, pisah dengan keluarga. Hanya dalam tempo satu tahun, jumlah anak yang tercerai berai menjadi pengungsi naik 60 persen, dari 800.000 orang menjadi 1,3 juta jiwa.

Selama ini, nasib korban penculikan Boko Haram tidak jelas. Mereka kesulitan keluar. Para korban penculikan biasanya diperistri para anggota Boko Haram atau kalau menolak dijadikan istri, dijual sebagai budak seks. Budak seks! Anak-anak laki-laki yang diculik dicuci otaknya. Mereka diperintahkan menyerang keluarga mereka sendiri untuk menunjukkan loyalitas mereka terhadap Boko Haram.

Penderitaan para perempuan korban penculikan tidak berhenti di sini. Apabila mereka dilepaskan, tidak bisa serta-merta bergabung kembali ke keluarga atau kelompok sukunya. Mereka sudah dianggap kotor. Menurut kepercayaan rakyat, dalam tubuh mereka telah mengalir "darah kotor" (bad blood) dari para penculik. Mereka sering disebut sebagai "istri Boko Haram", Sambisa women, "darah Boko Haram", dan "Annoba" (epidemik).

Orang-orang seperti itu, tidak diterima masyarakat lagi, tidak diterima keluarganya lagi. Apalagi yang sudah hamil. Masyarakat khawatir dan takut, anak yang akan lahir dari perempuan korban penculikan Boko Haram akan seperti para anggota Boko Haram. Mereka dianggap "dubuk di antara anjing". Bahkan, saking takutnya akan terkena pengaruh jahat Boko Haram, mereka mengatakan, "anak seekor ular, ya ular". Itu untuk menggambarkan bahwa anak perempuan korban pemerkosaan akan "mewarisi" kejahatan pemerkosa. Seperti ayahnya, anak-anak mereka akan berbuat seperti dubuk dan memakan anjing-anjing yang ada di sekitarnya.

Boko Haram, penebar bencana; penebar malapetaka. Kelompok bermantel agama ini menebarkan teror di Nigeria dan negara tetangga. Kenyataan seperti itulah yang kemudian orang berpendapat, "Bukankah humanisme dan kearifan lokal akan lebih baik menggantikan agama supaya orang tidak mencari pendasaran teologis dan pembenaran simbolis dari Tuhan dalam melakukan kekerasan dan pembunuhan" (Haryatmoko : 2014). Padahal, pembunuhan apa pun alasannya tidak akan dibenarkan oleh rasa kemanusiaan, oleh manusia yang berhati.

John Micklethwait, Pemimpin Redaksi Bloomberg LP sejak 2015 (sebelumnya Pemimpin Redaksi majalah The Economist), bersama Adrian Wooldridge, kolumnis, dalam karya mereka, God is Back, menulisYou don't need God for a war (Anda tidak perlu Tuhan untuk berperang).

Namun, kita menyaksikan sekarang ini, ada yang menggunakan mantel agama, membawa-bawa nama Tuhan untuk meramaikan panggung politik global, untuk menghukum orang lain tanpa dasar hukum; untuk menunjuk dan menuding orang lain sebagai orang yang tidak ber-Tuhan; dan kemudian mencabut nyawa orang lain. Apa hak mereka mencabut nyawa orang lain? Inilah tindakan melawan yang mahakuasa. Tindakan seperti inilah yang dahulu kala dilakukan Lucifer, malaikat penentang Allah, untuk meraih kekuasaannya.

Kejahatan seperti itu pula yang dilakukan Boko Haram terhadap anak-anak perempuan dan laki-laki di Nigeria. "Barangsiapa melakukan kejahatan, seharusnya merasa malu terhadap dirinya sendiri," demikian kata filsuf Yunani, Demokritos (460-370 SM). Namun, mereka, Boko Haram, tak peduli dengan omongan seperti itu karena kekerasan dan kejahatan lahir di tempat di mana kata-kata tidak lagi memiliki daya. Bukan hanya kata-kata yang tidak memiliki daya, melainkan suara hati pun sudah tidak lagi bergema karena dikuasai kegelapan. ●