Rabu, 11 Mei 2016

"Now & Then"

"Now & Then"

Samuel Mulia ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 08 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kereta api mulai bergerak semakin cepat meninggalkan Jakarta menuju Surakarta. Meski bokong terasa seperti duduk di atas kompor saking lamanya perjalanan itu, saya toh harus mengakui bahwa itu tak mengurangi sedikit pun kesenangan menikmati goyangan kereta api.
  
"Now"

Di tengah perjalanan panjang itu, di tengah bunyi kereta dan pemandangan sawah dengan langitnya yang terik, saya mulai berpikir tentang sebuah pertanyaan yang beberapa hari sebelum keberangkatan itu telah mengisi ruang di kepala. "Where do you see yourself in 5 years?"

Selama nyaris sembilan jam perjalanan, saya tak bisa menjawab pertanyaan itu. Surakarta diguyur hujan ketika saya tiba di sore hari, perut menjadi keroncongan dan kota ini adalah tempat paling maknyus membuat perut "meledak" karena makanan tradisionalnya yang lezat. Saya makin lupa atas pertanyaan itu.

Dari Surakarta saya menuju Lasem keesokan harinya, melalui Purwodadi tempat saya menikmati swike asli Purwodadi untuk pertama kali. Ironisnya, selama ini, saya menyantap makanan itu di Jakarta tak jauh dari tempat tinggal saya. Menempuh perjalanan selama lima jam menembus jalan yang sedang diperbaiki benar-benar menuntut kesabaran yang tinggi.

Matahari yang terik dan menyengat menguasai Lasem. Saya duduk di lantai di teras belakang yang luas sebuah toko batik. Karena rumah tua itu sangat terbuka, angin sepoi masuk dengan bebas dan lumayan bisa mendinginkan ruang dan badan yang lengket karena keringat. Sambil menikmati begitu banyak pilihan batik yang mampu memorak-porandakan isi dompet, pemilik toko kain mulai bercerita tentang usahanya itu.

"Anak-anak sudah enggak mau nerusin usaha ini. Tinggal saya sama bapak saja," jelas wanita yang tak terlalu tinggi itu dengan suara datar. "Semua sudah punya usaha sendiri-sendiri," ceritanya lagi. Selesai ia menjelaskan itu, tiba-tiba pertanyaan di atas itu muncul kembali, padahal saya sudah tak ingat sama sekali.

Saya tak menanyakan wanita itu, bagaimana ia melihat dirinya dalam lima tahun ke depan? Ataukah ia memang pernah mempertanyakan itu kepada dirinya, dan jawabannya adalah tinggal di rumah tua itu bersama suami dan para pembatiknya.

Dengan demikian, mau lima atau 10 tahun, ia akan melihat dirinya di teras belakang rumah memandang hasil usahanya, sambil tak lelah mengobrol sambil menyeruput sirop merah yang disajikan setiap kali ada tamu atau pelanggannya yang datang.

"Then"

Terus bagaimana dengan saya? Di mana dan bagaimana saya melihat diri sendiri dalam lima tahun ke depan? Apakah saya akan menjual usaha saya sehingga di masa yang akan datang itu saya bisa melihat diri saya sedang menikmati apa yang belum sempat saya nikmati selama ini.

Kalau seandainya saya memiliki anak, dan anak saya tak berniat meneruskan usaha saya, apakah dalam waktu lima tahun ke depan, saya akan melihat diri saya memenuhi hari-hari dengan penyesalan yang sangat, mengapa anak saya, kok, tidak ada yang berniat meneruskan usaha yang dirintis setengah mati?

Kalau seandainya saya menikah, bagaimana saya melihat perjalanan perkawinan saya dalam lima tahun ke depan? Masihkah saya memupuk rasa cinta agar cinta saya tak keburu layu di tengah jalan? Ataukah saya melihat bahwa saya akan tetap menjadi simpanan dan pengganggu perkawinan orang karena enaknya setengah mati?

Bagaimana saya melihat kondisi kesehatan saya dalam waktu lima tahun ke depan? Apakah saya ingin menikmati masa yang lebih tua itu dengan sesak napas atau masih mampu berjalan dengan tegap? Bagaimana saya melihat diri saya lima tahun ke depan, apakah saya akan masih ingin pindah-pindah pekerjaan atau punya usaha sendiri?

Apakah dalam masa lima tahun ke depan, saya melihat diri saya masih menjadi manusia yang jahat? Sebab, kejahatan yang saya lakukan itu membuahkan banyak aset di dalam dan luar negeri?

Apakah dalam waktu lima tahun ke depan saya akan melihat diri saya sebagai manusia yang telah berhasil mengubah sikap dan tabiat. Dari sombong menjadi tinggal seperempatnya. Dari influencer atau penasihat keuangan yang menipu menjadi influencer atau penasihat yang bertobat?

Siang sehabis menyantap kepiting terakhir di kota Lasem, saya menuju Kota Semarang ingin menyantap nasi bakmoy sesegera mungkin. Terik matahari makin menyengat meski langit biru bersih dan indah dipandang selama perjalanan itu. Sejujurnya, pertanyaan itu tak sulit untuk dijawab.

Kalau saja saya sejenak mau melihat kepada cara saya hidup, bagaimana saya mengelola keuangan, mengelola kesehatan, sampai mengelola mulut yang tak bertulang, paling tidak saya tahu gambaran kasarnya, kalau dalam waktu lima tahun saya akan ada di mana dan dalam keadaan seperti apa.

Pertanyaan macam itu seharusnya menjadi jam weker, apakah di masa depan itu saya mau menjadi pelanggan rumah sakit, menjadi pengutang yang dikejar-kejar, atau tidur di hotel prodeo. Bukankah ada ungkapan, kalau apa yang saya tabur, itu yang nanti akan saya tuai?