Selasa, 17 Mei 2016

Kuliah Sambil Kerja

Kuliah Sambil Kerja

Komaruddin Hidayat ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                    KORAN SINDO, 13 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Bisa studi lanjut ke luar negeri itu menjadi idaman bagi banyak mahasiswa. Orang membayangkan betapa enak dan kerennya kalau bisa memperoleh beasiswa ke negara maju.

Tentu saja bayangan itu tidak salah, namun bagi mereka yang menjalani akan memiliki pengalaman dan cerita lain. Adalah hal yang lumrah, kuliah sambil bekerja untuk mencari tambahan biaya. Terlebih jika mengambil program pascasarjana dengan disertai istri dan anak, beban psikologis dan ekonomis cukup berat dirasakan yang berimplikasi pada kelancaran dan prestasi studinya. Secara intelektual, para penerima beasiswa ke perguruan tinggi di Barat, misalnya, mesti melewati persaingan yang berat dan ketat.

Oleh karenanya, mereka yang telah lolos ujian seleksi bahasa dan potensi intelektual pasti bagus kualitasnya. Jadi, sesungguhnya masalah yang lebih berat berakar pada masalah nonakademis. Banyak tantangan dan hambatan yang mesti dihadapi oleh mahasiswa di luar negeri. Tradisi belajar di Timur Tengah berbeda dari perguruan tinggi di Barat. Di samping iklim, ada pula faktor makanan.

Orang Indonesia sulit berpisah dari makan nasi. Juga kecenderungan untuk selalu berkumpul dengan teman sedaerah. Kebiasaan ini akan menghambat proses sosialisasi memasuki pergaulan internasional. Akibatnya, sekalipun tinggal di luar negeri, mayoritas waktunya diisi dengan berpikir dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Makanya ada beberapa mahasiswa yang memilih berkawan dekat dengan orang asing agar lebih terasa belajar di luar negeri dan juga untuk memperlancar bahasa.

Mahasiswa yang membawa keluarga, istri dan anak misalnya, umumnya istri mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang tambahan karena dana beasiswa yang diterima suami tidak cukup. Ada yang jadi baby sitter, kerja di restoran, jualan makanan, dan sebagainya. Tidak jarang ketika datang libur musim panas selama tiga bulan suami juga bekerja musiman. Saya sendiri pernah kerja pada KBRI di Jeddah Arab Saudi selama musim haji.

Lama kerja 40 hari di bagian informasi haji. Tugas saya mencatat jamaah haji yang sakit dan meninggal lalu tiap malam mengirim berita ke Jakarta. Selama kuliah di Turki saya tiga kali menjadi tenaga musim haji, dengan honor 50 riyal per hari. Jumlah yang lumayan untuk tambahan biaya hidup dan membeli buku serta keperluan lain. Beruntunglah mereka yang memperoleh beasiswa cukup sehingga waktunya hanya diisi untuk studi.

Sekali lagi, problem belajar di luar negeri cukup beragam. Ada teman yang studi di Belanda dan gagal di tengah jalan karena bermasalah dengan profesornya yang menurutnya kaku, sulit diajak berdiskusi, memandang rendah mahasiswa Indonesia sebagai inlander. Profesor pembimbing disertasi pada umumnya memang demanding, ingin perfeksionis karena kalau mahasiswa bimbingannya tidak bagus hasilnya, yang menjadi taruhan nama baik dirinya.

Ini berbeda dari profesor pembimbing di Indonesia yang kurang serius dan kurang fokus karena sambil mencari kerja sampingan. Kembali ke soal kerja, setiap datang musim haji KBRI di Arab Saudi selalu membuka lowongan kerja bagi mahasiswa Indonesia khususnya di Timur Tengah mengingat dibutuhkan tenaga kerja untuk membantu melayani jamaah haji. Keuntungan bagi mahasiswa, di samping memperoleh honor, juga dapat menunaikan ibadah haji.

Bagi KBRI juga diuntungkan karena mahasiswa menguasai bahasa Arab dan memahami tata cara ibadah haji serta lingkungan sosial Arab. Umumnya mahasiswa di Timur Tengah pernah bekerja sebagai temus haji. Sebuah istilah yang sangat akrab, maksudnya tenaga musim haji. Peminat menjadi temus haji ini juga menarik mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di India dan Eropa. Mungkin juga sekarang sudah merembet ke Amerika.

Banyak cerita suka dan duka kuliah di luar negeri. Terutama ketika keluarga sakit, bersamaan tugas kuliah yang menuntut kerja keras, sementara uang beasiswa tidak mencukupi. Lebih stres lagi ketika sudah diperingatkan batas waktu beasiswa mendekati berakhir, padahal tugas riset dan penulisan disertasi belum selesai. Bagi kita yang di Indonesia selalu membayangkan kuliah di luar negeri itu serbamewah dan menyenangkan. Ini bisa dipahami karena setelah tamat dan kembali ke Indonesia jarang yang mau bercerita pengalaman pahitnya. Bahkan ada yang sengaja menutupinya.

Saya merasa beruntung karena sejak kuliah strata satu di Jakarta memang sambil bekerja. Jadi, sudah punya tabungan mental bagaimana rasanya menjadi mahasiswa miskin, yang kemudian justru saya jadikan cambuk untuk menaklukkan berbagai rintangan yang menghadang. ●