Minggu, 15 Mei 2016

Duterte dan Warisan Kekerasan

Duterte dan Warisan Kekerasan

Geradi Yudhistira ;   Dosen Sejarah Politik Asia Tenggara,
Universitas Islam Indonesia
                                               MEDIA INDONESIA, 11 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

RODRIGO Duterte telah terpilih sebagai presiden baru Filipina. Sebagai seorang pemain baru dalam kancah politik nasional, kemenangan Duterte telah diramalkan sebelumnya. Selain karena rekam jejaknya menjabat sebagai Wali Kota Davao, Duterte juga mengisi kekosongan yang tidak dimiliki pendahulunya Benigno ‘Noynoy’ Aquino III. Dengan kata lain, kemenangan Duterte merupakan wujud protes masyarakat terhadap kepemimpinan Noynoy.

Kepemimpinan Noynoy bukanlah tanpa prestasi. Citra Noynoy sering kali direpresentasikan sebagai seorang yang bersih, seorang flamboyan, pintar, dan memiliki kemampuan komunikasi massa yang baik. Dengan visi dan gaya kepemimpinannya, Noynoy mampu mengundang investasi dalam jumlah besar masuk ke Filipina. Data dari UNCTAD menyebutkan investasi langsung luar negeri mencapai US$57 miliar pada 2014. Angka ini merupakan investasi tertinggi sepanjang sejarah Filipina.

Pencapaian ekonomi lainnya ialah dalam kurun waktu enam tahun, pertumbuhan ekonomi Filipina rata-rata mencapai 6,2%. Rekor ini sangat baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata 4% selama 1999-2009. Singkatnya, Noynoy telah mentransformasikan Filipina yang dijuluki sebagai ‘Orang Sakit di Asia’ masuk ‘Klub Macan Asia’.

Jika Noynoy dikatakan berhasil, masyarakat tentu akan memilih orang yang memiliki gaya seperti Noynoy atau memilih Wakil Presiden Jejomar Binay, sebagai presiden selanjutnya. Sebaliknya, masyarakat malah memilih Duterte dengan citra ‘penjagal’, tanpa kompromi dan cenderung tidak memiliki konsep ekonomi untuk menjadi Presiden Filipina.

Jika menjelaskan visi ekonomi masa depannya, Duterte selalu merujuk pada rekam jejaknya sebagai wali kota dalam membantai para pelaku kriminal di Davao City untuk menjaga stabilitas Kota. Davao menjadi kota paling aman di Asia Tenggara. Ketika ia menjelaskan visi politik luar negeri juga setali tiga uang. Duterte berulang kali dinilai blunder dengan jawaban konfrontatif nan provokatif ketika ditanya soal hubungan bilateral Filipina dengan Tiongkok dan Singapura.

Ketakutan dan kekerasan

Fenomena di Filipina memberikan pemahaman bahwa data angka dan fakta lapangan ialah dua hal yang dipisahkan oleh imajinasi masyarakat. Prestasi Noynoy dalam ekonomi ialah sebuah sisi yang patut diapresiasi, tapi imajinasi masyarakat atas sebuah pemerintahan idaman ialah sebuah sisi lain. Dalam hal ini, apa yang dialami dan apa yang dilihat masyarakat ialah faktor utama pembentuk imajinasi.

Masyarakat Filipina hidup dengan angka kemiskinan dan kriminalitas yang tinggi. Sekitar 25% dari seluruh masyarakat Filipina hidup dalam kemiskinan yang akut sehingga mendorong tingginya kriminalitas yang merata dari Luzon hingga Mindanao. Mereka harus berada dalam ancaman kriminalitas, perampokan, hingga pemerkosaan.

Otoritas Statistik Filipina seperti dikutip di Rappler, dalam laporannya pada 2015 menyebutkan, angka kriminalitas di Filipina dikategorikan tinggi dan cenderung meningkat. Pada 2014, angka kriminalitas yang terlaporkan mencapai 1,16 juta kejadian, meningkat hampir 500% dari 2012 yang hanya 217 ribu. Hal tersebut mendorong secara signifikan jumlah rasio angka kriminalitas penduduk, yaitu 1.004 kriminalitas per 100 ribu penduduk.

Hal tersebut belum habis jika membicarakan kekerasan politik yang hampir terjadi setiap tahun. Sejarah politik Filipina tidak bisa dilepaskan dari pembunuhan dan kekerasan terhadap lawan politik, sejak kolonial Spanyol hingga pemerintahan Arroyo. Dalam level politik lokal, penindasan atas nama kekuasaan dan pembunuhan atas nama ideologi marak terjadi, terutama di Mindanao dan pulau-pulau lain di luar Manila. Salah satu yang paling besar ialah pembantaian 30 wartawan oleh Wali Kota Ampatuan di Provinsi Maguindanao, Mindanao, dengan alasan mengusik kepemimpinan.

Atas kekerasan yang terjadi, hampir di setiap ruang publik membuat masyarakat Filipina, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah terkurung sebuah rasa ketakutan. Hal tersebut membentuk sebuah imajinasi kolektif atas seorang pemimpin idaman.

Masyarakat membuat standar pemimpin yaitu dengan standar sebagai pahlawan pembebas. Pembebas dari cengkeraman ketakutan dan pembebas dari ancaman kekerasan, walau harus dilawan dengan kekerasan sekalipun. Rakyat Filipina tidak puas dengan pemerintahan sebelumnya yang korup dan menjalin hubungan mutualisme dengan pelaku kriminal kakap. Hukum tidak efektif.

Masyarakat yang diliputi ketakutan butuh kekuatan yang besar sebagai pahlawan super untuk membasmi ketakutan mereka. Di saat yang bersamaan, sosok Duterte tampil sebagai sosok nyata atas imajinasi tersebut. Dia tidak menawarkan konsep ekonomi mengawang ataupun jargon-jargon elitis. Dia hanya berjanji melakukan apa yang dilakukannya sewaktu jadi Wali Kota Davao: ‘kekerasan demi keamanan’. Kiprah ini ditunggu-tunggu bagi konstituennya meskipun akan berhadapan dengan para penggiat HAM.

Akhirnya, seberapa pun kebencian kita terhadap performa Duterte atas pelanggaran HAM-nya, kita harus mengakui bahwa rakyat Filipina telah memilih pemimpinnya melalui cara yang demokratis. Paling tidak, terpilihnya Duterte merupakan sebuah cerminan masyarakat yang ingin terlepas dari ketakutan. Jika memang dia bertindak otoriter, rakyat bisa meluncurkan rudal People Power jilid selanjutnya. Gud lak sa Filipino!