Selasa, 08 Maret 2016

Tubuh (LGBT) dalam Politik Identitas

Tubuh (LGBT) dalam Politik Identitas

Seno Gumira Ajidarma ;   panajournal.com
                                                 KORAN TEMPO, 01 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dunia modern menghadirkan gejala yang berakibat fatal, yakni bahwa ilmu pengetahuan terbebani mitos bernama kebenaran. Disebutkan, misalnya oleh Pakde Foucault, bagaimana wacana-wacana ilmu pengetahuan melakukan produksi kebenaran yang kemudian berfungsi sebagai norma. Ilmu pengetahuan menentukan apa itu berat dan tinggi badan, tekanan darah, serta berapa pasangan seksual untuk kelompok usia dan jenis kelamin tertentu yang dianggap normal.

Subyektivikasi atawa penafsiran subyektif beroperasi melalui internalisasi norma-norma. Manusia modern melakukan modifikasi dalam usaha tanpa akhir untuk memperkirakan yang normal, dan dalam proses ini menjadi jenis-jenis subyek tertentu. Norma-norma menjauhkan obyektivikasi dengan mereduksi individualitas menjadi suatu ukuran umum. Manusia tersusutkan menjadi titik atau kurva.

Gejala ini terbentuk oleh hubungan antara kuasa dan pengetahuan terhadap ilmu-ilmu humaniora, tempat subyek didudukkan sebagai obyek kemungkinan pengetahuan. Meski latar kepercayaan, yang terbentuk secara sosial, tak terhindarkan dalam membentuk praktek ilmiah sampai tahap tertentu, dalam wilayah ilmu-ilmu humaniora pengaruhnya kuat dan berbahaya. Pemahaman tak terucapkan tentang gender, ras, dan kelas malah kurang berbahaya dibanding usaha menafsir perilaku Homo sapiens sebagai partikel sub-atomik, ketimbang sebagai manusia berjiwa.

Inilah peringatan agar tidak mengadopsi suatu latar kepercayaan secara terpisah, seperti berasumsi bahwa terdapat universalitas kemanusiaan, yakni adanya kebenaran soal manusia yang bisa dipercaya dalam kebudayaan mana pun pada zaman kapan pun. Ketika khalayak memastikan bahwa ada yang selalu benar bagi seluruh umat manusia, terciptalah norma yang berlawanan dengan perilaku manusia yang bisa diukur dan dipertimbangkan. Dengan memapankan suatu sudut pandang ilmiah atas seksualitas manusia dan memandangnya sebagai alamiah bin universal untuk beranak-pinak, misalnya, secara efektif terpinggirkanlah sejumlah besar perilaku seksual.

Keyakinan atas terdapatnya universalitas kemanusiaan membuat manusia percaya bahwa tubuh mematuhi hukum-hukum eksklusif fisiologis, sehingga terlepas dari pengaruh sejarah. Padahal-masih menurut Pakde Foucault-itu tidak betul. Tubuh manusia hanya eksis di dalam khalayak. Tubuh manusia, misalnya saja, dibentuk oleh norma-norma kesehatan, gender, dan keindahan. Tubuh secara konkret dibentuk oleh diet, olahraga, dan intervensi medis. Dengan kata lain, tubuh juga memiliki sejarahnya sendiri. Asal-usul tubuh adalah sejarah tubuh: secara tipikal mempertanyakan segenap penjelasan biologis murni dari suatu wilayah kompleks, seperti seksualitas, kegilaan, dan kriminalitas [Oksala, 2008 (2007): 52, 59].

Demikianlah universalitas kemanusiaan yang ditanamkan secara konstan tidak ditolak pada awalnya, tapi menjadi bulan-bulanan interogasi dengan pertanyaan radikal yang kritis ataupun historis. Namun, sebaliknya, mengingat hubungan-hubungan kuasa yang betapa pun telah membentuk suatu tipologi kelompok-kelompok sosial dengan kepentingan ideologisnya masing-masing, universalitas kemanusiaan yang sebagai logika tidak tahan uji itu terbukti tetap bertahan dengan tetap digunakannya tolok ukur ala kadarnya dalam usaha membangun wacana pengetahuan monolitik demi kesahihan hegemonik kelompok mana pun yang berjuang meraihnya.

Dengan begitu, baik kelompok dominan maupun kelompok-kelompok terbawahkan akan selalu mencari dan menjalankan suatu proyek yang memenuhi politik identitasnya. Apabila proyek identitas ini terasalkan dari ideologi yang bersesuaian dengan penanda-penanda universalitas kemanusiaan, maka bersamanya segala kelompok ini akan beroposisi, dalam suatu gradasi dari moderat sampai radikal, terhadap kelompok-kelompok terpinggirkan. Supaya identitasnya menjadi jelas, penanda-penanda yang ada dipertajam dengan mencari efek kontras dalam penghadapan kepada kelompok terpinggirkan, yang penanda-penanda dalam politik identitasnya tidak bersesuaian atau bahkan bertentangan dengan penanda-penanda universalitas kemanusiaan.

Namun, karena universalitas kemanusiaan sebenarnyalah tidak universal, segenap konflik sosial-politis dalam sejarah ataupun pada masa mendatang, yang bersumber dari masalah itu, adalah produk kedangkalan yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Ini membuat "kemenangan" kelompok-kelompok yang berjuang memunahkan penanda-penanda dalam politik identitas kelompok terpinggirkan, seperti kaum LGBT, menjadi kemenangan semu sahaja karena berangkat dan berpijak dari asumsi keliru. Kesemuanya itu jadi berganda karena politik identitas sendiri secara teoretis adalah pengingkaran terhadap fakta bahwa dalam situasi pasca-modern, identitas selalu sekaligus adalah kebergandaan identitas. ●