Jumat, 18 Maret 2016

Rupiah setelah Keputusan Bank Sentral Eropa

Rupiah setelah Keputusan Bank Sentral Eropa

Ronny P Sasmita  ;   Analis Ekonomi Politik Internasional Financeroll Indonesia
                                             MEDIA INDONESIA, 12 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PERTEMUAN Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Kamis (10/3), memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau suku bunga operasi pembiayaan kembali sebesar lima basis poin ke tingkat terendah nol persen. Tak pelak, Dewan Gubernur ECB dinilai telah mengejutkan pasar keuangan global dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan secara dramatis karena memutuskan untuk memangkas sejumlah suku bunga dan memperluas program pembelian aset.

Suku bunga untuk fasilitas pinjaman marjinal akan mengalami penurunan sebesar lima basis poin menjadi 0,25% dan suku bunga fasilitas deposito akan menurun 10 basis poin menjadi minus 0,4%, mulai dari 16 Maret 2016. Terlepas dari perubahan kebijakan terkait suku bunga, ECB juga memutuskan untuk memperluas pembelian aset bulanan sebesar 20 miliar euro menjadi 80 miliar euro mulai April.

Aset-aset yang memenuhi syarat untuk dibeli di bawah program pembelian aset juga telah diperluas hingga mencakup obligasi berdenominasi euro layak investasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan nonbank yang didirikan di kawasan Eropa. Stimulus itu bertujuan untuk memompa likuiditas ke pasar keuangan sekaligus menggerakkan perekonomian Eropa yang selama ini dinilai stagnan.

Empat target operasi pembiayaan kembali dalam jangka panjang (LTRO II), masingmasing dengan jatuh tempo 4 tahun, akan diluncurkan mulai Juni 2016. Presiden ECB, Mario Draghi, dalam konferensi pers, mengatakan pertumbuhan ekonomi Eropa akan membaik meskipun dikepung oleh berba gai persoalan, seperti anjloknya harga minyak dan pelambatan ekonomi Tiongkok.

Emas berjangka sebagai salah satu instrumen investasi berkategori safe haven langsung mendapat dorongan positif. Di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, komoditas emas berakhir lebih tinggi pada Kamis pascakeputusan ECB. Dorongan lahir dari kekhawatiran investor tentang prospek pelemahan di pasar Eropa setelah ECB memperluas program stimulus atau program pembelian aset.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman April naik US$15,4 atau 1,22% dan menetap di level US$1.272,80 per ons setelah rilis data keputusan rapat Dewan Gubernur ECB. Emas naik ke penutupan tertinggi sejak 2 Februari 2015 ketika emas berjangka berakhir di level US$1.276,90 per ons. Emas tentunya mendapat dukungan dari investor yang memburu aset-aset safe haven setelah prospek pasar ekuitas dianggap akan memburuk dan akan memperlambat pemulihan di pasar keuangan global.

Pun pernyataan Presiden ECB Mario Draghi juga langsung memicu penurunan di pasar ekuitas AS dan euro.

Dow Jones Industrial Average AS turun 127 poin atau 0,75% beberapa menit setelah rilis keputusan ECB. Indikator utama pasar saham Inggris, indeks FTSE 100 di London, juga ditutup turun 1,78% atau 109,62 poin ke level 6.036,70 poin pada sesi perdagangan hari Kamis (10/3).

Di pasar mata uang, dalam satu hari perdagangan yang sama, euro langsung membukukan keuntungan harian terkuatnya terhadap dolar sejak awal Desember tahun lalu. EURUSD memuncak di level $1,1218 per dolar Ame rika. Ini merupakan level tertinggi euro terhadap dolar sejak 15 Februari lalu. Dianggap sebagai reaksi mata uang yang membalikkan pelandaian tajam pada sesi-sesi perdagangan sebelumnya sehingga indeks dolar, ICE Dollar index DXY, parameter kekuatan dolar terhadap beberapa mata uang saingan utama dolar AS, turun 1% menjadi 96,2300.

Pelemahan dolar ini diperkirakan akan menjadi sentimen positif bagi rupiah dan diperkirakan akan memberikan pengawalan mantap pada arus dana asing yang masuk ke Indonesia, terutama ke pasar saham dan pasar keuangan dalam negeri. Pada penutupan perdagangan Jumat (11/3), rupiah bergerak fluktuatif dan ditutup terdepresiasi 23 poin atau 0,18% ke level Rp13.075 per dolar AS lalu bergerak di kisaran 13.034-13.118 per dolar AS. Angka pentupan di pasar spot ini berbeda tipis dengan kurs JISDOR Bank Indonesia, yakni rupiah hanya mampu parkir di level 13.087 per dolar pada sesi akhir perdagangan.

Kucuran dana program APP ECB yang baru saja diperluas, Quantitative Easing dari The Fed sejak krisis fi nansial 20082009 lalu, dan capital outflow dari Tiongkok dan Jepang, ditambah pula dengan susutnya nilai perdagangan barang dan jasa secara global, terbukti menimbulkan limpahan dana (Glut of Fund) ke dalam pasar finansial domestik. Dana itu menghampiri pasar fi nansial Indonesia untuk berbiak dan mendapatkan imbalan, baik da lam bentuk investasi portofolio (foreign portfolio investment) atau tawaran pinjaman yang umumnya berjangka waktu pendek dengan godaan suku bunga rendah sehingga secara temporer efek positifnya akan menyebabkan apresiasi nilai tukar rupiah (IDR) terhadap mata uang asing (terutama US$), serta menaikkan indeks harga saham gabungan di lantai Bursa Saham Indonesia.

Lalu bagaimana dengan keberlanjutan rupiah yang belakangan terpantau cukup kinclong? Harus diakui, penguatan rupiah sampai ke level 13.075 per dolar AS belakangan ini didorong oleh faktor eksternal, terutama pengaruh perekonomian Tiongkok, Amerika Serikat (pelemahan dolar, isu suku bunga the Fed, dll), penguatan temporer harga minyak dunia, dan saat ini ditambah lagi dengan isu pemangkasan suku bunga oleh ECB.

Sebagian besar dari faktor ini telah mendorong kenaikan investasi asing ke Indonesia, terutama ke pasar saham dan pasar sekunder. Namun demikian, fenomena ini juga menunjukkan bahwa rupiah masih rentan terhadap goncang an eksternal. Apresiasi rupiah boleh dikatakan hanya bersifat sementara sehingga untuk beberapa waktu ke depan masih sangat bergantung kepada perkembangan perekonomian Tiongkok, Amerika, minyak dunia, dan progres perekonomian global secara keseluruhan.

Ini akan menjadi pekerjaan rumah pemerintah bersama oto ritas moneter agar sentimen positif dari sisi eksternal yang kemudian membawa banyak investasi asing ke dalam negeri bisa dimanfaatkan secara maksimal. Bukan hanya untuk kebutuhan politik agar terlihat mampu mengendalikan nilai tukar, tapi lebih kepada tujuan jangka panjang yang berkelanjutan, terutama dalam rangka menjaga stabilitas mata uang agar dunia usaha memiliki kepastian dalam menetapkan asumsi-asumsi bisnis ke depan. Semoga!