Jumat, 11 Maret 2016

Pergeseran Basis Teritorial ISIS

Pergeseran Basis Teritorial ISIS

Ibnu Burdah ;  Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam;
Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta
                                                   JAWA POS, 27 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

NEGARA horor ISIS di Iraq dan Syria bisa saja tumbang dalam waktu dekat, satu atau dua tahun ini sebagaimana sesumbar beberapa petinggi militer AS. Namun, situs-situs konflik lain di wilayah Timur Tengah membuka ruang bagi membesarnya wilayat-wilayat mereka untuk menggantikan posisi Iraq dan Syria.

ISIS di Iraq dan Syria adalah ”pemerintahan” pusat dan basis teritorial utama mereka dua tahun terakhir. Namun, di luar wilayah itu, ISIS terus memperkuat kekuasaannya di berbagai wilayah konflik di Timur Tengah. Semakin besar konflik itu dan semakin kacau situasinya, ISIS akan semakin berkembang.

Dalam struktur pemerintahannya, ISIS di luar Iraq dan Syria yang sudah mengontrol teritorial luas dan membangun pemerintahan itu disebut dengan wilayat. Secara harfiah, wilayat adalah provinsi.

Di antara wilayat yang menonjol saat ini adalah wilayat Maghrib (Arab Barat) yang dipelopori oleh kelompok Anshar al-Syariah. Yakni, sempalan tandzim Al Qaeda yang kemudian berbaiat kepada khalifah ISIS itu. Mereka bersaing dengan kelompok al-Murabithun yang tetap setia dengan pimpinan Al Qaeda Ayman al-Dzawahiri.

Kekuasaan wilayah Maghrib berpusat di Sirte, Libya, tempat kelahiran Muammar Qadhafi. Sebagaimana di Irak yang memperoleh dukungan kuat dari pentolan pemerintah Sad- dam Hussein dan pendukung fanatiknya, ISIS wilayah Maghrib juga, tampaknya, memperoleh dukungan besar dari loyalis Qadhafi.

Kekacauan luar biasa di Libya, vakumnya kekuatan ”militer”, dan konflik ruwet yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan, milisi telah menyediakan ladang sangat subur bagi tumbuh dan berkembangnya ISIS. Kini ISIS Wilayat Libya dipandang sebagai alternatif bagi pemerintahan pusat ISIS ke depan jika ISIS pusat di Iraq dan Syria tumbang. Kota Sirte berpeluang menjadi ”ibu kota” khilafah horor itu, menggantikan Mosul dan Raqqa.

Di samping ofensif udara sporadis, koalisi militer Barat-Afrika untuk melawan ISIS sedang dipersiapkan. Baru-baru ini 30 negara Barat dan Afrika melakukan latihan militer bersama di Senegal untuk tujuan tersebut (Aljazeera 26/2). Koalisi tersebut mirip dengan koalisi di Arab Timur yang telah melibatkan 80 negara untuk melumat ISIS.

Wilayat ISIS lain yang menonjol adalah wilayah Sinai. Mereka semula menyebut kelompoknya sebagai Anshar Baitil Maqdis sebelum kemudian berbaiat kepada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi dan menyebutnya sebagai ISIS wilayah Sinai. Kelompok itu sangat aktif melakukan perlawanan kepada aparat polisi dan militer Mesir. Kendati memperoleh tekanan luar biasa dari militer Mesir dan dibantu Israel, kelompok tersebut mampu bertahan. Bahkan, kelompok itu mampu berkembang karena gara dukungan banyak lapisan masyarakat Sinai yang terepresi oleh kebijakan rezim militer Mesir.

Kelompok itu digadang-gadang akan membesar. Sebab, di wilayah tersebut berada Palestina dan Israel. Bisa memberikan perlawanan terhadap Israel tentu memiliki prestise tersendiri bagi kelompok ini, terutama dalam persaingan mereka dengan kelompok-kelompok jihadis yang lain.

Namun, perkembangan kelompok itu mungkin tak bisa secepat di Libya. Sebab, militer Mesir dan Israel secara umum mampu mengontrol wilayah Sinai. Perlawanan yag dilakukan wilayah tersebut hanyalah semacam gangguangangguan keamanan dengan menyerang aparat. Mereka belum mampu membangun kekuasaan teritorial yang signifikan, apalagi membangun pemerintahan ISIS di wilayahnya. Prospek mereka masih kalah oleh ISIS di Yaman.

ISIS wilayah Yaman relatif baru jika dibandingkan dengan yang lain. Tetapi, kelompok itu mungkin akan berkembang sangat pesat. Sebagaimana diketahui, perang koalisi pimpinan Arab Saudi versus Syiah Houtsi dukungan Iran sangatlah besar. Akibat yang ditimbulkan perang tersebut adalah kekacauan yang luas di hampir seluruh wilayah Yaman.

Sekali lagi, kekacauan adalah ladang yang subur bagi tumbuh dan berkembangnya kelompok ISIS. Mereka dikabarkan telah memiliki wilayah teritorial cukup luas yang di luar kontrol dua pemerintahan yang berseteru, yakni Shana’a (Houtsi) dan Eden (Manshur Hadi).

Masa depan perkembangan kelompok tersebut semakin terbuka, melihat perkembangan konflik itu yang, tampaknya, akan meningkat. Sebagaimana banyak diwartakan, Arab Saudi sedang mempertimbangkan opsi untuk mengirim pasukan darat guna menopang ofensif udaranya di Yaman.

Masih banyak wilayah lain dari ISIS yang beroperasi dan siap berkembang dengan cepat dengan kemungkinan meletusnya konflik-konflik baru di Timur Tengah. Wilayat itu, antara lain, wilayah Teluk, khususnya di Arab Saudi, Pakistan, Nigeria (Boko Haram), dan Afghanistan.

Dulu sebutan wilayah itu dianggap membesar-besarkan capaian ISIS di luar Iraq dan Syria. Tetapi, fakta semakin membuktikan bahwa ”kedaulatan” dan pemerintahan ISIS di luar Iraq dan Syria benar-benar nyata. Serangan udara cepat AS terhadap basis-basis kekuatan ISIS di Libya dan Afghanistan menunjukkan hal itu.

Sekali lagi, sekalipun ISIS di Iraq dan Syria tumbang, kemungkinan segera muncul ”ISIS” pusat yang baru sangat besar. Sebab, kekacauan di Timur Tengah lima tahun terakhir telah memberikan banyak pilihan bagi kelompok horor tersebut untuk membangun rumah yang nyaman bagi mereka, yakni kekacauan. Mereka juga bisa dengan mudah memilih ladang yang paling subur bagi persemaian bibit-bibit teroris, yakni orang-orang yang frustrasi dan menderita akibat konflik dan perang panjang ini.

Hanya perdamaian yang bisa menghentikan perkembangan kelompok semacam ini. Baik dalam pengertian pasif maupun aktif. Perdamaian aktif adalah penghentian konflik di antara pihak-pihak yang bertikai. Dan, perdamaian pasif adalah upaya jangka panjang untuk mewujudkan stabilitas dan kemanan, keadilan seluas-luasnya, serta kemakmuran dan kesejahteran bersama. ●