Jumat, 11 Maret 2016

Darurat Bahaya Dunia Anak

Darurat Bahaya Dunia Anak

Listiyono Santoso ;  Penulis; Dosen Ilmu Etika dan Filsafat
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya
                                                   JAWA POS, 29 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

AWAN gelap kembali menyelimuti dunia anak-anak kita. Berbagai kejadian tragis yang menimpa telah menjadikan dunia anak-anak berada pada situasi yang suram. Kekerasan, pencabulan, perdagangan manusia, hingga pembunuhan seolah tanpa jeda menimpa kalangan anak-anak.

Keprihatinan mendalam memang layak muncul. Namun, dari semua persoalan tersebut, problema yang tidak kalah seriusnya adalah, apakah benar selama ini kita sudah cukup memberikan ruang bagi anak-anak menikmati masa kanak-kanaknya? Atau sebaliknya, dunianya orang-orang dewasa yang dipaksakan kepada anak-anak?

Neil Postman dalam The Disappearance of Childhood (1994) mengatakan bahwa anak-anak adalah pesan hidup yang kita kirim ke sebuah masa yang bisa jadi tidak akan kita saksikan. Mendidik anak dengan baik sesuai fase moral mereka adalah bagian penting dari membangun sebuah masa depan. Karena itu, wajar ketika Postman begitu prihatin terhadap berbagai sinyal yang membahayakan dunia anak-anak kita, baik yang manifes maupun yang laten.

Postman begitu prihatin terhadap masa depan dunia anak-anak yang kian kehilangan roh sebagai dunianya para bocah. Dunia anak yang dibentuk orang dewasa yang memaksakan kehendak.

Keprihatinan Postman tersebut memang beralasan. Menurut Postman (1994), setidaknya ada beberapa alasan ketika orang-orang dewasa tidak lagi memiliki konsep tentang anak-anak dan ketika anak-anak kehilangan masa kanak-kanak.

Anak-anak kita dididik, dibentuk, dan diciptakan dengan logika orang dewasa. Setiap hal yang menyangkut kepentingan anak-anak, orang dewasa begitu mendominasinya. Mulai selera makanan, pakaian, hingga permainan dibentuk dengan langgam orang dewasa.

Iklan-iklan di media visual tentang makanan, cara berpakaian, hingga alat permainan dibentuk dengan selera dewasa. Bahkan, acara TV nasional pun hampir tidak ada yang layak dikonsumsi untuk anak-anak. Sinetron yang kelihatan bercerita tentang dunia anak-anak tapi alur cerita dan setting yang digunakan adalah ceritanya orang dewasa, seperti perkelahian, pacaran, dan konflik.

Soal pilihan fashion, anak-anak kita sekarang berpenampilan sebagaimana penampilan orang dewasa. Tragisnya, dalam dunia permainan pun, anak-anak sekarang lebih memilih permainan dengan langgam dewasa seperti game online dan PlayStation.

Benar kata Postman, permainan anak-anak yang dulu dimainkan sebagai kegembiraan semata belakangan mulai melenyap. Permainan anak tidak lagi bersifat rekreatif, tetapi mulai bersifat produktif.

Dikompetisikan dan dipertandingkan. Permainan anak tak lagi berorientasi pada kegembiraan anak semata, tetapi karena kesenangan orang dewasa (orang tua) yang mendapatkan keuntungan berupa reputasi, citra diri, dan lainnya.

Fakta tersebut memberikan gambaran bahwa seolah tidak ada lagi beda selera anak-anak dengan selera orang dewasa. Dalam soal kriminalitas pun, kejahatan anak-anak sudah tidak lagi berbeda dengan apa yang dilakukan orang dewasa.

Memalak, menganiaya, mencuri, dan ada yang melakukan kriminalitas berat seperti membunuh yang mulai dilakukan oleh anakanak. Meski, sesungguhnya mereka bisa jadi tidak memahami mengapa harus melakukan kekerasan pada anak lainnya.

Mencengangkan memang. Anakanak usia sekolah telah melakukan berbagai tindakan yang hanya bisa dilakukan orang-orang dewasa. Realitas itu tentu saja memprihatinkan kita semua. Ada apa dengan dunia (k)anak-(k)anak kita? Mengapa anak-anak (kita) telah berkembang melampaui dunianya sebagai seorang bocah?

Bagaimana dengan pendidikan dasar kita? Tragisnya, dunia pendidikan kita, yang seharusnya menjadi ruang belajar anak terhadap dunia kehidupannya, justru menjadi tempat mengasingkannya dari alam lingkungan anak-anak. Pendidikan dasar yang seharusnya merupakan pendidikan moral kepribadian saat ini justru berkembang menjadi tak lebih dari persekolahan yang sekadar mengejar kemampuan akademik.
Karena dunia pendidikan dasar kita dibentuk dan diciptakan dengan langgam orang dewasa, anakanak pun harus mengikuti standar pendidikan untuk orang dewasa.

Karena itu, wajar jika kita menyaksikan anak-anak kita setiap hari harus mendapatkan berbagai materi pengetahuan sekaligus menghafalkannya. Parahnya, pengetahuan yang didapat pun tidak sesuai dengan fase perkembangan moral anak.

Bagaimana tidak parah, anak-anak sekolah dasar harus belajar tentang sistem demokrasi, tugas dan fungsi kepala desa, serta pengetahuan verbal lainnya yang tidak pernah berhubungan dengan dunia mereka.

Sekolah (saat ini) tidak ubahnya ’’tempat’’ mencerabut anak dari dunianya. Karena tuntutan orang dewasa, anak-anak kita setiap hari diberi beban pekerjaan sekolah. Sudah lelah bersekolah, diberi pekerjaan rumah, masih ikut les privat. Praktis, anak-anak kehilangan dunianya karena kepentingan orang dewasa.

Usia anak adalah usia pramoral dan prakonvensional, kata Lawrence Kohlberg. Usia di mana tindakan seorang anak lebih berorientasi kepada naluri sebagai seorang anak tanpa melihat apakah tindakan itu secara moral baik atau buruk. Dunia anak memang memiliki logikanya sendiri.
Hanya orang-orang dewasa yang mengerti pada dunia anak yang akan mendidik anak sesuai dengan fase usia mereka. Anak-anak di sekitar kita adalah anak-anak kita meski bukan anak biologis.

Usia anak adalah usia di mana mereka membutuhkan keterlibatan orang dewasa untuk dapat berkembang menjadi generasi yang berkualitas. Karena itu, mendidik anak harus benar-benar menjadi prioritas utama. Sebab, ia adalah pesan hidup tentang generasi masa depan sebuah bangsa. Kegagalan kita mendidik anak-anak adalah kegagalan kita membangun masa depan bangsa. ●