Jumat, 11 Maret 2016

Neuron sebagai Landasan Revolusi Mental

Neuron sebagai Landasan Revolusi Mental

Fikri Suadu ;  Dosen Neuroscience;
Peneliti pada Indonesia Brain Research Center (IBRC) Surya University Bali
                                                   JAWA POS, 26 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PEMBANGUNAN adalah sebuah keharusan moral. Disebut demikian karena pembangunan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa. Ini penting mengingat pembangunan merupakan upaya multidimensional yang melibatkan harapan, kesadaran, dan upaya politik untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan. Tak terkecuali dalam aspek pembangunan mentalitas bangsa yang berkaitan langsung dengan dimensi moral dan kesadaran manusia sebagai pelaku pembangunan.

Secara lebih telanjang, dimensi moral dan kesadaran manusia tak lebih dari sekadar manifestasi aktivitas yang diatur otak. Sebuah organ tubuh dengan konsistensi seperti puding seberat kurang lebih 1.400 gram yang tersimpan rapi dalam tulang tengkorak kepala manusia. Yang unit fungsionalnya disebut neuron, lazim dikenal sebagai sel saraf.

Dari neuron itulah idealnya pembangunan karakter bangsa kita lakukan. Membangun manusia dari unit terkecil otaknya yang mengatur serta mengendalikan seluruh aktivitas tubuh dan jiwanya 24 jam tanpa henti, mulai denyut jantung, proses berpikir, bernapas, berkomunikasi, hingga pengambilan keputusan.

Neuron dan Mentalitas Bangsa

Ilmu dan teknologi telah berkembang sangat pesat. Temuan-temuan di bidang biologi molekuler sel saraf (neuron) telah berhasil menunjukkan bahwa neuron adalah unit fungsional otak yang aktivitasnya bertanggung jawab penuh atas proses pembentukan perilaku dan kematangan mental.
Neuron juga merupakan sel yang sangat rentan terhadap kerusakan. 

Terutama pada tahap-tahap awal perkembangan otak pada tahap embrionik (janin dalam kandungan) dan masa kanak-kanak. Pada tahap tersebut, faktor-faktor penting seperti nutrisi, zat kimia, racun, dan infeksi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fungsi otak pada masa dewasa. Gangguan pada neuron secara langsung akan mengakibatkan fungsi otak mengalami keterbatasan. Mustahil bisa terwujud mentalitas bangsa yang kuat jika sumber daya manusianya lemah dan fungsi otak rakyatnya terbatas.

Berbagai persoalan seperti tingginya angka kematian bayi, infeksi pada bayi saat persalinan, berat badan lahir rendah pada bayi, malanutrisi dan gizi buruk pada anak secara langsung mengindikasikan bahwa ada persoalan serius dalam tahapan perkembangan otak yang mendera anak-anak bangsa kita. Belum lagi ditambah persoalan sosial lain seperti anak putus sekolah, kehamilan tak diinginkan, serta kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak. Hal tersebut tentu semakin menambah pesimisme kita untuk mewujudkan hadirnya generasi bangsa dengan sumber daya manusia yang berkualitas.

Karena itu, tak heran jika Prof Dr Sarlito W. Sarwono, seorang guru besar psikologi sosial Universitas Indonesia, menyebut bangsa kita sebagai bangsa dengan mentalitas yang teledor. Juga bangsa dengan mentalitas jalan pintas, suka kekerasan atas nama moral, bermental otomatis, omong doang, tidak kritis, dan amburadul.

Revolusi Mental ataukah Revolusi Neuron?

Revolusi mental tentu bukan istilah baru yang asing di telinga kita. Sejak terpilihnya Jokowi sebagai presiden, istilah itu semakin populer dan menjadi platform pemerintahan Jokowi-JK dalam lima tahun kepemimpinan mereka. Fokus perubahannya meliputi aspek integritas, etos kerja, dan gotong royong.

Upaya serius tersebut patut kita apresiasi. Walaupun agenda revolusi mental itu terkesan birokratis, tidak membumi, dan belum menyentuh substansi perubahan mental.

Mengapa demikian? Sebab, pendekatan konseptual maupun terapan revolusi mental belum menyentuh aspek paling dasar unit fungsional pengatur aktivitas mental manusia, yakni neuron. Mustahil melakukan revolusi mental tanpa melibatkan neuron.

Melibatkan neuron berarti menjadikan otak sebagai objek intervensi revolusi mental. Karena itu, revolusi mental berbasis otak harus dilakukan pada saat neuron mulai dibentuk di akhir minggu kedua setelah terjadinya pembuahan hingga sang janin tumbuh menjadi dewasa dengan sumber daya manusia yang berkualitas.

Dengan begitu, cita-cita pembangunan mentalitas bangsa melalui gerakan revolusi mental bisa diwujudkan. Syaratnya, menjadikan neuron sebagai landasan fundamental perubahan tersebut. ●