Senin, 21 Maret 2016

Pedagogi Zetizen

Pedagogi Zetizen

Fathurrofiq  ;  Mengajar bahasa di Al Hikmah Surabaya; Sedang menyusun kurikulum Filsafat Bahasa untuk rintisan Sekolah Tinggi Ilmu Alquran dan Sains
(STIQSI) Al Ishlah Sendang, Paciran, Lamongan
                                                      JAWA POS, 16 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

ISU generasi Zetizen telah digemakan oleh Jawa Pos. Rahma Sugihartati (Jawa Pos, 11/03/2016) dari Unair memberikan opini yang menyasarkan kritik pada dunia pendidikan, baik di rumah maupun di sekolah. Terutama di sekolah yang masih gagap memberikan respons pedagogis pada fenomena munculnya generasi ini. Pada aras inilah peran pendidik sebagai agen kurikulum dalam pendidikan perlu diredefinisi.
Gawai, Dunia Baru
Begitu anak dibelikan gawai (gadget), ia akan memasuki dunianya dengan sangat khusyuk. Dunia yang tergenggam di ponsel cerdasnya itulah yang membuatnya sangat cepat berkomunikasi dengan sejuta orang yang nun jauh darinya.
Namun, pada saat yang sama, dunia yang dapat ia lipat dengan cepat dan tipis di tangannya itu juga membentangkan jarak personal. Ia dengan mudah bisa asyik sendirian mengutak-atik gawai tanpa peduli dengan orang tua yang mengajak berbincang di meja makan. Jika gawai membuatnya tidak hirau dengan orang tua dan sekelilingnya, apakah ia tidak usah dibelikan saja?
Tanpa gawai, niscaya ia akan tertinggal oleh laju percepatan zaman teknologi informasi. Tanpa gawai sama dengan mengurangi aksesnya pada dunia. Sementara itu, teman-temannya yang bergawai telah melaju jauh dan melalang buana secara maya ke antero alam semesta.
Sejumlah ahli seperti Lancaster dan Stillman menyebut mereka sebagai generasi Y. Sementara itu, budayawan Radhar Panca Dahana menyebut mereka generasi Z. Generasi ini ditandai oleh keunggulan mereka dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka ini, di ranah teknologi informasi dan dunia maya, bukanlah ''pendatang'', melainkan ''penduduk asli''.
Mereka inilah konsumen setia gawai. Di Indonesia, menurut hitungan Kemenkominfo, konsumsi gawai terus meningkat. Dari 2 juta pada 2009 menjadi 4,5 juta (2010); 9,5 juta (2011); 13,2 juta (2012); dan 15,3 juta (2013). Tren penjualan tersebut dipastikan meningkat lagi pada 2014 dan semakin bertambah pada 2016 ini. Sangat mungkin dalam hitungan waktu yang tidak lama jumlah gawai yang beredar di pasar akan melebihi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta. Sebab, satu orang bisa saja memiliki lebih dari satu gawai.
Imam Baru
Lebih dari sebuah peranti teknologi, gawai telah menjelma menjadi media penyelia dan penyedia limpahan pesan. Persis seperti yang diyakini dalam mazhab McLuchan: media adalah juga pesan. Bagi McLuchan, tidak ada pemisahan antara media sebagai perangkat dan pesan sebagai isinya. Keduanya secara simultan menjadi pesan. Dengan aplikasi teknologi informasi, pesan itu lalu jalin-menjalin antargawai di seluruh penjuru dunia membentuk jejaring dan web yang jauh lebih rumit daripada jejaring laba-laba. Dengan gawai itulah anak-anak kita berada di tengah sirkuit informasi.
Di tengah sirkuit pesan yang mengelilingi, anak-anak kita mendapat kelimpahan informasi dalam ukuran dan jumlah yang nyaris tidak tepermai. Guru atau pendidik yang hanya cakap menumpuk informasi, apalagi informasi lampau, hanya akan dianggap kicauan angin lalu. Ia akan tidak laku di mata generasi gawai.
Belajar pun telah bisa menembus dinding sekolah yang nirkelas. Guru atau yang dianggap memiliki otoritas keilmuan bukan lagi imam informasi. Mesin pelacak seperti Google, Yahoo, dan YouTube menjadi imam baru dalam menyediakan informasi. Respek terhadap guru sebagai pemberi informasi sedang mengalami redefinisi.
Tidak berlebihan mengatakan peta kognisi generasi gawai telah mengalami perubahan drastis dari peta kognisi tradisi tulis sampai tradisi lisan. Benar apa yang dikatakan Neil Postman bahwa budaya kita sedang berserah diri pada teknologi informasi (technopoly).
Bagi pendidik (orang tua dan guru), persoalan tidak lagi terletak pada peranti gawainya. Melarang anak bergawai sama halnya menutup matanya melihat dunia. Membiarkannya secara bebas tanpa batasan menggunakan gawai juga menjerumuskan pada ketergantungan sekaligus alienasi. Keduanya sama bahayanya. Sebagaimana pesan yang dimuat, ga¬wai memberikan manfaat sangat luar biasa dalam menunjang pembelajaran yang cepat dan mengakselerasi dunia kreatif. Pada saat yang sama, bahaya yang tersimpan juga dahsyat sekali. Proliferasi pornografi, prostitusi online, cybersex, dan ketergantungan pada games mengonfirmasi akan mara bahaya yang siap memapar anak.
Karena itu, mengajari anak-anak berbijak dan melek media adalah jalan penyikapan yang baik. Pendidik ditantang bisa meng¬ajarkan pemaknaan pesan yang melimpahi anak tidak cukup hanya dengan memindahkan informasi dari kepala ke kepala. Mengajari anak memaknai limpahan informasi secara kritis lebih urgen. Kompetensi memaknai informasi diharapkan bisa menjadi modal metakognisi yang diperlukan Zetizen. ●