Senin, 21 Maret 2016

Kzl

Kzl

Samuel Mulia  ;  Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                       KOMPAS, 20 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kzl itu singkatan dari kata kesal. Di kalangan pergaulan saya sekarang, mereka menuliskan dengan singkatan kzl atau dengan tagar kzl atau menulisnya kezel. Nah, hari Minggu yang lalu saya menerima curahan kekesalan teman lama di masa sekolah dasar dulu, kalau gol pekerjaan dan hidupnya susah sekali tercapai.

Gol

Saya pernah membaca, kalau tidak salah, entah itu di mana, bahwa ada pernyataan yang mengatakan begini. Kalau mengatur gol itu jangan kerendahan karena nanti kita akan merasa puas, padahal kemampuan kita lebih dari itu. Bahkan kita jadi tidak tahu kalau memiliki kemampuan yang lebih.

Tetapi di sisi lain, katanya, kita juga sangat tidak benar memasang gol terlalu tinggi. Nanti kalau ketinggian, kita menjadi frustrasi dan kalau sudah begitu susah untuk meraih apa yang sudah dicita-citakan. Dan akan melahirkan perasaan bahwa saya ini kok tidak pandai dan tidak berhasil seperti teman-teman saya.

Maka, datangnya pesan berupa kekezelan teman lama itu seperti flashback mengingat berjuta kekezelan saya atas gol yang tidak tercapai di masa lalu. Tetapi hari ini saya mau membagi cerita mengapa beberapa keinginan yang saya ingin capai sekarang benar-benar dapat tercapai.

Pertama, saya terlalu percaya dengan ucapan yang pernah saya baca itu. Mengatur gol yang rendah itu ternyata buat saya malah mendatangkan rasa percaya diri. Artinya, saya bisa mencapai gol yang rendah itu, kemudian keberhasilan pencapaian itu membakar semangat untuk menaikkan target keinginan.

Keberhasilan itu melahirkan juga percaya diri, dan menjadi ketagihan untuk menaikkan tingkat pencapaian. Yaa... kalau dimisalkan, ketagihan itu mirip-mirip sifat kemaruk dalam diri saya. Bisa lari di Gelora Bung Karno empat kali, terus nambah jadi lima kali. Terus merasa hebat bisa lima kali.

Baru bisa membeli sepasang sepatu bermerek, kemudian ketagihan untuk menambah dua pasang lagi. Sudah punya satu apartemen, terus nambah satu lagi dengan sejuta alasan. Untuk investasilah, untuk itulah, untuk inilah. Jadi kadang kemaruk itu menyemangati saya untuk menabung dan mewujudkan impian dan menyadarkan saya bahwa kemampuan saya ternyata bisa lebih dari sekadar lari empat kali.

Cinta

Kedua. Saya ini orangnya iri hatinya tinggi. Saya sudah menceritakan itu kepada Anda berkali-kali selama belasan tahun melalui kolom ini. Apalagi sekarang ini begitu banyak media memasang profil-profil muda bahkan di bawah usia 25 tahun sudah memiliki omzet ratusan juta per bulan.

Artikel-artikel itu memicu rasa iri hati saya seperti roket. Yang tidak saya sadari selama ini adalah perasaan iri hati itu jahatnya setengah mati karena ia mampu membutakan pengertian. Selama ini perkataan basi macam "kalau mereka bisa, saya juga bisa" saya eksekusi mentah-mentah. Ternyata eksekusi itu seperti tali yang dipakai untuk gantung diri.

Ucapan "mereka bisa, maka saya juga bisa" itu seyogianya saya maknai sebagai sama-sama sukses, dan bukan memaknai kalau mereka bisa naik gunung, saya juga bisa naik gunung yang sama. Bertahun lamanya saya seperti itu.

Saya menantangi diri saya dengan kemampuan yang tidak ada pada diri saya. Seyogianya saya bisa mengerti kalimat "sana bisa, sini juga bisa" itu adalah sama-sama bisa menuju puncaknya, bukan sama-sama naik gunungnya. Biarkan mereka berhasil naik ke puncak gunung, saya berhasil menaiki puncak sebagai penyanyi atau ahli matematika.

Ketiga. Saya berhenti memasang target pencapaian dan gol atau apa pun istilahnya itu, dan mulai belajar mencintai diri sendiri. Orang yang tidak mencintai diri sendiri itu seperti saya. Bertahun gagal itu karena menyiksa diri ingin naik gunung, padahal kaki gemeteran karena tidak kuat. Tidak mencintai itu adalah melakukan hal tidak sehat, padahal sejak awal tahu kalau itu tidak sehat.

Jadi saya belajar untuk mencintai diri setelah sekian belas tahun jatuh pada kebodohan. Saya mengurangi dengan sangat rasa iri hati. Karena dulu saya berpikir, iri itu ada baiknya bisa memberi semangat untuk maju. Ternyata sama sekali tidak benar. Iri itu negatif. Negatif itu yaaa. menurut saya tak dapat berdampak positif.

Berikutnya, saya melihat apa kemampuan yang dianugerahi Yang Kuasa untuk saya. Melihat apa yang saya sukai untuk dikerjakan. Kemudian menerima dengan lapang dada kalau IQ saya jongkok. Maka, bermodalkan semua itu, saya menjalani hidup dengan cinta.

Ada teman saya berkomentar begini. "Orang kok nggak punya gol. Hidup elo jadi nggak jelas gitu dong. Ke sana kemari." Nah, hebatnya yang namanya cinta, ia memiliki radar untuk mendorong seseorang melakukan eksekusi yang tepat sehingga mencegah memiliki hidup yang ngalor ngidul. Dan, radar yang satu ini hanya bisa dirasakan melalui nurani.

Setelah saya menjalani tiga langkah itu, saya melihat kalau gol itu mengganggu kerjanya radar dan mengurangi kepekaan nurani. Gol itu mendatangkan tekanan, mendatangkan kepanikan. Menjalani hidup dan pekerjaan dengan cinta menuntun kepada keinginan tanpa kzl.

Maka, tak jarang saya mendengar bahwa seseorang memiliki usaha di lima kota, padahal itu tak pernah ada dalam agenda kerjanya sejak awal. Itu bukti cinta itu menuntun dan bukan memorakporandakan masa depan. ●