Minggu, 13 Maret 2016

Festival Belok Kiri dan Kedegilan

Festival Belok Kiri dan Kedegilan

Elvan De Porres ;   Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero,
Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur
                                                INDOPROGRESS, 03 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PADA bagian awal Dunia Sophie. Sebuah Novel Filsafat (1996), Jostein Gaarder menampilkan sosok Sophie kecil yang penasaran akan surat-surat salah kaprah nan misterius yang hinggap di rumahnya. Ternyata, surat-surat itu adalah ilmu sejarah filsafat yang terelaborasikan secara naratif. Filsafat rupanya dibikin jadi semacam cerita. Dan, semakin surat-surat (ilmu) itu berdatangan, Sophie semakin keranjingan mempelajarinya. Gadis bernama lengkap Sophie Amundsend itu larut dalam penasaran. Rasa ingin tahunya sungguh menggebu-gebu.

Sebagai seorang anak kecil, rasa penasaran Sophie adalah sesuatu yang wajar. Apalagi bila objek penasaran itu adalah suatu novam lectionem yang menggelitikkan, mencerahkan, dan tentunya punya juntrung kecerdasan. Pada titik ini, Sophie boleh jadi merupakan representasi generasi muda saat ini yang haus akan injeksi pengetahuan. Pelbagai pengetahuan dan informasi baru disantapnya untuk senantiasa berpikir terbuka dan kritis. Bertanya dan terus bertanya, mencari dan terus mencari tahu. Di dalamnya, ada pilahan, disermen, bisa juga kalkulasi, verifikasi, serta kesiapan diri untuk terbuka dan berpikir lagi. Idealnya tentu seperti itu. Sebab, ihwal hidup manusia adalah berpikir. Manusia adalah binatang yang berpikir, ujar Aristoteles.

Setiap pengetahuan sudah barang tentu berangkat dari kebenaran faktual. Ia tidak boleh dipropaganda dan diagitasi untuk kepentingan tertentu. Pengetahuan sebagai anak rohani dari rasa penasaran itu dituntut untuk transparan serentak terbuka. Di sini, transparan barangkali berbeda dengan terbuka. Transparan berarti sesuatu yang in se membiarkan dirinya terlihat, terteropong. Sementara terbuka lebih dalam merujuk pada ketersediaan ruang untuk dimasuki, tak hanya sekadar terlihat, lalu diberi batasan dan landasan kritis. Sehingga dalam aspek tertentu, pengetahuan semestinya dialektis. Apabila ada item yang keliru dari pengetahuan itu sendiri, ia sebaiknya mendapat perbaikan dan dirumuskan secara baru.

Dalam etalase nasion, pengetahuan terhadap sejarah adalah salah satu substrat perwujudan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik dan benar, terutama bagi kaum muda. Ini karena pengetahuan yang keblinger terhadap sejarah akan menimbulkan pemahaman yang dangkal. Dan, karena makna term ‘pemahaman’ jauh lebih dalam daripada ‘pengetahuan’ itu sendiri, manusia muda Indonesia sepatutnya mendapatkan aras pendidikan (sejarah) yang objektif dan lurus. Bila dangkal, itu sama saja dengan menghancurkan peradaban manusia yang katanya punya budi dan pekerti itu. Atau dengan kata lain, sebut saja ini sebagai pembodohan. Konyol memang jika manusia, binatang yang berpikir itu, dikibuli dalam dogmatisme, dikencingi oleh tipu muslihat, dan dicuci otaknya untuk hidup dalam sebuah bangsa yang besar. Tentunya, bangsa besar yang dijalani oleh manusia dengan kapabilitas propaganda pengetahuan bobrok tidak lebih dari kisah hinaan seorang perompak terhadap Alexander Agung dalam tulisan Noam Chomsky yang dikutipnya dari Agustinus Hippo. Artinya, kita menjalani biduk bangsa ini tanpa punya refleksi terhadap diri sendiri, tanpa berpaling ke kedalaman diri. Sebab, pentingnya kesadaran, ingatan, dan refleksi itu berfaedah pada gerakan maju. Ada aspek wawasan yang membantu kita untuk mengambil langkah dengan belajar dari masa lalu itu sendiri.

Baru-baru ini Festival Belok Kiri yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang gerakan kaum kiri di Indonesia sekaligus meluruskan propaganda rezim Orde Baru, dibatalkan perhelatannya yang direncanakan terjadi pada Sabtu, 27 Februari 2016 di Taman Izmail Marzuki, Jakarta. Alasannya klise. Tak jelasnya aspek prosedur perizinan dari pihak kepolisian yang secara tak langsung telah mendapat intimidasi dari berbagai ormas fasis dengan dalil membangkitkan komunisme gaya baru. Padahal, kegiatan seperti itu merupakan karya dan kerja kreatif kebudayaan. Ada pelurusan sejarah beserta wedaran cerdas tentang pergerakan kaum kiri di Indonesia. Toh, itu adalah bagian dari pengetahuan itu sendiri. Bukannya semakin banyak kita tahu dengan nalar kritis, semakin terbentuk pula pemahaman akan suatu hal atau peristiwa.

Di samping itu, Festival Belok Kiri adalah representasi dari peradaban bangsa yang mau maju tanpa lupa dan mau berbenah dengan belajar dari peristiwa masa lalunya. Ada hal yang hendak dikoreksi, ada paradigma pengetahuan baru yang ditawarkan dalam konsep kegiatan itu dengan peluncuran buku tentang sejarah gerakan kiri. Sehingga anggapan-anggapan minor seputar kegiatan semacam ini pastinya datang dari manusia Indonesia yang tumpul intelektualitasnya. Syukur saja kegiatan ini tetap berlangsung meskipun harus pindah lokasi.

Pada pranala ini, terdapat sebuah pertanyaan; sampai kapan kita tetap mau hidup dalam ajaran sejarah yang sesat? Kaum muda sepatutnya paham bahwa sebagai generasi penerus, mengetahui sejarah bangsa secara cerdas dan bernas adalah kepantasan. Dan bukannya hidup ikut arus mencari kenyamanan dan terlibat dalam fundamentalisme pemikiran sempit. Generasi muda harusnya seperti Sophie kecil yang senantiasa menggemari pengetahuan-pengetahuan baru sembari berpikir kritis tentang realitas di sekitarnya. Sebab, mempelajari sejarah bangsa secara holistik itu sama dengan berfilsafat itu sendiri. Menyitir Karl Marx, hal yang terpenting dari seorang filsuf ialah mengubah dunia sekitarnya. Termasuk mengubah sejarah yang salah.

Tentu kita boleh berdiskusi dan berdebat jauh tentang tulisan ini. Namun, saya sepakat sama John Steinbeck, peraih Nobel Sastra 1962, bahwasanya tugas seorang penulis adalah meyakini apapun yang ditulisnya. Nah, sekarang di depan kita ada dua pilihan: menjadi seperti Sophie atau tetap terkerangkeng dalam propaganda Orde Baru (baca: Soehartophobia). Dan, bila pilih yang kedua, Anda akan tetap hidup dalam satu kata. Kedegilan. ●