Senin, 14 Maret 2016

Belajar Indonesia dengan PAKSA

Belajar Indonesia dengan PAKSA

Ahmad Baedowi ;   Direktur Pendidikan Yayasan SUkma, Jakarta
                                             MEDIA INDONESIA, 07 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

INISIATIF melakukan pemberdayaan manusia melalui pendidikan yang menempatkan manusia secara apa adanya dicontohkan dengan sangat baik oleh Julianto Eko Putra dengan Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI). Meskipun mengaku sebagai pendosa, Julianto Eko Putra menerapkan komitmennya pada karya kemanusiaan dengan memberikan perhatian secara utuh terhadap anak-anak didiknya di Sekolah Selamat Pagi Indonesia. Kesan itu terlihat dengan jelas dari ekspresi wajah, intonasi suara, perilaku sopan, dan keramahan anak-anak SMA-SPI saat menerima saya dan teman-teman Sekolah Sukma Bangsa, Aceh.

Dari rangkaian dialog dan presentasi yang disajikan, SMA-SPI seperti ingin menunjukkan jati diri mereka yang sesungguhnya, mempercayai proses pendidikan secara baik, dan sama sekali tak berorientasi pada nilai dan ingar-bingar kompetisi akademik. Dalam dialog sehari penuh, lebih dari 60% materi yang dipresentasikan secara sangat menarik justru dilakukan anak-anak itu. Meskipun anak-anak SMA-SPI merupakan yatim piatu serta tidak mampu dan kurang beruntung, setelah melalui proses pendidikan yang berorientasi pada kecakapan usaha mandiri (entrepreneurship), mereka berubah 180 derajat dan menjadi anak-anak yang memiliki kepekaan nurani dan keterampilan hidup yang luar biasa.

Seorang siswa putri bernama Vedka asal Jombang lulus dua tahun lalu dan memutuskan tetap menetap di lingkungan sekolah dan dipercaya menangani divisi penginapan. Dengan berlinang air mata, ia bercerita bagaimana dia mengalami perubahan hidup luar biasa setelah bersekolah di SPI. Ketika SMP, di kotanya, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keperluan sekolahnya, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama 3 tahun. Namun, karena keberuntungannya bisa bergabung dengan sekolah SPI, Vedka setahun lalu telah berhasil menghajikan ayahnya atas biaya yang dia peroleh selama mengabdi di almamaternya itu.

PAKSA

Ada cukup banyak Vedka-Vedka lain di sekolah SPI yang memiliki masa silam yang suram, baik karena ditinggal mati ayah maupun ibu mereka.
Namun, mereka kemudian mengalami transformasi mental yang luar biasa karena ada model dan pendekatan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan keterampilan hidup (life skill).

Sekolah SPI menerima siswa dari seluruh penjuru Tanah Air yang diseleksi secara ketat berdasarkan komposisi etnik, agama, dan status sosial yang kurang beruntung. Di SPI anak-anak secara menyengaja diajak untuk mencintai Indonesia dengan fakta keberagaman budaya, tradisi, dan agama karena 40% siswa SPI datang dari kelompok Islam, 20% Kristen, 20% Katolik, 10% Buddha, dan 10% Hindu. Proses pendampingan yang lebih dari cukup ketika mereka tinggal di asrama dalam keragaman yang khas Indonesia membuat mereka saling mencintai dan sekaligus menguatkan.

Nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka sebenarnya cukup banyak dan beragam. Namun, dalam konteks memberikan dan menumbuhkan kepercayaan diri mereka untuk tumbuh menjadi manusia seutuhnya, manajemen SPI merumuskan kombinasi afeksi, kognisi, dan psikomotorik secara terpadu ke dalam bentuk perilaku yang konkre, dalam rumusan PAKSA (Pray, attitude, knowledge, skills, and action).

Bagi SPI, nilai dasar PAKSA yang disemaikan bertujuan menanamkan kembali rasa percaya diri anak-anak yang pada awalnya merasa sebagai manusia yang kurang beruntung, terpuruk, dan tak percaya diri. Dengan keberagaman yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, anak-anak SPI dari awal diminta untuk tidak mudah melupakan Tuhan dan selalu berdoa (pray) sebagai fondasi spiritual dalam beraktivitas.
Berdoa dalam arti sesungguhnya bukan dalam pengertian yang pasif, melainkan kehendak untuk menempatkan Tuhan sebagai pendorong semangat hidup agar mereka tetap menjadi anak-anak yang optimistis dan selalu bersyukur terhadap apa yang mereka terima dari Tuhan Yang Mahakuasa. Keyakinan itulah yang kemudian menjadikan anak-anak SPI harus memiliki perilaku (attitude) yang positif dan selalu berusaha menyenangkan orang lain. Perilaku yang baik dalam prinsip SPI akan menjadikan anak sebagai ahli bertindak.

Tentang knowledge, SPI memaknainya sebagai sebuah kewajiban anak untuk terus belajar tiada henti. Secara praktik, kemampuan membaca merupakan tolok ukur yang selalu dinilai. Tak mengherankan anak-anak SPI selalu fasih bercerita tentang isi sebuah buku kepada siapa saja yang datang ke tempat mereka karena rata-rata mereka sudah membaca buku-buku itu. Menilai pengetahuan anak melalui praktik membaca ialah hal penting yang menjadikan anak-anak SPI gila membaca dan selalu ingin tahu hal baru untuk kemudian mempraktikkannya secara konkret. Dalam terminologi mereka, pengetahuan yang benar akan menjadikan seorang anak ahli berpikir.

Keterampilan (skill) merupakan kelebihan dari SPI. Dengan tujuan ingin menjadikan anak mandiri secara sosial dan ekonomi, pihak manajemen SPI menetapkan trial and error sebagai pendekatan pembelajaran yang penting dalam rangka meningkatkan keterampilan hidup (life skill) siswa.

Saya cukup takjub ketika mengetahui inisiatif anak untuk berekspresi harus didukung dengan alat dan media yang dibutuhkan meskipun alat-alat itu relatif mahal dan tak jarang dirusak para siswa karena kesalahan dalam mengoperasikannya. Bagi SPI, kesalahan anak ialah berkah yang harus diterima agar anak dapat belajar tentang kegagalan, sesuatu yang selama ini tak terlihat dalam praktik pendidikan kita.

Dasar terakhir ialah action yang mengajari anak-anak agar menjadi manusia yang senang berkarya dan beramal. Ketika menjawab pertanyaan mengapa mereka mengalami perubahan dan bagaimana memaknai perubahan dalam hidup mereka, seorang siswa asal Jombang bernama Sireen dengan fasih menjawab perubahan datang karena di SPI mereka diminta untuk tetap mau berbagi dan membuat orang lain bahagia serta tidak menyebarkan kebencian. Berkarya dan beramal mereka tunjukkan dengan berbagi kepada para tua jompo dan anak-anak kurang beruntung lainnya yang ada di sekitar mereka dari hasil jerih payah sendiri.

Hiduplah Indonesia. Selamat pagi Indonesia ialah optimisme baru Indonesia masa depan. Ahli bersyukur, berpikir, berkomunikasi, dan beramal. ●