Selasa, 08 Maret 2016

Amangkurat

Amangkurat

Goenawan Mohamad ;   Esais; Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
                                                     TEMPO.CO, 07 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Amangkurat adalah kesendirian: raja yang tak berteman di sebuah pulau.
Ketika mulai Januari 1648 penguasa Mataram itu memindahkan keratonnya dari Karta ke Plered, di lokasi di Bantul itu Sungai Winongo sudah dibendung. Danau-danau buatan sudah mulai dibangun di sekitar istana.

Pekerjaan itu seperti tak pernah berhenti.

Tiga belas tahun kemudian, pada 1661, sebuah laporan orang Belanda masih menyebutkan bahwa Raja tetap sibuk "menjadikan tempat kediamannya sebuah pulau". Dua tahun berikutnya Amangkurat memerintahkan agar dibuat "sebuah kolam besar di sekeliling istananya". 

Pada 5 September tahun itu juga Baginda menyiapkan lagi pembuatan sebuah batang air di belakang keraton. Sebulan setelah itu penggalian "laut" Segarayasa dimulai.

Mataram dimobilisasi. Tiga ratus ribu orang bekerja, bahkan penduduk daerah Karawang dipanggil—tak peduli sawah mereka terbengkalai, dan kekurangan pangan terjadi.

Sebab kehendak sang Raja harus jadi. Dan memang jadi. Pada 1668, seperti disebut dalam buku De Graaf, Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I, seorang pejabat VOC berkunjung. Ia berjalan melalui "jembatan di atas parit yang mengelilingi istana".

Parit dan benteng: Amangkurat tak pernah percaya kepada siapa pun di luar dirinya. Ia dirikan keraton baru dengan batu bata, bukan lagi kayu seperti istana ayahnya, Sultan Agung. Ia langsung mengawasi sendiri pembangunannya. Beberapa pejabat tinggi yang tak mau ikut bekerja diperintahkannya untuk diikat, dibaringkan di paseban, dijemur. Sedangkan penduduk, seperti ditulis dalam Serat Kandha, harus "membakar banyak sekali batu bata".

Benteng itu akhirnya berdiri; 13 November 1659 menyebutkan tembok keraton itu lima depa tingginya dan dua depa lebarnya. Tapi Baginda toh masih ingin menambahkan lagi "tembok yang serupa sebuah perisai, setinggi dada".

Syak wasangka tampaknya sejak mula merundung Amangkurat, yang menyebut diri Ingalaga ("di kancah peperangan"). Di hari ketika ayahnya yang sudah dekat ajal memaklumkan putra sulungnya sebagai Raja Mataram yang baru, semua pintu gerbang, gudang senjata, dan depot mesiu dijaga ketat. Keluarga kerajaan ditahan selama beberapa hari di dalam istana, agar tak bisa mengadakan komplotan.

Baru setelah raja tua, Sultan Agung, mengembuskan napas yang penghabisan, sang raja muda muncul di balairung. Babad Tanah Jawi mencatat, waktu itu tiba-tiba Pangeran Purbaya, kakak Sultan almarhum, naik ke takhta. Bersikap seolah-olah ia yang jadi susuhunan, ia menantang siapa yang berani melawannya. Yang hadir menundukkan kepala ketakutan. Merasa aman, Purbaya pun turun dari dampar, bersimpuh di lantai, menyembah raja yang baru.

Kecemasan membayang di jam-jam itu: betapa gentingnya pergantian kekuasaan. Bukankah sebagian besar peperangan di Tanah Jawa adalah perang suksesi?

Dan terbukti. Di tengah kesibukan Mataram membangun keraton Plered, adik Raja, Pangeran Alit, menyiapkan penyerbuan. Ia hendak merebut takhta. Tapi sebelum bergerak, kedua pembantu dekatnya ketahuan, terjebak, dan dibunuh. Kepala mereka dipersembahkan kepada Raja. Sang adik akhirnya menyerang hanya dibantu enam lurah dengan anak buah yang tak seberapa—dan tewas terluka kerisnya sendiri yang beracun.

Konon, Amangkurat merasa sedih atas kematian itu. "Aku akan membela adikku," demikian ia dikutip dalam Babad Tanah Jawi. Baginda pun melukai bahunya sendiri—cara yang aneh untuk "membela" seseorang. Tapi dalam diri Amangkurat kita tak tahu benarkah penguasa ini—yang bertakhta sendirian seperti pulau yang dikelilingi laut—bisa punya empati kepada orang lain. Segera setelah menyatakan berkabung, ia berkata, "Hatiku sudah lega."

Dan seraya tampil dengan rambut kepala yang dicukur sebagai tanda belasungkawa, ia perintahkan empat orang kepercayaannya menyiapkan sebuah pembunuhan besar-besaran. Ia menduga para ulama di Mataram terlibat pemberontakan Pangeran Alit. Setelah nama, keluarga, dan alamat semua tokoh agama itu dicatat, dengan isyarat tembakan meriam dari istana, pembantaian pun dimulai. Dalam tempo 30 menit 5.000-6.000 ulama (termasuk para istri dan anak-anak) dihabisi.

Kebuasan tak berhenti di situ. Hari itu Raja juga memerintahkan tujuh orang pembesar dibunuh bersama keluarga mereka....
"...betapa angkuh dan kejamnya orang-orang ini," tulis Van Goens, orang Belanda yang mencatat peristiwa berdarah pembangkangan Pangeran Alit.

Mataram memang kian suram. Tangan Amangkurat berlumur darah, sampai akhirnya Baginda meninggal sakit dalam pelarian, setelah pemberontakan Trunajaya meletus dan Mataram jatuh.

Ketika sakitnya memberat, Amangkurat minta sereguk air kelapa. Putra mahkota pun menyiapkannya. Tapi sejenak Baginda menatapnya, "Aku tahu maksudmu, kau ingin mempercepat."

Kejatuhan dan kekejaman tak pernah punya teman. ●