Minggu, 15 Mei 2016

Munaslub dan Tantangan Partai Golkar

Munaslub dan Tantangan Partai Golkar

Bawono Kumoro ;   Co-founder Indo Riset Konsultan
                                               MEDIA INDONESIA, 14 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

BESOK hingga 17 Mei, Partai Golkar akan menggelar musyawarah nasional luar biasa (munaslub). Publik tentu berharap munaslub dapat menjadi momentum bagi Partai Golkar untuk mengembalikan soliditas organisasi pascadualisme kepengurusan yang telah berlangsung hampir dua tahun. Pengembalian soliditas organisasi menjadi pekerjaan rumah paling mendesak saat ini untuk dilakukan Partai Golkar mengingat kurang dari delapan bulang mendatang akan digelar pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak gelombang kedua. Harus diakui, konflik politik akibat dualisme kepengurusan sebelumnya telah mengganggu kiprah Partai Golkar dalam pilkada serentak gelombang pertama Desember lalu. Setelah sekian lama tampil begitu perkasa di panggung politik nasional dan lokal, dalam pilkada serentak gelombang pertama lalu partai ini babak belur mengalami kekalahan di sejumlah daerah, baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diajukan Partai Golkar dalam pilkada serentak gelombang pertama tersebut cuma memenangi 57 daerah. Itu pun tidak ada pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diusung sendiri, tetapi berkolaborasi dengan partai politik lain.

Momentum pengembalian

Dengan berkaca pada pengalaman pahit itu, pelaksanaan munaslub harus dijadikan sebagai momentum bagi pengembalian soliditas partai demi memperoleh kembali kejayaan di panggung politik lokal dan nasional.
Namun, harapan publik agar munaslub dapat menjadi momentum pengembalian soliditas organisasi agaknya masih jauh panggang dari api.

Sejak beberapa bulan lalu hingga satu pekan menjelang pelaksanaan munaslub, sebagian besar elite dan kader Partai Golkar terkesan masih menafsirkan munaslub sebatas suksesi kepemimpinan partai saja.
Dominannya pembicaraan di lingkaran elite partai mengenai besaran sumbangan sebesar Rp1 miliar dari para calon ketua umum dan penggalangan dukungan politik pengurus-pengurus daerah seakan memperkuat kesan tersebut. Hampir tidak terdengar langkah konkret apa akan dilakukan para calon ketua umum Partai Golkar untuk mengembalikan soliditas organisasi sekaligus kemenangan partai di pilkada serentak dan pemilu legislatif mendatang.

Sebagai salah satu forum tertinggi organisasi, munaslub dapat menjadi forum strategis untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan partai selama dua tahun terakhir ketika partai tengah dilanda konflik hebat akibat dualisme kepengurusan. Munaslub harus dimaknai lebih dari sekadar kompetisi meraih jabatan ketua umum.

Untuk itu, hemat penulis, ada beberapa hal harus dicermati menjelang munaslub kali ini. Pertama, tantangan besar lain Partai Golkar selain mengembalikan soliditas organisasi ialah mengelola faksi-faksi internal.
Sejarah mencatat Partai Golkar telah teruji dan terbukti cakap dalam merespons tantangan-tantangan dari lingkungan eksternal. Namun, mereka belum terlalu cakap dalam merespons tantangan-tantangan datang dari lingkungan internal partai, terutama dinamika politik faksi-faksi.

Dengan belajar dari dualisme kepengurusan selama hampir dua tahun terakhir, ke depan Partai Golkar dituntut untuk dapat mengelola faksi-faksi secara bijak dan elegan agar tidak muncul konflik internal yang berujung pada keruntuhan soliditas organisasi dan kemunduran pencapaian elektoral partai dalam pemilu. Sebagai partai politik tertua dan memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, Partai Golkar harus dapat role model bagi partai-partai politik dalam mengelola faksi-faksi. Di satu sisi, keberadaan faksi-faksi dalam sebuah partai politik tidak dapat dihindarkan.
Namun, di sisi lain, keberadaan faksi-faksi sekaligus juga menunjukkan bagaimana sebuah partai poitik dapat mengelola potensi konflik secara elegan.

Tantangan perpecahan

Dua momen paling berpotensi melahirkan konflik internal sebuah partai politik ialah pemilihan ketua umum baru dan pentapan calon presiden.
Kedua momen tersebut rawan mengakibatkan perpecahan. Itu bahkan tidak jarang diikuti kelahiran partai politik baru. Pertama, masih segar dalam ingatan publik, tidak sedikit elite Partai Golkar kalah dalam kontestasi perebutan kursi ketua umum memilih untuk memisahkan diri dan membentuk partai politik baru. Di awal reformasi, lahir Partai Keadilan dan Persatuan sebagai bentuk kekecewaan politik Jenderal TNI (Purn) Edi Sudradjat setelah kalah dari Akbar Tandjung dalam pemilihan ketua umum Partai Golkar. Setelah itu, muncul secara berturut-turut Partai Gerindra, Partai Hanura, dan Partai NasDem sebagai bentuk ketidakpuasan politik dari Prabowo Subianto, Wiranto, dan Surya Paloh. Padahal, di masa lalu, mereka merupakan tokoh-tokoh utama Partai Golkar.

Kedua, menghadirkan kepemimpinan berintegritas juga menjadi tantangan lain Partai Golkar. Di tengah apatisme tinggi publik terhadap partai politik saat ini, Partai Golkar dituntut mampu berperan aktif mengembalikan kepercayaan publik terhadap partai politik sebagai pilar utama demokrasi modern.

Partai politik di Indonesia saat ini memang tengah dihadapkan pada situasi kurang menguntungkan terkait dengan pandangan umum kritis publik.
Persepsi mengenai partai politik sebagai sarang koruptor cukup kuat melekat di pikiran dan benak publik. Persepsi itu muncul lantaran selama beberapa tahun terakhir kian besar jumlah kader partai politik terjerat kasus korupsi dan menjadi 'pasien' KPK.

Kepercayaan

Tanpa ada pembenahan serius di tubuh partai politik, gerakan emoh partai politik akan semakin massif. Bila gerakan emoh partai politik kian masif, tingkat partisipasi politik publik dalam pemilu pun terancam menurun tajam. Karena itu, menghadirkan kepemimpinan berintegritas menjadi penting untuk dilakukan Partai Golkar.

Salah satu cara menghadirkan kepemimpinan berintegritas ialah dengan tidak memilih calon ketua umum yang memiliki beban kasus pelanggaran etika dan hukum. Dengan menghadirkan kepemimpinan seperti itu, Partai Golkar akan dapat menjadi pelopor bagi pengembalian trust publik terhadap partai politik. Perlahan-lahan persepsi publik terhadap partai politik sebagai sarang koruptor juga akan menghilang.

Ketiga, memperluas basis massa juga menjadi tantangan lain Partai Golkar. Selama ini Partai Golkar identik sebagai partai orang tua lantaran rekam jejaknya sebagai partai politik paling tua dan berpengalaman sepanjang sejarah politik ketatanegaraan di Indonesia.

Salah satu cara yang dapat dilakukan Partai Golkar untuk memperluas basis massa ialah dengan mendekati para pemilih pemula. Jumlah pemilih kelompok pemula di Indonesia dari pemilu ke pemilu terus bertambah.
Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum, jumlah pemilih pemula pada Pemilu 2014 mencapai 11% dari total 186 juta jiwa pemilih.

Jumlah itu meningkat bila dibandingkan dengan dua pemilu terdahulu.
Pada Pemilu 2004, jumlah pemilih pemula sekitar 27 juta dari 147 juta pemilih (18,4%). Sementara itu, pada pemilu lima tahun kemudian, jumlah pemilih pemula sekitar 36 juta pemilih dari 171 juta pemilih (21%). Kelompok pemilih pemula ialah mereka yang berusia 17-22 tahun, untuk pertama kali berpartisipasi dalam pemilu. Status mereka ialah pelajar, mahasiswa, dan fresh graduate.

Dengan tingkat pendidikan dan akses informasi sangat baik, pemilih pemula cenderung paham perkembangan politik di Indonesia terkini serta merupakan pengambil keputusan rasional. Oleh karena mereka melek politik dan teknologi, memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi politik merupakan jalan terbaik yang dapat ditempuh Partai Golkar untuk merangkul para pemilih pemula.

Itulah sejumlah hal yang harus dicermati Partai Golkar jelang pelaksanaan munaslub pekan depan. Harapan publik agar munaslub menjadi momentum bagi Partai Golkar untuk mengembalikan soliditas organisasi harus mampu diwujudkan sepenuh hati oleh seluruh elite dan kader partai berlambang pohon beringin tersebut. Selamat munaslub. ●