Senin, 16 Mei 2016

Fenomena Sadiq Khan dan Tantangan London

Fenomena Sadiq Khan dan Tantangan London

Vishnu Juwono ;   Dosen Administrasi Publik Fakultas Ilmu Administrasi
Universitas Indonesia
                                                    KORAN SINDO, 11 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saat Sadiq Khan memenangkan pemilihan sebagai Walikota London minggu lalu dengan mengalahkan lawannya Zac Goldsmith (keluarga bangsawan dari Partai Konservatif) dengan meraup suara lebih dari 1,2 juta suara, banyak media internasional dan nasional yang mengangkat berita ini.

Tentu saja fokus dari pemberitaan tersebut adalah London untuk pertama kalinya mempunyai wali kota yang tidak hanya seorang muslim, tapi keturunan Asia. Tentu saja ini merupakan sebuah peristiwa yang sangat unik. Karena London dengan 12,8 juta penduduk adalah kota global nomor dua paling kompetitif menurut the Economist.

London juga menyumbang 22% pendapatan domestik bruto (PDB) Inggris dan memiliki skala ekonomi setara dengan Swedia atau Iran. Sebagai wali kota London, bisa dikatakan Sadiq adalah politisi muslim turunan Asia yang paling mempunyai pengaruh di kawasan Eropa Barat, bahkan Global.

Latar Belakang Keluarga Sadiq

Sadiq bersama tujuh saudaranya dibawa oleh ayahnya dari Pakistan ke London pada tahun 1970-an untuk memperoleh harapan hidup yang lebih baik. Dengan bekerja sebagai sopir bus selama 25 tahun, ayah Sadiq, Amanullah, membiayai kehidupan anak-anaknya, hingga dapat menyekolahkan Sadiq untuk dapat mengenyam pendidikan tingkat Universitas.

Sebagai keluarga kelas menengah di London, Sadiq bersama tujuh adik-kakaknya tinggal di apartemen sederhana yang disewa oleh orang tuanya di Earsfield, daerah Barat-Daya London. Sadiq tinggal bersama orang tuanya, sebelum hidup mandiri di umur 20 tahun. Atas anjuran guru SMA-nya - karena dianggap senang berargumen-, maka Sadiq mengambil jurusan hukum di Universitas North London (sekarang London Metropolitan University).

Selain itu, Sadiq melihat ayahnya bekerja sebagai supir bis dan bergabung dalam kelompok Buruh. Melalui kelompok buruh, ayah Sadiq dijamin hakhaknya untuk memperoleh kehidupan yang layak dengan perlindungan upah minimum dan standar kehidupan yang cukup. Selanjutnya, Sadiq muda terinspirasi untuk terlibat lebih jauh dunia aktivis perburuhan.

Karier Politik Sadiq

Keterlibatan dalam politik dimulai dalam usia yang sangat muda. Pada usia 15 tahun Sadiq sudah terdaftar sebagai anggota partai buruh. Selama menjadi pengacara yang fokus pada pembelaan hak asasi manusia, beberapa kasus terkemuka yang ditangani adalah staf salon yang salah ditangkap, serta dianiaya oleh polisi, guru, serta pengacara yang mendapat perlakuan rasis serta dan polisi senior dengan ras kulit hitam yang dituduh korupsi.

Setelah kurang dari sepuluh tahun, Sadiq berkeinginan menjadi anggota parlemen. Walaupun sebagai pengacara ia bisa membela ratusan klien terkait hak asasi manusia. Sadiq merasa dengan menjadi anggota parlemen bisa membuat undang-undang yang mempengaruhi jutaan penduduk. Untuk itu, Sadiq maju menjadi kandidat anggota parlemen di London untuk wilayah Tooting yang merupakan daerah konstituen kuat dari partai buruh.

Ia memenangkan pemilihan umum parlemen dan menjadi satu dari sedikit anggota parlemen dengan latar belakang etnis minoritas. Melalui manuver politik cerdiknya, ia bersama-sama 47 anggota parlemen partai buruh lainnya melakukan pembangkangan terhadap pemerintah Tony Blair. Tindakan tersebut membuat ia dekat dengan Menteri Keuangan Gordon Brown yang kemudian menggantikan Tony Blair.

Akibatnya selama pemerintahan tiga tahun Gordon Brown, Sadiq mendapat kesempatan menjadi muslim pertama yang menjadi anggota kabinet, di antaranya dengan menjadi Menteri transportasi di tahun 2009. Pada pemilihan umum tahun 2010 saat Gordon Brown dikalahkan oleh David Cameron, karier politik Sadiq nyaris terhenti, karena hanya mampu terpilih dengan selisih 2500 suara.

Namun Sadiq kembali dikenal setelah sebagai manajer kampanyenya berhasil membawa Ed Milliband mengalahkan kakaknya yang lebih favorit, David Milliband, dalam kontestasi ketua partai buruh dan sekaligus menjadi pimpinan oposisi di tahun 2010. Selama tahun 2010-2015 Sadiq membantu pim-pinan oposisi parlemen Inggris Ed Milliband dengan menjadi anggota kabinet bayangan.

Menuju Singgasana London

Lagi-lagi kematangan berpolitik Sadiq diperlihatkan dalam perjalanan kariernya menjadi wali kota London. Dengan kekalahan telak dari partai oposisi buru pada pemilihan legislatif tahun 2015 yang memaksa Ed Milliband mengundurkan diri dari pimpinan partai buruh, Sadiqdapat lolos mempertahankan kursi parlemennya.

Selain itu ia juga sudah membidik kursi walikota yang akan segera ditinggalkan oleh Boris Johnson pada tahun ini. Namun, Sadiq kurang didukung oleh media massa Inggris yang lebih memfavoritkan mantan Menteri Media, Budaya dan Olahraga, Tessa Jowell, yang mempunyai peran besar bagi suksesnya persiapan London dalam menyelenggarakan Olimpiade 2012. Lagi-lagi dengan dukungan konstituen pemilih partai buruh yang kuat, melalui pemilihan lima tahap akhirnya Sadiq mengalahkan Tessa secara telak yakni dengan 58.9% - 41.1%.

Tantangan Memperbaiki London

Apabila kita melihat karier politik dari Sadiq Khan -terlepas dari figur Islam dan Asianya-, beliau adalah politisi mumpuni dengan pengalaman panjang di pemerintah, maupun sebagai oposisi di parlemen Inggris selama lebih dari 10 tahun. Dengan kata lain, ia adalah politisi dengan substansi bukan hanya dipilih untuk sekedar memenuhi kuota ras atau agama.

Sekarang yang menjadi tantangan bagi Sadiq adalah, bagaimana mewujudkan janjijanji kampanyenya untuk membawa perbaikan bagi Kota London. Salah satunya adalah masalah perumahan, di mana harga properti menjadi sangat mahal sehingga tidak terjangkau oleh warga kelas menengah London.

Tidak heran, properti di daerah pusat kota hanya investor kaya seperti dari negara Timur Tengah, Rusia dan China, yang mampu membeli properti dengan harga selangit yakni di atas 500.000 pound. Tantangan lain bagi Sadiq bagaimana mencari keseimbangan yang pas untuk mengurangi ketimpangan pendapatan, dengan menambah lapangan pekerjaan bagi kelas menengah.

Namun, tetap mempertahankan London sebagai pusat finansial global, motor utama pertumbuhan ekonomi Inggris, serta pusat budaya dan hiburan dunia. Apabila dalam lima tahun mendatang Sadiq dapat mengelola masalah-masalah tersebut dengan baik, dan berhasil meningkatkan profil politiknya, ia tidak hanya akan terpilih kembali sebagai walikota London. Akan tetapi, dapat mencatat sejarah baru dengan menjadi kandidat Perdana Menteri Inggris pertama yang merupakan muslim keturunan Asia. ●