Selasa, 17 Mei 2016

Almansor

Almansor

Goenawan Mohamad ;   Esais;  Mantan Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO
                                                       TEMPO.CO, 16 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Betapa dalam kau terpuruk, wahai Granada!"

Dalam Almansor, tragedi karya Heinrich Heine, Almansur bin Abdullah pulang ke Granada dari pengasingan. Ia kembali ke kastil masa kecilnya: bangunan itu masih tetap di atas tanah "yang tua dan tercinta", dengan lantai yang dilapisi permadani berwarna-warni; pilar-pilar marmar itu setia bertahan. Almansur merasa betah kembali. Tapi ada yang membuatnya waswas. So heimisch ist mir hier, und doch so ängstlich. Kehidupan telah berubah. Kerajaan Islam Spanyol, terlena dalam kegemilangannya sendiri, jatuh, direbut kekuasaan Katolik di bawah Ratu Isabella dan Raja Ferdinand.

Dan Granada terpuruk. Tak ada lagi kemerdekaan menjalankan agama seperti dulu, ketika orang Islam, Kristen, dan Yahudi hidup bersama dan bertukar peradaban. Di awal lakon, Almansur berjumpa kembali dengan Hassan, pelayan keluarga Abdullah yang dulu mengasuhnya. Mereka saling menceritakan keadaan yang muram.

Ribuan muslim "merundukkan kepala agar dibaptis" dalam ketakutan, kata Almansur. Di masa itu, seorang pejabat tinggi Gereja dan Kerajaan, "Ximenes yang mengerikan" (der furchtbare Ximenes), dengan disaksikan khalayak di tengah pasar melemparkan Quran ke api unggun.

Hassan mendengarkan semua itu dengan masygul, tapi ia tampak tak terkejut. Ia mengucapkan satu kalimat seperti meramal: "Di mana mereka bakar kitab-kitab, di sana mereka akhirnya bakar manusia."

"Ximenes" dalam tragedi Heine adalah Gonzalo Jimenez de Cisneros, pejabat tinggi Gereja dan kepercayaan Ratu Isabella. Tokoh sejarah Spanyol yang hidup antara 1436 dan 1517 ini adalah padri yang keras kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain-apalagi orang lain dari iman yang lain.

Ia tak tergoda kemewahan; pada usia di atas 40 tahun ia bergabung ke dalam Ordo Fransiskan dan membiasakan diri tidur di tanah tanpa alas, melipatgandakan puasa, dan mengenakan kain yang dianyam dari surai kuda. Tapi dengan kekuasaan dan keyakinan akan keunggulan imannya, ia memaksa para biarawan yang sudah ditahbiskan untuk hidup selibat, menetap di paroki, dan bekerja penuh. Ketika ketentuan ini dikenakan lebih ketat dan lebih luas, 400 rahib mengungsi ke Afrika-dan masuk Islam.

Bagi Cisneros, Islam dan Yahudi iman yang sesat. Pada 1492, di awal ia jadi pastor Ratu Isabella, "Maklumat Pengusiran" diumumkan. Sekitar 200 ribu orang Yahudi terpaksa jadi Kristen; puluhan ribu yang lain diusir. Tak berhenti di situ. Cisneros memaksa ribuan Mudéjares, muslim yang hidup di wilayah Kristen, berpindah agama-meskipun dengan demikian ia melanggar perjanjian Alhambra ketika Ferdinand dan Isabella mengambil alih kekuasaan Islam. Ketika penduduk muslim berontak dan dikalahkan, Cisneros memberi mereka ultimatum: masuk Kristen atau diasingkan. 
Sebagian besar, seperti disebut Heine dalam Almansor, "merundukkan kepala untuk dibaptis", "menggenggam erat salib, dalam ketakutan akan mati".

Dan seperti tersebut dalam tragedi itu, buku pun dibakar. Sekitar 5.000 judul karya penulis dan pemikir Islam dimusnahkan dalam api. Kemudian manusia. Tercatat, sejak 1481, Gereja Katolik Spanyol membakar hidup-hidup 31.912 orang yang dianggap sesat iman. Dalam jumlah itu, ada 3.564 yang dihanguskan dalam api auto-da-fé atas keputusan "Ximenes yang mengerikan".

Heine, sastrawan Jerman di abad ke-19, tentu saja menggubah Almansor dari petilan-petilan sejarah itu-dan dengan gambaran yang negatif tentang rezim "Ximenes". Yang tak diduganya: kalimat yang diucapkan tokoh Hassan akan jadi semacam peringatan dari masa ke masa-terutama setelah di abad ke-20, Jerman memunculkan Hitler dan Gerakan Nazi dan ribuan buku dibumihanguskan. Pada 10 Mei 1933, misalnya, mahasiswa pendukung Nazi membakar habis 35 ribu jilid buku yang isinya dianggap "tak bersifat Jerman": dari Marxisme sampai dengan buku seni rupa mutakhir, dari yang dianggap "liberal" sampai dengan yang dianggap "ilmu palsu", yaitu Darwinisme. Kemudian kamp konsentrasi didirikan dan ribuan orang Yahudi dan lain-lain dimatikan.

Di Indonesia juga pernah orang membakar buku dan membunuhi manusia. "Demokrasi Terpimpin" Sukarno melarang risalah Bung Hatta Demokrasi Kita, semua novel Takdir Alisjahbana, Mochtar Lubis, dan lain-lain, juga semua puisi para penulis yang menandatangani "Manikebu". Di bawah "Orde Baru" Soeharto, apa saja buku yang dianggap "komunis" diberangus, bukan hanya novel Pramoedya Ananta Toer. Kekerasan dan supremasi kekuasaan jadi pola, makin lama makin menajam.

Menarik bahwa kejahiliahan ini berulang, justru di bawah Republik yang berbeda-beda yang saling menyalahkan. Tampaknya belum juga disadari, bila kata tak bisa dipakai untuk berbicara, orang akan pelan-pelan saling mematikan dengan kedegilan. Hassan dalam Almansor benar. ●