Selasa, 15 Maret 2016

Pariwisata dan Revolusi Industri Keempat

Pariwisata dan Revolusi Industri Keempat

A Prasetyantoko ;   Ekonom di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta
                                                       KOMPAS, 14 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tak kurang dari 10.000 wisatawan asing dan 100.000 wisatawan domestik menyaksikan gerhana matahari total di penjuru Nusantara. Dua daerah terpopuler adalah Bangka Belitung dan Halmahera sebagai lokasi paling ideal menyaksikan peristiwa alam langka tersebut.

Fenomena pariwisata gerhana mengajarkan, peristiwa alam bisa menjadi komoditas wisata. Selain mendatangkan devisa, juga mendongkrak kegiatan ekonomi daerah. Inilah saatnya industri pariwisata dikembangkan dengan pendekatan mutakhir.

Sejak pemerintahan lalu, ekonomi kreatif menjadi perhatian penting. Pada periode pemerintahan sekarang dibentuk Badan Ekonomi Kreatif yang mandiri dari Kementerian Pariwisata. Sejatinya keduanya sangat erat hubungannya. Dengan ruang lingkup yang lebih luas, koordinasi antarinstitusi menjadi sangat krusial, yaitu menggabungkan aspek fisik dan dimensi kreativitas.

Kita hidup pada zaman revolusi industri keempat. Begitu kata Klaus Schwab, pendiri Forum Ekonomi Dunia, pada pertemuan tahunan di Davos, Swiss, Januari 2016. Revolusi industri pertama ditandai penemuan uap air yang menggantikan tenaga manusia dalam menggerakkan mesin. Revolusi kedua terjadi pada akhir abad ke-19, dipicu penemuan listrik yang memunculkan berbagai kemajuan, mulai teknologi pesawat terbang, mobil, hingga televisi. Revolusi ketiga dimulai pada 1960-an saat perkembangan teknologi digital, dari komputer hingga internet.

Sejak itu, revolusi industri keempat terjadi sebagai akumulasi kemajuan di bidang fisik, digital, dan biologi yang memunculkan berbagai kemajuan mengagumkan di berbagai bidang. Kemajuan itu, antara lain, mobil tanpa pengemudi, robot pandai, hingga pencetak 3 dimensi. Semua ini mengubah cara manusia bekerja, berelasi, hingga menjalani kehidupan sehari-hari.

Salah satu sektor paling terpengaruh revolusi industri keempat ini adalah pariwisata. Kita bisa menyaksikan, iklan destinasi wisata begitu menggiurkan sehingga minat wisatawan meningkat. Malaysia, misalnya, kita kenal sebagai negara dengan promosi pariwisata yang gencar, yang berdampak pada kedatangan turis yang membanjir. Apakah situs wisata kita lebih buruk daripada Malaysia? Dengan penuh percaya diri, sumber wisata alam dan budaya kita jauh lebih kaya. Lalu, mengapa jumlah wisatawan asing yang ke Malaysia jauh lebih banyak?

Menurut perhitungan Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA), kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada 2015 berjumlah 9,1 juta, sedangkan Malaysia 27,7 juta orang dan Thailand 36 juta orang. Pada 2018, Indonesia diperkirakan akan kedatangan 10,7 juta wisatawan asing, sedangkan Malaysia 30,7 juta orang dan Thailand 79,6 juta.

Dalam Laporan Daya Saing Perjalanan dan Wisata 2015 keluaran Forum Ekonomi Dunia, posisi daya saing pariwisata kita memang jauh tertinggal. Jika Thailand berada pada peringkat ke-35 dan Malaysia ke-25, kita masih berada pada posisi ke-50. Padahal, dalam komponen kebijakan yang mendukung pariwisata, Indonesia ada di posisi ke-9, jauh lebih baik dibandingkan dengan Thailand di posisi ke-49 dan Malaysia pada posisi ke-24.

Sayangnya, infrastruktur pendukung pariwisata kita ketinggalan. Indonesia di posisi ke-75, Thailand ke-37, dan Malaysia ke-41. Adapun dalam lingkungan pendukung pariwisata, posisi kita juga tertinggal, pada peringkat ke-80, sedangkan Thailand ke-75 dan Malaysia ke-40.

Dalam hal kekayaan alam, posisi Indonesia di peringkat ke-19, Thailand ke-16, dan Malaysia ke-26. Dalam hal kekayaan kebudayaan, Indonesia di peringkat ke-25, sementara Thailand ke-34 dan Malaysia ke-27.

Dibandingkan dengan Malaysia, kekayaan alam dan budaya kita masih lebih baik. Begitu pula dengan regulasi terkait pariwisata. Apalagi, kebijakan pemerintahan Joko Widodo progresif menarik wisatawan asing, lewat kebijakan pembebasan visa. Sebagai tindak lanjut penerbitan Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2015 tentang Fasilitas Bebas Visa Kunjungan, pada 2016 ada tambahan 84 negara baru bebas visa. Dengan demikian, ada 174 negara yang memiliki fasilitas bebas visa ke Indonesia.

Meski begitu, wisatawan asing tidak serta-merta membanjir mengalahkan Malaysia, apalagi Thailand. Infrastruktur dan lingkungan pendukung yang masih sangat buruk perlu ditingkatkan kapasitasnya. Indonesia yang kaya sumber daya alam dan budaya tak akan terbantu tanpa perbaikan lingkungan fisik.

Dalam hal ini, kebijakan Kawasan Ekonomi Khusus menjadi menarik, melakukan akselerasi pembangunan fisik terfokus pada daerah tertentu. Dengan demikian, kondisi fisik dan lingkungan pendukung terkait pariwisata bisa diperbaiki secara progresif tanpa menunggu pembangunan kawasan lain.

Selain itu, kemajuan digital dan kreativitas yang dimiliki generasi muda kita juga bisa mendukung perkembangan pariwisata. Kawasan Bangka Belitung menarik karena ada narasi mengenai film Laskar Pelangi. Ada banyak potensi pengembangan di kawasan lain yang memerlukan strategi dan pendekatan sistematis dan kreatif.

Konkretnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bisa mengumpulkan kementerian terkait agar upaya peningkatan sektor pariwisata di daerah bisa lebih terarah, baik dari sisi fisik, dukungan digital, maupun kreativitas manusianya. Kita memiliki potensi sangat besar di bidang pariwisata. Saatnya membangkitkan wisata dengan pendekatan revolusi industri keempat. ●