Senin, 14 Maret 2016

Java Jazz Festival

Java Jazz Festival

Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                                                  KORAN SINDO, 13 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Java Jazz Festival (JJF) Jakarta baru saja berlalu (4-6 Maret 2016). Seperti biasa, seru dan meriah, bukan hanya untuk penikmat musik jazz (genre musik yang tergolong paling sukar), melainkan juga sebagai ajang lifestyle (unjuk gaya) orang Jakarta, sehingga tiket yang harganya jutaan rupiah(di luar harga tiket masuk) buat menonton Sting laris dibeli orang, selaris kerak telur yang juga ludes walaupun dijajakkan oleh puluhan tukang kerak telur se-DKI di sekitar arena JJF maupun di dalam food court-nya. Saya sudah delapan kali ikut JJF.

Enam kali sebagai anggota The Professor Band (sampai tahun 2014), dan dua tahun terakhir menemani grup musik ABG, the Youth Jazz Musicians (YJM), yang cucu saya, Audria, 16, jadi salah satu vokalisnya dan kebetulan pelatihnya sama dengan pelatih TPB, Mas Harry Wisnu yang sekarang mengampu sebuah sekolah musik.

Tetapi saya bukan mau bercerita tentang JJF atau meresensi penampilan berbagai grup musik top dari dalam dan luar negeri, melainkan mau berbagi tentang bagaimana proses sebuah kelompok yang sangat heterogen dijadikan sebuah kelompok musik Jazz.

Seperti sudah saya sampaikan, musik jazz tergolong bergenre kelas tinggi. Biasanya dimainkan oleh orang-orang yang memang sudah sangat mahir bermusik dan sangat menguasai alat musiknya. Kalau bukan pemusik profesional (tentu bukan pemusik pro kelas organ tunggal), minimal musisi amatir yang sudah amat canggih seperti almarhum Prof Dr Benny Hoed (ayahanda musisi Anto Hoed) yang sangat piawai meniup harmonika.

Tetapi anggota-anggota TPB hanya setara dalam keprofesorannya. Yang belum profesor pun semuanya berlatar belakang akademik. Di luar itu mereka berbeda-beda. Apalagi dalam hal bermusik. Ada yang sangat canggih seperti Prof Benny Hoed, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang baru belajar (waktu saya pertama ikut JJF saya baru dua tahun belajar meniup saksofon).

Lebih dari itu, yang lebih penting genre musik kami berbeda- beda. Prof Ronny Nitibaskara (FISIP) selalu memainkan lagu-lagu Amerika Latin dengan mandolin ketika dia SMA dan Prof Agus Sarjono (FH) adalah gitaris metal, yang berbeda lagi dengan Prof Triatno (FT) yang gitaris pop. Tetapi semua harus disatukan dalam harmoni, suatu hal yang tidak mudah bagi para profesor yang biasa jalan sendiri-sendiri.

Akhirnya harmoni itu tercapai ketika semua menyadari pentingnya arti gotong-royong (saling menghargai, saling memberi hak yang sama) antara sesama pemusik, arti etos kerja yang tinggi (rajin berlatih) dan arti integritas pribadi (tidak membolos kalau sudah janji datang untuk latihan, atau minta izin kalau memang berhalangan.

Tidak bilang sudah hafal partitur, padahal belum, dll). Dengan sikap mental seperti yang dicanangkan pemerintah dalam program Revolusi Mental, maka tidak terlalu sulit untuk pelatih mengarahkan anggota TPB untuk mencapai harmoni sesuai tuntutan sebuah musik jazz. Hal yang sama terjadi pada kelompok musik ABG YJM.

Kecuali penabuh drum, keyboards, dan bas, semuanya pemusik pemula. Bahkan ada yang baru tiga bulan memegang saksofon. Usia dan pendidikan pun berbeda, ada yang masih SD, ada yang sudah kuliah, bahkan ada yang berkebutuhan khusus. Tetapi semuanya bisa didorong menjadi suatu harmoni musik jazz.

Faktor kuncinya arrangement yang sudah dibuat oleh pelatih. Semua harus membaca atau menghafal partitur. Improvisasi tidak dimainkan sendiri-sendiri, melainkan ditulis dalam partitur untuk setiap alat musik. Termasuk untuk saksofon tenor saya (saya sebagai pemusik tamu, karena saya bukan ABG lagi). Disiplin masih paling susah buat para ABG, maka para emak pun ikut campur.

Mereka menemani anak-anak mereka setiap latihan dan mendorong anak-anak mereka latihan di rumah. Kalau tidak latihan, tidak dikasih uang jajan! Emak-emak ini juga bergantian menyiapkan konsumsi setiap habis latihan. Kadang nasi kebuli, kadang hanya baso dan teh kotak.

Itulah yang membuat anak-anak selalu gembira sehabis latihan dan kompak sebagai sesama kelompok pemusik sehingga menghasilkan harmoni yang cukup baik untuk ditampilkan di sebuah festival musik sekelas JJF.

Harmoni. Itu kata kunci untuk bermusik jazz. Tetapi juga kata kunci buat semua kerja bareng apa saja, termasuk pemerintah. Coba kalau para profesor di TPB terus gaduh karena masing-masing merasa paling bisa bermusik, tidak akan dia bisa tampil di JJF sampai enam kali. Demikian juga kalau anggota YJM tidak bisa didisiplinkan oleh para emaknya, pasti hancurlah komposisi musiknya.

Begitu juga dengan Kabinet Kerja. Kalau para menteri terus gaduh, bahkan melawan Presiden, bagaimana Presiden bisa mengembangkan tim kabinet yang berkinerja untuk kepentingan bangsa dan negara. Presiden Jokowi adalah orang yang luar biasa. Integritas, etos kerja, dan semangat gotong-royongnya belum tertandingi presiden-presiden sebelumnya.

Tetapi memang dia bukan orang yang tegas seperti Pak Harto, yang bisa menyuruh semua pembantunya (termasuk para menteri dan asisten pribadi) kompak seperti tentara berbaris. Para menteri Kabinet Kerja harus bisa kompak sendiri untuk mencapai kinerja yang tinggi. Untuk itu, mereka harus profesional seperti musisi-musisi jazz profesional, yang tanpa komando langsung kompak begitu terdengar komando berupa ketukan stick drum.... tok-tok-tok...jreng! ●