Jumat, 18 Maret 2016

Jaringan Radikalisme sebagai Tantangan Berat Dunia Pendidikan

Jaringan Radikalisme

sebagai Tantangan Berat Dunia Pendidikan

Anton Prasetyo  ;   Pendidik di Ponpes Nurul Ummah Yogyakarta
                                             MEDIA INDONESIA, 14 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PELEDAKAN bom serta baku tembak di Jalan MH Thamrin pada Kamis (14/1) mempertegas eksistensi jaringan radikalisme di Tanah Air. Apalagi, pada akhir November 2015, kepolisian telah menerima sinyalemen terkait `janji' kelompok radikal Islamic State (IS) yang akan mengadakan `konser' di Indonesia.

Dalam tinjauan dunia pendidikan, keberadaannya menjadi bukti bahwa pendidikan kita belum mampu memberikan bekal kasih sayang kepada peserta didik secara menyeluruh. Lebih-lebih, para pelaku radikalisme mayoritas berusia muda. Profesor antropologi berkebangsaan Indonesia yang mengajar di Arab Saudi, Sumanto Al-Qurtuby, menyatakan dalam akun jejaring sosialnya bahwa muridnya pernah bercerita terkait IS (baca: kelompok radikal), yaitu korban perekrutan anggota IS rata-rata memiliki empat ciri, yakni berusia muda, mudah diprovokasi, memiliki wawasan keagamaan yang sempit dan konservatif, serta jobless atau pengangguran.

Analisis kasar, ketika para pelaku radikalisme merupakan anggota baru yang berusia muda, berarti pada dasarnya mereka bukanlah kelompok radikalisme. Mereka ialah para generasi muda yang terperangkap dalam jejaring kelompok radikal.

Dalam rangka menggalang kekuatan, kelompok radikal memasang jebakan seluasluasnya di segala bidang kehidupan, tak terkecuali pada bidang pendidikan. Kelompok radikal menyebarluaskan paham melalui media yang sesuai dengan tingkatan pendidikan calon `korban' secara masif.Besarnya biaya kampanye paham radikal tidak menjadi masalah karena selalu di-back up dari luar negeri. Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan aliran dana dari sejumlah negara, seperti kawasan Timur Tengah, untuk membiayai sejumlah teror radikalisme di Tanah Air. Aliran dana tersebut terekam PPATK sejak Juni 2015 hingga sekarang. (Media Indonesia, 18/1).

Bejibunnya uang menjadi penanda awal keberhasilan kampanye paham radikal. Di akhir zaman ini, perkara yang dapat ditukar dengan uang bukan hanya harta kekayaan yang bersifat materi, melainkan juga persahabatan, kekeluargaan, kasih sayang, bahkan keimanan.

Krisis perhatian

Sejatinya, sememesona apa pun kampanye yang digencarkan kelompok radikal tak akan berpengaruh sedikit pun manakala pemuda mendapatkan perhatian yang cukup. Hanya, tak sedikit dari pemuda kita yang tidak mendapatkan perhatian penuh dari guru ataupun orangtua. Di saat yang sama, kesempatan emas itu dimanfaatkan kelompok radikal untuk menyematkan dogmadogma ke dalam diri pemuda.Tanpa adanya bekal karakter serta proteksi diri yang kuat, mereka akan dengan mudah menerima paham baru yang ditawarkan.

Atas dasar penyelamatan pemuda dari paham radikal inilah, para guru dan orangtua harus semakin memperhatikan kebutuhan para pemuda. Tak dapat dimungkiri, banyak -- untuk tidak mengatakan mayoritas atau semua -- guru dan orangtua yang sibuk dengan kepentingan pribadi hingga melenakan perhatian kepada para pemuda yang ada di bawah tanggung jawab mereka.

Sebagai alternatif, para orangtua menitipkan anakanak mereka kepada lembaga pendidikan formal dan nonformal, meski harus membayar mahal. Harapannya, anakanak mereka mendapatkan perhatian penuh dari lembaga pendidikan sehingga dapat berkembang dengan baik dan menjadi generasi muda utama.

Sayangnya, hingga saat ini banyak lembaga pendidikan tak ubahnya dengan perusahaan. Orientasi utama lembaga pendidikan ialah mendapatkan keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Para guru pun mendidik siswa bukan atas dasar panggilan hati. Kualitas dan kuantitas pengajaran disesuaikan dengan gaji yang diberikan kepada guru.

Ketika lembaga pendidikan sudah dipercaya orangtua, tapi orientasinya tak berbeda dengan perusahaan, siswalah yang menjadi korban utama. Mereka yang seharusnya mendapatkan perhatian penuh terkait kebutuhan kecerdasan majemuk (multiple intelligence) justru terabaikan. Kondisi itu menjadi peluang emas bagi kaum radikal untuk mendoktrin para siswa dengan dogma-dogma sesat. Sebagai orang yang butuh perhatian, para siswa pun dengan mudah akan tergiur dengan bujuk rayu kelompok radikal. Mereka juga dijanjikan kemegahan dunia hingga jaminan surga dengan kemolekan para bidadarinya.

Kesempatan semakin besar diperoleh kelom pok radikal dalam menyebarkan paham manakala para siswa sudah beralih gelar menjadi mahasiswa dan berhijrah ke kota kota besar. Dengan status mahasiswa baru di perantauan, mereka akan merasakan atmosfer kebebasan di tengah majemuknya peradaban. Perhatian lembaga pendidikan tinggi (baca: perguruan tinggi) tak seintens lembaga pendidikan tingkat dasar hingga tingkat atas. Di luar jam pendidikan formal, perhatian orangtua hanya terasa saat menjalin komunikasi jarak jauh. Di saat-saat seperti ini, para mahasiswa begitu merindukan perhatian dari pihak luar yang diyakini mampu dijadikan pedoman perjalanan hidup.

Kesiapan mental untuk menerima hal-hal baru, banyaknya waktu luang, dan minimnya pengawasan dari orangtua inilah yang menjadikan para mahasiswa aktif mencari jati diri. Gayung pun bersambut, melalui jaringan dosen dan sesama mahasiswa seideologi, kelompok radikal menggencarkan kampanye dengan beragam cara. Dibuatlah diskusi keagamaan ataupun sosial, kegiatan jurnalistik, ataupun kegiatan-kegiatan sejenis yang sekiranya mampu menarik minat mahasiswa. Pelan tapi pasti, dogma-dogma dimasukkan ke diri setiap mahasiswa.

Ketika mahasiswa sudah memilih paham radikal sebagai jalan hidup, pengorbanan apa pun akan dilakukan demi `perjuangan' kelompoknya. Jangankan harus bermusuhan dengan saudara ataupun orangtua, menjadi pelaku bom bunuh diri pun berani dilakukan.

Upaya preventif

Realitas betapa tidak sedikitnya generasi muda yang menjadi korban dogma radikal menuntut para orangtua dan lembaga pendidikan untuk selalu memperhatikan para pemuda yang ada di bawah tanggung jawab mereka. Bagi orangtua, tak ada masalah ketika harus menyelesaikan tanggung jawab sesuai dengan karier masing-masing. Cetaklah anak-anak yang tak hanya cerdas dan gagah, tapi juga memiliki akhlakul karimah terhadap Tuhan dan sesama.

Bagi lembaga pendidikan, jangan sampai amanah yang diberikan orangtua terganggu dengan keinginan mendapatkan materi melalui proses transformasi ilmu yang sedang dilangsungkan. Selain memberikan pendidikan, perhatikanlah siswa-siswa dengan ketulusan hati karena mereka memerlukan sentuhan kehangatan perhatian. Jangan sampai pusat perhatian mereka diambil alih orang-orang yang tidak bertanggung jawab karena lembaga pendidikan tidak mampu memberikannya.

Ketika orangtua dan lembaga pendidikan telah memberikan pendidikan dan perhatian penuh kepada pemuda, pasti mereka akan mampu mengakhiri segala bentuk tindak radikal. “With guns you can kill terrorist, with education you can kill terrorism.“ (Dengan senjata kau bisa membunuh teroris, dengan pendidikan kamu dapat mengakhiri terorisme). Demikian ungkapan Malala Yousafzai, penerima penghargaan Nobel Perdamaian. Wallahualam. ●