Senin, 16 Mei 2016

Sadiq Khan dan Islam di Dunia Barat

Sadiq Khan dan Islam di Dunia Barat

Amidhan Shaberah ;   Ketua MUI (1995-2015);
Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama RI (1991-1996)
                                                    KORAN SINDO, 10 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

”You’re going to be sworn in before the Queen, what sort of bible would you like? I said: ”I swear on the Koran, I’m a Muslim”. They said: ”We haven’t got a Koran, can you bring your own?”. So I went to Buckingham Palace with my Koran and afterwards they returned it and I said: ”No, can I leave it here for the next person.”

Petikan kalimat di atas diucapkan Sadiq Khan ketika Gordon Brown, PM Inggris dari Partai Buruh, mengangkatnya sebagai menteri transportasi Inggris pada 2009. Dalam sebuah wawancara, Khan bercerita bahwa dirinya ditanya, ”Kau akan disumpah di depan Ratu, Injil apa yang kaupilih?” Dia menjawab, ”Saya muslim, saya bersumpah dengan Alquran.” Mereka berkata, ”Tapi, kami tidak punya Alquran. Bisakah kamu membawa Alquran sendiri?” Setelah disumpah Ratu, mereka mengembalikan Alquran itu kepada Khan dan dia berkata: ”Tidak usah dikembalikan. Bisakah saya meninggalkan Alquran itu disini untuk dipakai orang lain kelak?” (Evening Standard, 13 May 2015).

Mengomentari pernyataan Khan, seorang netizen menyatakan, ”Biarkan Alquran itu berada di Istana Buckingham untuk melantik muslim lain yang akan jadi perdana menteri Inggris). Luar biasa. Itulah ”Islam” di Inggris— sebuah negeri kiblat Dunia Barat.

Hari-hari ini dunia masih heboh ketika Sadiq Khan, 45, Sabtu (7/5) terpilih menjadi wali Kota (Major) London, ibu kota Inggris. Khan, putra imigran asal Pakistan, yang ayahnya bekerja sebagai sopir bus, dalam pemilihan wali Kota London tersebut menang 57% dari rivalnya, Zac Goldsmith, 41, dari Partai Konservatif, putra keluarga konglomerat Yahudi Inggris.

Terpilihnya Sadiq Khan sebagai wali Kota London ini benar-benar mengejutkan dunia. Mengejutkan karena kampanye rasis yang diluncurkan kubu Goldsmith ternyata tak memengaruhi pilihan warga Inggris. Bayangkan, kampanye Goldsmith yang sangat rasis ini: ”Apakah kita akan menyerahkan kota terhebat di dunia ini pada Partai Buruh yang menganggap teroris sebagai teman?” Sadiq Khan memang dari Partai Buruh.

Dan, setiap warga London pasti tahu Sadiq Khan juga beragama Islam – agama yang diidentikkan (sebagian besar media massa Barat) dengan agama terorisme. Apalagi, sekarang dunia tengah diramaikan isu kebiadaban tentara ISIS— Negara Islam Irak-Suria—yang telah membunuh ratusan ribu orang di berbagai belahan dunia.

Kenapa Sadiq Khan bisa terpilih sebagai wali kota di ibu kota negeri kiblat peradaban Barat tersebut? Jawabnya mungkin panjang sekali. Tapi, satu hal sangat jelas: Islam di Barat meski babak belur citranya (oleh isu terorisme yang dilakukan sebagian kecil umat Islam), tetaplah menarik bagi orang Barat yang berpikir objektif dan rasional. Orang Barat yang berpikir kritis niscaya tahu, Islam mengajarkan perdamaian dan kasih sayang, bukan terorisme.

Banyak sekali ayat Alquran yang menjelaskan bahwa Islam sangat menghormati nyawa manusia. Dalam Alquran dinyatakan bahwa dosa orang yang membunuh satu manusia tidak bersalah sama dengan dosa membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya, orang yang menyelamatkan hidup satu manusia, seakan-akan ia menyelamatkan seluruh umat manusia (QS 5:32).

Ayat ini menunjukkan penghargaan Alquran terhadap nyawa manusia yang luar biasa. Sejarah penaklukan Yerusalem (yang dikuasai Byzantium) oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada abad ke-12 yang berlangsung ”damai” misalnya sampai sekarang masih menjadi kisah paling mengharukan di Barat.

Betapa tidak, ketika Panglima Tentara Salib Richard The Lion Heart sakit, dengan menyamar, Salahuddin justru mengobatinya. Dalam Perang Salib tersebut, meski pasukan Kristen kalah, Salahuddin tetap menghormati Richard dan pasukannya. Karen Armstrong dalam bukunya, Holy War, menggambarkan, saat Salahuddin dan pasukan Islam membebaskan Yerusalem, tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh.

Tapi, bagaimana kini? ISIS, Al-Qaedah, dan Al-Shabab— untuk menyebut tiga contoh organisasi teroris yang memakai baju Islam—adalah pembantai-pembantai manusia tak bersalah. Mereka bertiga adalah contoh dari radikalisme, ekstremisme, dan terorisme yang ”menempel” pada Islam.

Barat juga tidak akan pernah melupakan peristiwa pemboman WTC di New York (11/9/2001), pembantaian Paris (13/11/2015) dan kantor redaksi majalah Charlie Hebdo (7/1/2015), peledakan kereta api di London (7/7/2005), dan pemboman Paddy’s Club, Bali (12/10/2002) yang pelakunya ”para teroris” berbaju Islam itu.

Tapi, masyarakat Barat terdidik yang berpikir kritis dan objektif juga tak terpengaruh dengan ”embel-embel” terorisme pada Islam. Justru sebaliknya yang terjadi: pascatragedi WTC ketika media massa Barat menghujat Islam, banyak orang Barat yang intelek penasaran ingin mempelajari Islam dan Alquran.

Betulkah Islam itu identik dengan terorisme? Hasilnya di luar dugaan: alih-alih membenci Islam, mereka justru tertarik dan simpati kepada Islam. Bahkan banyak di antara mereka kemudian masuk Islam. Pascatragedi 11/9/2001 tercatat rata-rata 20.000 warga AS masuk Islam per tahun.

Penelitian terbaru di AS makin mengejutkan: saat ini hampir 47% kaum muda AS justru simpati kepada perjuangan rakyat Palestina. Padahal, 10 tahun lalu jumlah mereka yang simpati hanya 15%. Jika simpati kepada perjuangan rakyat Palestina ini identik dengan simpati kepada Islam dan kebencian kepada Israel, data ini jelas sangat mengejutkan.

Cepat atau lambat, umat Islam akan menjadi warga masyarakat AS yang jumlahnya signifikan dan bisa memengaruhi kebijakan White House dan Capitol Hill. Kondisi yang sama terjadi di Eropa. Jumlah umat Islam terus bertambah, baik di Eropa Barat, Eropa Tengah, maupun Eropa Timur.

Pertumbuhan jumlah kaum muslimin di Eropa ini bukan hanya terjadi karena faktor kaum imigran muslim yang berasal dari Timur Tengah, Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh), dan Afrika, tapi juga berasal dari warga setempat yang berdarah asli Eropa. Di Inggris misalnya, menurut CNN, jumlah umat Islam sekarang sudah mencapai 4,7% dari populasi atau sekitar 3 juta jiwa.

Iniartinya, dalam 10 tahun terakhir, populasi kaum muslim di Inggris naik 100%. Yang menarik, kata CNN, jumlah umat Islam di Inggris ini tiap tahun terus meningkat. Hal yang hampir sama terjadi di Prancis, Belgia, dan Spanyol. Jumlah umat Islam terus meningkat. Ironinya, peningkatan tersebut justru terjadi ketika citra Islam terpuruk akibat isu-isu terorisme.

Saat ini memang citra Islam masih terpuruk di Inggris akibat isu-isu terorisme, tapi orang-orang Inggris percaya, para pelaku terorisme adalah orang-orang biadab yang ”menggunakan Islam” sebagai topeng. Sedangkan Islam adalah agama yang dalam sejarah terbukti pernah memberikan teladan hidup yang damai, toleran, dan cinta pengetahuan kepada umat manusia.

Sejarah juga membuktikan revolusi industri di Inggris pun terpicu oleh penyebaran dan perkembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh umat Islam. Akhirnya, terpilihnya Sadiq Khan sebagai wali Kota London menyadarkan Barat, terutama Inggris, bahwa kampanye hitam terhadap Islam sudah bukan zamannya lagi.

Yang sekarang dibutuhkan dunia adalah kerja sama antaragama untuk membangun peradaban yang cinta damai dan membangun kesejahteraan umat manusia. Dalam Alquran disebutkan, Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan dan menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal-mengenal (Al-Hujarat 13).

Ayat ini menyuruh manusia agar berpikir universal, humanis, dan saling menghargai. Nabi Muhammad sendiri menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain. ●