Sabtu, 25 November 2017

Ha-ha-ha

Ha-ha-ha
M Subhan SD ;  Wartawan Senior Kompas
                                                    KOMPAS, 23 November 2017



                                                           
Politik itu memang keras, penuh intrik, akrobatik, tetapi juga penuh humor. Contoh, kasus Setya Novanto mungkin humor politik paling komprehensif. Gara-gara mobil yang membawa Novanto menabrak tiang listrik di kawasan Permata Hijau, Jakarta, malah tiang listriknya yang jadi trending topic dan subyek berswafoto (selfie). Sampai-sampai ada klarifikasi dari PLN bahwa itu bukan tiang listrik PLN, tetapi tiang penerangan jalan umum milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebegitu pentingkah sampai tiang lampu diklarifikasi.

Maklum, Novanto bukan orang sembarangan. Dia Ketua Umum Partai Golkar. Dia juga Ketua DPR, tempat “orang- orang terhormat”. Dia orang penting. Dalam puisi “Orang Penting”, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menorehkan kata-kata jenaka sarat makna: “Orang penting lain dengan yang lain/Dia beda karena pentingnya/Bicaranya penting diamnya penting/Kebijaksanaannya penting/Ngawurnya pun penting/Semua yang ada padanya penting/Sampai pun yang paling tidak penting”.

Begitulah orang penting. Yang tak penting pun jadi penting. Novanto memang lain. Misalnya, sesaat setelah kecelakaan, pengacaranya menjelaskan “mobilnya hancur, cur, cur…”. Saat yang sama televisi meng-close up mobil Toyota Fortuner yang rusak cuma sekitar bemper depan. Ada juga ungkapan “luka parah, berdarah, benjol-benjol segede bakpao, hingga gejala gegar otak”. Tetapi, orang sulit menemukan semua fakta itu. Itulah saktinya. Mungkin tak mudah dilihat secara kasatmata.

Kalau melihat sebagai humor politik, jangan masukin hati, karena nanti bisa sakit hati, stroke, atau serangan jantung. “Bahasa politik” yang menggelikan justru bisa mengundang tawa. Kata George Orwell (1946), novelis Inggris, “bahasa politik … dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur ??dan pembunuhan jadi terhormat”, dan, “Musuh besar dari bahasa yang jelas adalah ketidaktulusan,” tulis Eric Arthur Blair (1903-1950), nama asli penulis novel 1984 yang terkenal itu.

Terbayang mengapa persoalan politik banyak menjadi bahan lelucon. Meme-meme lucu bertaburan di media sosial. Begitu kreatifnya secepat kilat muncul game “tiang listrik: siapa bilang nabrak tiang listrik gampang?” Pertanyaannya kenapa masalah serius menjadi lucu-lucuan? Korupsi adalah persoalan besar bangsa ini. Tetapi, tetap banyak pejabat yang korup dan serakah. Ada politikus yang nyinyir terus, pihak lain salah melulu. Aneh! Kewarasan sudah lenyap. Perilaku begitu membuat rakyat lelah, penat, dan muak. Dan, humor adalah ekspresi kemuakan, sebelum kemarahan besar.

Sayangnya, meme-meme lucu itu diadukan ke polisi. Dianggap penghinaan. Lalu bagaimana praktik korup yang dilakukan para politikus, apakah tidak menghina dan mengkhianati rakyat? Asal tahu saja, di dunia ini orang memahami meme sebagai salah satu ekspresi kritik satir. Kritik satir justru menyembuhkan luka patologis di arena politik. Kritik satir itu melekat dalam demokrasi. Antikritik berarti tiranik.

Di Uni Soviet dulu humor politik sering terdengar. Ilmuwan politik Nikolai Zlobin (Humor as Political Protest, 1996) menceritakan pemerintah Soviet takut pada lelucon yang mewabah. Sampai ada anekdot tentang ketakutan rezim terhadap lelucon. Pemerintah menggelar kontes rahasia mencari lelucon terbaik. Hadiah pertama diganjar 25 tahun penjara, hadiah kedua dapat 20 tahun, dan hadiah ketiga 15 tahun. Lelucon tentang Lenin mendapat hadiah utama, yaitu dieksekusi.

Gorbachev, sang tokoh reformis, juga suka bercerita dan mendengarkan lelucon, terutama tentang dirinya. Dia bercerita tentang dua pria yang antre membeli vodka. Sejam, dua jam berlalu, antrean hampir tak bergerak. Semua orang kesal. Lalu, salah satu pria tidak sabar lagi; “Aku muak di mana-mana antre. Anda tidak bisa membeli apa pun, toko-toko kosong. Ini karena Gorbachev dan perestroikanya yang bodoh. Cukup sudah! Aku mau ke Kremlin sekarang untuk membunuh dia.” Setelah dua jam, pria itu kembali. Masih marah dan berkata, “Persetan dengan itu! Ternyata antrean di Kremlin untuk membunuh Gorbachev lebih panjang.” Ha-ha-ha.

Akhirnya tersadar anekdot di Uni Soviet dulu rasanya lebih lucu dari komedi politik di negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar