Sabtu, 25 November 2017

Membaca Menguatkan Nalar

Membaca Menguatkan Nalar
Anggi Afriansyah ;  Peneliti Sosiologi Pendidikan LIPI;
Pernah menjadi guru PPKn di SMAI Al Izhar Pondok Labu
                                          MEDIA INDONESIA, 24 November 2017



                                                           
“SAYA tidak pernah yakin, dan tidak pernah terlalu percaya bahwa tulisan saya dibaca orang. Saya berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, tapi yang bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupannya.” (Seno Gumira Adjidarma)

Kata-kata tersebut dinyatakan Seno Gumira Adjidarma (SGA) pada penganugerahan SEA Write Award pada 1997. Kita bisa saja tidak setuju dengan pernyataan SGA tersebut. Akan tetapi, apa yang diungkapkannya 20 tahun yang lalu tersebut perlu menjadi bahan renungan bersama. Di saat informasi hoaks yang mematahkan akal sehat begitu mudah tersebar di media sosial, kemampuan membaca secara kritis setiap informasi menjadi bagian penting untuk memfilter berita-berita dusta tersebut.

Sampai saat ini membaca memang belum menjadi tradisi baik di negeri ini. Proses pendidikan bahkan menjauhkan anak untuk bersemangat melahap untuk membaca beragam buku. Kultur pembelajaran di sekolah belum menjadikan pentingnya membaca sebagai medium utama menguatkan nalar. Pembelajaran yang miskin referensi membuat anak tidak memiliki cukup perspektif memadai dalam memandang persoalan hidup yang semakin kompleks.

Buku belum menjadi sahabat terbaik bagi para peserta didik. Harga buku di pasaran pun masih terhitung mahal. Tak semua lembaga pendidikan memiliki perpustakaan yang memadai. Padahal, Cicero, filsuf ternama, pernah berujar, “A room without books is like a body without a soul.” Keluasan perspektif tidak akan terwujud jika lembaga pendidikan di negeri ini bahkan tidak memiliki koleksi buku yang memadai dan tak membuat anak bersinggungan secara akrab dengan beragam referensi.

Peran orangtua dan guru

Contoh terbaik agar seorang anak mau dan senang membaca adalah orang-orang dewasa di sekitarnya. Orangtua dan gurulah yang dapat mengenalkan anak ke dunia literasi sejak dini. P Swantoro (2002) dalam bukunya, Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, mengisahkan Soekarno dan Hatta, dua tokoh pembaca buku yang sangat radikal membaca berbagai jenis buku.

Bung Karno banyak membaca buku karena ia dapat dengan mudah meminjam koleksi perpustakaan Perhimpunan Teosofi tempat bapaknya merupakan anggota dari organisasi tersebut. Kondisi itu membuatnya terpapar banyak bacaan yang belum tentu dibaca anak-anak sebayanya. Demikian juga dengan Bung Hatta yang mendapat banyak bacaan dari buku yang dibelikan Ma’ Etek Ayub, pamannya. Secara rutin Bung Hatta membaca buku-buku nonpelajaran setiap sore dan buku pelajaran selepas malam. Fundamen awal dari orang dewasa sekitarnyalah yang membuat keduanya meminati buku.

Seorang siswa yang pernah saya ajar bercerita mengapa ia sangat gemar membaca buku. Kesenangannya membaca sangat dipengaruhi orangtua dan guru. Sejak berusia satu setengah tahun, kedua orangtuanya sudah memperkenalkannya pada buku. Tak mengherankan jika saat ini di tengah kesibukannya berkuliah di salah satu fakultas kedokteran di negeri ini, ia masih menyempatkan diri untuk membaca. Dalam satu bulan ia dapat menyelesaikan dua sampai tiga buku di luar buku perkuliahan. Hasrat membacanya lebih terpenuhi jika libur kuliah, sebab 20 buku dengan beragam genre dapat dilahapnya habis.

Seorang rekan yang saat ini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Inggris bercerita. Setiap minggu anaknya yang masih bersekolah di SD diminta untuk memilih buku yang paling disukainya di perpustakaan sekolah untuk dibaca di rumah. Ia diminta gurunya untuk menyelesaikan buku tersebut dalam satu minggu. Awalnya, sang anak memang hanya membaca satu buku per minggu sesuai dengan tugas yang diberikan. Namun, lama-lama karena sudah terbiasa membaca, dalam tempo satu sampai dua hari satu buku diselesaikannya.

Seorang rekan guru yang mengajar bahasa Indonesia bercerita bahwa meminta anak membaca buku memang bukan perkara mudah. Meskipun demikian, ia terus memaksa anak-anak untuk membaca. Di pelajaran yang diampunya membaca buku sastra adalah kewajiban yang tak bisa ditawar. Sebab itu, ia menyediakan waktu khusus bagi anak untuk membaca dan menargetkan agar bacaannya tersebut dapat diselesaikan. Untuk memastikan apakah penugasan tersebut efektif, ia akan mengecek secara berkala apa yang sudah dibaca siswanya. \

Ia juga memberikan penugasan untuk membuat adaptasi drama dan film pendek dari karya sastra Indonesia. Karena harus membuat skenario, mau tidak mau, akhirnya anak-anak harus membaca tuntas buku yang akan diadaptasi tersebut. Tugas macam inilah yang lebih diminati peserta didik.

Guru lainnya menceritakan, dalam pelajaran bahasa Inggris yang diampunya, ia menggunakan novel berbahasa Inggris sebagai salah satu media pembelajaran. Dari novel yang dibacanya, anak-anak diminta untuk membuat daftar kata kerja (verb) maupun kata sifat (adjective) atau mengalihkan cerita novel menjadi kartun. Pola ini menurutnya membuat anak akrab dengan buku bahasa Inggris dan bahasa Inggris itu sendiri. Adanya tugas tersebut membuat anak serius membaca.

Membaca buku memang memerlukan motivasi yang tinggi sehingga dibutuhkan guru dan orang dewasa perlu mencari alasan agar anak mau membaca. Kelly Gallagher (2003) dalam buku Reading Reasons: Motivational Mini Lessons for Middle and High School menyebutkan beberapa alasan mengapa seseorang harus membaca. Ia menyebut bahwa membaca itu bermanfaat, memperkaya kosakata, menjadikan diri sebagai penulis yang lebih baik, membuat lebih cerdas, membantu menghadapi dunia kerja, menguntungkan secara finansial, memudahkan masuk perguruan tinggi, dan melawan penindasan orang lain.

Yang juga tak bisa dilupakan ialah pemenuhan kelengkapan beragam buku untuk memuaskan dahaga anak-anak terhadap buku yang berkualitas. Tanpa itu minat baca anak tidak akan terpenuhi. Buku hanya akan akrab dengan kalangan yang mampu secara finansial.
Para orangtua dan guru memang harus mencari alasan-alasan terbaik untuk menguatkan minat baca anak. Varian strategi mesti dilakukan agar anak bersemangat menjadikan buku sebagai sahabat terbaik. Upaya terbaik harus dilakukan agar membaca menjadi laku untuk menguatkan nalar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar