Kamis, 30 November 2017

Dai Kombatan

Dai Kombatan
Said Aqil Siroj ;  Ketua Umum PBNU
                                                    KOMPAS, 29 November 2017



                                                           
Bermunculannya banyak dai pertanda bahwa ada kebutuhan di masyarakat untuk mendapatkan guyuran rohani. Masyarakat kita saat ini, dalam banyak amatan menunjukkan gairah spiritualitas dan keagamaan yang tinggi. Sementara fakta lain menunjukkan, masyarakat kita juga sedang dirundung meningkatnya pemahaman, sikap, dan tindakan radikalisme.

Peristiwa terorisme yang berkali-kali terjadi, terlebih akibat sihir Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), membuktikan eskalasi radikalisme kerap sulit terbendung. Tampaknya ini juga fenomena mondial atau global yang sedang bergeliat di berbagai belahan dunia. Melahirkan dai yang kompeten telah banyak dilakukan berbagai pihak. Berbagai pelatihan dai digelar secara berkala. Ada dai yang lahir dari pelatihan dan juga ada dai yang lahir secara natural. Munculnya dai yang kemudian masyarakat menyebutnya sebagai “dai selebritas” menjadi fenomena tak terelakkan akibat “pasar” yang kian membesar. Seakan tiap dai punya “ceruk” pasar masing-masing.

Tak kaget pula, dengan berkembangnya teknologi digital, semakin pula melahirkan “dai-dai Youtube” yang tampil dengan segala tausiah bermacam wujud. Yang membuat kita mengelus dada, muncul lagi dai-dai produk ini yang sering tak terkendali. Ujaran-ujaran intoleran, kebencian, dan ajakan radikal mewarnai wajah dakwah di negeri kita. Tak sedikit yang lalu menetaskan pengikut militan. Generasi milenial begitu mudah terseret arus radikalisme karena sihir dakwah “keras”. Para radikalis mengendus kesempatan dan lalu bermain dengan menyalakan bara.

Meniti dakwah moderat

Belum lama berselang, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyelenggarakan kegiatan yang terasa menohok. Tak seperti biasanya dengan kegiatan yang ” monoton”,  tampaknya BNPT ingin melempar “jurus” inovatifnya yang tentu saja berdasar dari hasil penelitian secara saksama. Ada kebutuhan yang mendesak diwujudkan sehingga meniscayakan perlunya aksi yang lebih jitu.

Apa gerangan? BNPT menyelenggarakan “Pelatihan Public Speaking” yang ditujukan pada peserta khusus dari para mantan napi teroris (napiter). Ada 30 napiter dari berbagai daerah, termasuk daerah-daerah berzona “merah”. Mereka dikumpulkan di sebuah resor di Bogor selama empat hari dan digodok oleh para pelatih kampiun. Materi yang diajarkan mulai dari pelatihan motivasi, hingga bagaimana mampu berbicara terampil, ditambah pelatihan bagaimana tampil memesona di depan layar kamera.

Dari sejumlah informasi, pelatihan itu menuai sukses. Para peserta merasa mendapat “sesuatu” yang baru. Peserta “binaan” BNPT ini berharap kegiatan yang seperti  itu bisa rutin diadakan. Dan, yang terpenting, bagi peserta ada tindak lanjut. Karena bagi mereka, kegiatan berdakwah sudah menjadi panggilan. Hanya mereka perlu diberikan wadah yang pasti. Mereka butuh “panggung” untuk mementaskan pengalaman “tragis” mereka saat berada dalam jeratan radikalisme.

Ternyata, pelatihan ini sedari awal dirancang berkesinambungan dan peserta nantinya akan disalurkan BNPT melalui kegiatan berkala Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang merupakan perpanjangan tangan BNPT di daerah.

Kegiatan pelatihan itu sejatinya sepadan dengan istilah “pelatihan dai” yang umum dilaksanakan. Kedahsyatan pelatihan model  BNPT bisa dilihat dari pesertanya yang semua mantan napiter. Semua mantan kombatan yang pernah melakukan aksi teror dan terlibat jaringan teroris. Semua adalah sosok-sosok gaek dan terlatih. Tidak ada satupun yang  “unyu-unyu”. Dan, mereka sekarang sudah “tobat” serta berikrar kembali ke NKRI.

Para eks kombatan ini tepat diberi pelatihan dakwah. Pertama,  mereka sudah memiliki “modal” dari sisi pengetahuan keagamaan maupun keterampilan berkomunikasi. Mereka ada yang memang berasal pendidikan keagamaan dan berprofesi menjadi “ustaz”. Dengan kepiawaiannya, terbukti mereka terampil menarik pengikut yang militan.

Dari sinilah, perlu pelatihan kembali untuk menyatukan visi dan misi dalam bingkai kebangsaan dan keindonesiaan. Mereka harus diajak menyuarakan dakwah yang damai dan menangkal kampanye radikal.

Kedua, para eks kombatan ini mempunyai banyak pengalaman di dunia radikalisme. Bagaimana proses mereka awal terpengaruh dan lalu masuk jaringan radikal hingga kemudian melakukan amaliyat teror.  Pengalaman mereka penting untuk disampaikan kepada masyarakat dalam rangka menjadi ibroh (pelajaran berharga) sehingga meresap sebagai hikmah (wisdom) bagi masyarakat untuk bersigap menghindar dari pesona radikalisme. Dengan kata lain, ini mampu menjadi daya tangkal masyarakat dari radikalisme dan terorisme.

Ketiga, dari segi kebutuhan dan momentum pelatihan ini sangat tepat diadakannya di saat menjamurnya “dai-dai kalap” yang melempar kebencian dan mengajak pada jalan radikal. Sudah banyak generasi bangsa ini jadi korban dengan tiba-tiba menghujat keluarganya dan mengumpat NKRI serta aparaturnya dengan ungkapan thoghut, kafir, bidah atau sirik? Begitu juga anak muda yang menghunus pisau melawan aparat. Atau pelemparan bom molotov ke kantor polisi dan bahkan pembakaran kantor polisi seperti yang terjadi di Sumatera Barat. Mereka menjadi lone wolf yang begitu liar dan ganas karena   berlebihan (ghuluw) dalam sikap keagamaannya akibat tebaran dakwah picik baik dari saluran “manual” maupun “dunia maya”.

Saatnya “dai kombatan”

Nah, jelaslah manfaat pelatihan dai kombatan.  Ini menjadi bukti betapa pentingnya melahirkan dai dari mantan napiter. Selama ini mungkin kita lebih terperangah oleh dai-dai dari habitat “normal” saja. Nyatanya, tak jarang mereka membuat masyarakat jenuh dan bukan tak mungkin melahirkan sikap apatis terhadap model, sosok atau juga “menu-menu” dakwah yang begitu-begitu saja. Masyarakat perlu mendapatkan curahan kerohanian baru agar bisa meraih cara pandang luas serta mampu menjadikan pelajaran berharga.

Kini, kita perlu lebih menoleh pada mereka yang pernah berada di “jalan yang salah” karena gairah keagamaan yang menyala-nyala tanpa sikap kritis atau akibat “kecanggihan” komunikasi para mentor radikal. Kita tak bisa menepis fakta bahwa menjadi radikal atau moderat adalah buah dari pelatihan. Sebagai tandingan, karena itu  pelatihan dakwah yang membawa pada sikap moderasi, toleransi dan inklusif perlu digencarkan dengan sasaran utama mereka yang punya pengalaman di jejaring radikalisme.

Pendekatan lunak sebagai strategi utama deradikalisasi terorisme yang telah dijalankan selama ini memerlukan langkah-langkah lebih inovatif. Negara kita sudah mendapat acungan jempol dari negara lain karena dipandang berhasil menanggulangi terorisme. Kita tentu bangga. Namun, kita akan lebih bangga bila mampu melahirkan sosok-sosok “dai kombatan” yang dulunya mereka mendakwahkan kekerasan dan anti-NKRI, sekarang beralih mendakwahkan kedamaian dan cinta NKRI. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar