Sabtu, 25 November 2017

Guru dan Investasi Masa Depan

Guru dan Investasi Masa Depan
Susanto ;  Ketua KPAI, menulis di sela-sela mengikuti acara Learning Session "Investing in Children's Right", 22-24 November 2017 di Manila, Filipina
                                                DETIKNEWS, 24 November 2017



                                                           
Guru dan wajah peradaban masa depan sesungguhnya tak dapat dipisahkan. Kondisi guru saat ini akan menghasilkan potret anak bangsa 15 tahun, hingga ratusan tahun ke depan. Maka, jika kita serius mengelola guru, sejatinya kita sedang mendesain kualitas generasi bangsa kita sekian tahun yang akan datang. Inilah yang disebut investasi besar bagi negeri.

Sering sebagian orang berpikir bahwa investasi dimaknai dengan hitung-hitungan ekonomi. Sementara, saat memperhatikan nasib guru, sekadar dimaknai sebagai balas budi atas jasa-jasa baiknya. Padahal sejatinya kita sedang berinvestasi besar mencetak keandalan anak negeri melalui seorang guru. "Invest in the future, invest in teachers. Teachers are an investment for the child future of all countries."

Mayoritas guru memang telah mengalami peningkatan kesejahteraan. Apalagi guru PNS di DKI Jakarta tentu surga bagi guru Indonesia. Adanya kebijakan sertifikasi, dari sisi peningkatan kesejahteraan ada perbaikan, meski dari sisi manajemen perlu pembenahan agar guru fokus mendidik dan bukan lagi terbebani hal-hal lain yang berpotensi mengganggu proses internalisasi nilai-nilai unggul pada anak.

Namun, meskipun sebagian besar ada perbaikan, masih banyak pula guru honorer dan sebagian guru sekolah swasta bersusah payah mendidik anak terutama di pelosok desa. Mereka jauh dari "peradaban", bahan ajar terbatas, sumber pengetahuan minim, ditambah upah yang tak sebanding dengan perjuangannya mendidik anak negeri.

Bayangkan, saat ini masih ada guru —yang pekerjaannya begitu mulia— digaji 200-350 ribu rupiah per bulan. Tetapi, napas perjuangannya untuk mendidik anak tak padam. Belum tahu pasti, mengapa guru-guru ini tetap betah mengabdi, di tengah biaya hidup yang tidak ringan. Yang pasti, dedikasi guru-guru ini sangat besar bagi anak bangsa.

Inilah salah satu tantangan mewujudkan guru ramah anak. Memang faktor terbesar untuk mewujudkan guru ramah anak adalah kualitas cara berpikir. Namun, lemahnya ekonomi guru tampaknya juga berdampak bagi performa guru Indonesia.

Problem anak semakin kompleks, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang tak terbendung. Bullying, kejahatan pornografi, trafficking, kejahatan berbasis cyber bahkan radikalisme telah menjadi penyakit baru. Jika guru tak mampu mendeteksi dan mencegah, hal ini berpotensi melemahkan kualitas anak bangsa ke depan. Padahal pada pundaknya, kita semua menitipkan negara ini.

Pada pundak guru, kita akan mengukir nama besar Indonesia di kemudian hari, dan pada pundaknya kita akan memastikan kualitas peradaban kita. Maka, tak ada kata lain: Muliakan guru, agar namanya tetap harum.

Tak ada bangsa yang besar tanpa peran seorang guru. Belajarkan guru, agar tak mudah goyah, tak mudah putus asa, dan tak mudah marah ketika ada siswa yang perlu sentuhan pendidikan yang ramah. Bangkitkan jiwa guru, agar memiliki etos pendidik sejati, bukan semata bekerja dengan hitungan hari.

Selamat Hari Guru! Semoga guru Indonesia semakin kompetitif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar