|
Di
Balik Kunjungan Presiden Korea Selatan
ke
Indonesia
Justin Jeongho Kim ; Penerbit Times Indonesia;
Anggota Dewan Penasihat
Unifikasi Republik Korea
|
KOMPAS,
08 November
2017
|
Berita tentang Indonesia tidak
begitu populer bagi kebanyakan rakyat Korea Selatan. Biasanya nama Indonesia
baru menyita perhatian banyak orang Korsel jika itu berkaitan dengan bencana
alam, seperti gunung meletus atau tsunami.
Namun, hal itu tak menafikan
kedekatan yang telah terjalin antara kedua negara. Saat ini, Indonesia
termasuk mitra dagang utama Korsel, menduduki urutan kesepuluh. Selain itu,
lebih dari 40.000 orang Korsel tinggal di Indonesia, jumlah yang kira-kira
sama dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini bermukim dan mencari
penghidupan di Korsel. Hingga kini telah banyak terjadi pertukaran di bidang
sumber daya manusia dan sumber daya alam di antara kedua negara.
Presiden terpilih, Moon Jae-in,
diagendakan berkunjung ke Indonesia, 8-10 November 2017. Selama ini, setiap
Presiden Korsel melakukan kunjungan ke
Indonesia saat mereka memegang jabatannya. Namun, apa yang membuat kunjungan
Presiden Moon kali ini begitu istimewa? Alasannya, karena jabatan presiden
yang tengah diemban Moon dipandang sangat penting di mata rakyat Korsel.
Dalam kunjungannya ke AS pada
September 2017, Moon dianugerahi Global Citizen Award. Saat menerima
penghargaan ini, sang presiden menyebut dirinya hanya sebagai bagian kecil
dari The Candlelight Revolution dan memandang seluruh rakyat Korea berhak
menerima penghargaan tersebut, bukan dirinya.
The Candlelight Revolution
adalah demonstrasi besar-besaran melibatkan tak kurang dari 17 juta orang
yang turun ke jalan selama enam bulan sejak Oktober 2016 hingga April 2017,
menuntut pemecatan Presiden Park Geun-hye, anak perempuan mendiang diktator
Park Chung-hee. Saat demonstrasi terjadi, setiap langkah untuk melindungi
posisi kepresidenan presiden yang tengah berkuasa saat itu dibalas oleh
kekuatan rakyat yang sudah bulat menghendaki pergantian kekuasaan. Akhirnya,
sang presiden berhenti dari kekuasaan dan pemakzulannya diperkuat Mahkamah
Konstitusi.
Dalam sejarah, biasanya
pergantian kekuasaan berlangsung jauh dari nuansa damai. Seperti di
Indonesia, rakyat Korea juga punya sejarah untuk bangkit melawan kekuasaan
diktator dan biasanya diwarnai kekerasan. Namun, kali ini, rakyat Korsel
memilih jalan damai untuk menumbangkan rezim yang tengah berkuasa. Telah
tercatat dalam sejarah untuk pertama kali seorang presiden diberhentikan
tanpa ada pertumpahan darah.
Wajar jika kejadian itu disebut
Glorious Revolution versi Korea-meminjam istilah dari pergerakan di Inggris
pada 1688. Jika saat itu Glorious Revolution digerakkan kaum elite untuk
mengganti raja, The Candlelight Revolution digerakkan rakyat. The Candlelight
Revolution adalah realisasi dari
demokrasi yang sesungguhnya, yang secara harfiah berarti power of
people (kekuatan rakyat).
Kebijakan luar negeri
Tren partisipasi di bidang
politik di dunia saat ini rendah. Contohnya di AS. Jumlah pemilih pada
pilpres terakhir hanya 56,9 persen, terendah sejak tahun 2000. Rendahnya
partisipasi pemilih kiranya berasal dari pandangan sebagian besar orang
dengan hak pilih yang merasa bahwa mereka bukan merupakan pemain utama di bidang
politik.
Hal sebaliknya terjadi pada
pilpres di Korsel 2017. Jumlah pemilih mencapai angka tertinggi dalam
sejarah. Hal itu karena setiap orang yang memiliki hak pilih di Korsel
menyadari betul dirinya bisa menjadi kekuatan yang mendorong sebuah perubahan
menyeluruh di negaranya. Maka, Presiden Moon terpilih dengan bermodalkan
dukungan tinggi dari rakyat Korea.
Salah satu harapan rakyat Korea
bagi presiden yang baru adalah untuk menerapkan kebijakan luar negeri yang
seimbang dan harmonis. Hal ini berkaitan dengan ketegangan yang terjadi di
Semenanjung Korea dengan adanya keputusan Korea Utara (Korut) yang secara
keras kepala berkehendak melanjutkan program pengembangan nuklirnya. Korsel
selama ini telah mengalami masa-masa sulit saat harus berhadapan dengan dua
negara adidaya, China dan AS.
Selama lebih dari setengah abad
Korea terpecah menjadi dua, Korut yang didukung China untuk mengawasi AS,
sedangkan Korsel didukung AS untuk meredam kekuasaan China. Oleh karena itu,
kebijakan luar negeri Korsel selalu dipengaruhi AS. Sebenarnya tak selayaknya
bagi China mempertahankan keseimbangan kekuasaan di kawasan itu dengan
meluncurkan sanksi ekonomi bagi Korsel. Ini bisa merugikan karena kekuatan
ekonomi Korsel sangat tergantung ekonomi “negeri tirai bambu” ini.
Sebuah pelajaran pahit telah
diambil Korsel dari keadaan yang tak mudah seperti ini. Bahwa negaranya tak
selaiknya terisolasi baik secara diplomatik maupun ekonomi dan sebaliknya
mencari sebuah terobosan untuk keluar dari kemelut krisis yang ada. Karena
Korsel adalah bagian dari negara-negara di Asia Timur, mencari jalan keluar
dengan mengandalkan bantuan negara-negara tetangganya di Asia Tenggara
menjadi pilihan masuk akal. Karena itu, dalam tradisi kunjungan Presiden
Korsel, setelah melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke AS, pilihan
mengunjungi Indonesia dalam kunjungan kenegaraan keduanya mengandung makna
simbolis.
Dengan tingkat elektabilitas
Moon mencapai lebih dari 70 persen, kebijakan politik luar negeri Moon juga
mencerminkan kehendak sebagian besar rakyat Korsel. Saat ini, Moon berencana
mengumumkan The New Southern Policy, sebuah kebijakan yang bertujuan
mempererat hubungan Korsel dan negara-negara Asia Tenggara.
Indonesia saat ini memegang
peran sentral dalam kebijakan baru Presiden Moon. Di dalamnya tebersit sebuah
harapan dari rakyat Korsel agar hal itu dapat
membuka jalan baru untuk hubungan yang lebih baik antara kedua negara
dan semoga rakyat Indonesia menyambut dengan baik inisiatif tersebut. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar