Rabu, 25 Oktober 2017

Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Industrialisasi?

Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Industrialisasi?
Dani Rodrik ;   Profesor Politik Ekonomi Internasional
di Sekolah Pemerintahan John F Kennedy, Universitas Harvard; 
Penulis Economics Rules: The Rights and Wrongs of the Dismal Science
                                                      KOMPAS, 24 Oktober 2017



                                                           
Meskipun harga komoditas di pasar global rendah, banyak negara yang tergolong paling miskin di dunia dan selama ini sangat bergantung pada ekspor komoditas mampu menunjukkan kinerja ekonomi yang baik.

Pertumbuhan perekonomian negara di Sub-Sahara Afrika melambat secara drastis sejak 2015, tetapi hal ini lebih mencerminkan persoalan spesifik di tiga negara dengan perekonomian terbesar di wilayah itu: Nigeria, Angola, dan Afrika Selatan.

Etiopia, Pantai Gading, Tanzania, Senegal, Burkina Faso, dan Rwanda diproyeksikan mencapai pertumbuhan 6 persen atau lebih tinggi lagi pada tahun ini. Di Asia, hal yang sama terjadi pada India, Myanmar, Banglades, Laos, Kamboja, dan Vietnam.

Hal ini merupakan sebuah kabar baik, tetapi membingungkan. Negara berkembang yang berhasil mencapai pertumbuhan pesat dan berkesinambungan tanpa bergantung pada kenaikan harga sumber daya alam pada umumnya mampu mencapai itu karena kebijakan industrialisasi berorientasi ekspor yang ditempuhnya.

Meski demikian, hanya sedikit dari negara-negara itu yang mengalami industrialisasi. Porsi manufaktur di negara berpendapatan rendah di Sub-Sahara Afrika umumnya berada di angka stagnan, di beberapa negara bahkan mengalami penurunan. Dan, meski banyak sorotan mengenai ”produk buatan India” (Make in India), yang merupakan salah satu slogan penting Perdana Menteri Narendra Modi, tak banyak indikasi yang menunjukkan terjadinya industrialisasi yang pesat di negara tersebut.

Peran manufaktur

Manufaktur menjadi kunci penting untuk mencapai pertumbuhan ekonomi bagi negara berpendapatan rendah karena tiga hal. Pertama, tidak sulit untuk mengadopsi teknologi dari luar negeri dan menciptakan lapangan kerja dengan produktivitas tinggi.

Kedua, pekerjaan manufaktur tidak memerlukan keterampilan tinggi: petani dapat bertransformasi menjadi pekerja pabrik hanya dengan investasi kecil untuk pelatihan keterampilan. Ketiga, permintaan terhadap produk manufaktur tak dibatasi pendapatan dalam negeri yang rendah: produksi dapat dikembangkan tanpa batas, melalui ekspor.

Namun, keadaan berubah. Banyak fakta di lapangan menunjukkan terjadinya pergeseran manufaktur, menjadi semakin skill-intensive atau menuntut keterampilan tinggipekerjanya, dalam beberapa dekade terakhir.

Seiring dengan globalisasi, semakin sulit bagi negara pendatang baru untuk memasuki dunia manufaktur secara besar-besaran dan meniru kesuksesan negara manufaktur besar di Asia. Kecuali segelintir negara eksportir, negara-negara berkembang telah mengalami deindustrialisasi secara dini. Peluang menjadikan manufaktur sebagai jembatan lompatan menuju pertumbuhan tinggi, dengan demikian, telah dirampas dari negara-negara berkembang yang terbelakang.

Model pertumbuhan

Lalu, bagaimana menjelaskan peningkatan pertumbuhan di negara termiskin di dunia? Apakah negara ini menemukan sebuah model pertumbuhan baru?

Dalam penelitian yang dilakukan baru-baru ini, Xinshen Diao dari International Food Policy Research Institute, Margaret McMillan dari Universitas Tufts, dan saya menganalisis pola pertumbuhan di antara negara yang baru-baru ini mengalami pertumbuhan tinggi. Fokus kami adalah melihat pola perubahan struktural yang dialami oleh negara-negara tersebut. Kami kemudian mendokumentasikan temuan-temuan paradoksial ini.

Pertama, perubahan struktural yang mendorong pertumbuhan merupakan bagian signifikan dari negara-negara berpenghasilan rendah, seperti Etiopia, Malawi, Senegal, dan Tanzania, dalam beberapa tahun terakhir meskipun tidak ada industrialisasi.

Kaum pekerja telah berpindah dari lapangan kerja di sektor pertanian dengan tingkat produktivitas rendah ke sektor-sektor kegiatan lain yang memiliki produktivitas lebih tinggi, tetapi sebagian besar kegiatan ini pada umumnya di sektor jasa, dan bukan manufaktur.

Kedua, perubahan struktural yang pesat di negara-negara ini berlangsung dibarengi dengan pertumbuhan produktivitas yang negatif di sektor-sektor nonpertanian. Atau, dengan kata lain, meskipun bidang jasa yang menyediakan lapangan kerja baru menunjukkan produktivitas yang cukup tinggi pada awalnya, tingkat produktivitas ini akan semakin menurun seiring dengan perkembangan sektor tersebut.

Pola ini berkebalikan dengan yang terjadi di Asia Timur, seperti Korea Selatan dan China, di mana perubahan struktural dan pertumbuhan produktivitas kerja di luar sektor pertanian telah memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan secara keseluruhan.

Perbedaan ini bisa dijelaskan dengan fakta bahwa perluasan sektor perkotaan dan modern di negara-negara yang baru-baru ini mengalami pertumbuhan tinggi didorong oleh permintaan dalam negeri dibandingkan dengan industrialisasi yang berorientasi ekspor.

Model pertumbuhan di negara-negara Afrika ini tampaknya disokong oleh dampak agregat positif permintaan yang berasal baik dari luar negeri maupun dari pertumbuhan produktivitas dalam bidang pertanian. Misalnya, di Etiopia, investasi sektor publik dalam bidang irigasi, transportasi, dan listrik telah menghasilkan peningkatan drastis dalam produktivitas pertanian dan pendapatan. Hal ini menyebabkan dorongan pertumbuhan, perubahan struktural, yang terjadi seiring dengan peningkatan permintaan yang merambah di luar sektor pertanian.

Namun, produktivitas pekerja di luar sektor pertanian menurun sebagai efek samping dari menurunnya keuntungan investasi dan masuknya perusahaan yang kurang produktif.

Temuan ini tidak dimaksudkan untuk mengecilkan pentingnya pertumbuhan produktivitas yang pesat dalam bidang pertanian, yang umumnya merupakan sektor tradisional. Penelitian kami menunjukkan bahwa pertanian di Afrika telah memainkan peranan penting tidak hanya bagi pertumbuhan bidang itu saja, tetapi juga menjadi pendorong perubahan struktural yang meningkatkan pertumbuhan.

Diversifikasi ke produk yang tidak tradisional dan penggunaan teknik produksi baru dapat mengubah pertanian menjadi aktivitas yang kuasi-modern. Namun, terdapat batasan terhadap seberapa jauh hal ini dapat memajukan perekonomian.

Hal itu, antara lain, akibat elastisitas pendapatan terhadap permintaan produk pertanian yang rendah. Arus keluar tenaga kerja dari sektor pertanian menjadi hal yang tak terelakkan dalam proses pembangunan. Tenaga kerja yang keluar dari sektor ini harus bisa diserap oleh lapangan pekerjaan modern.

Dan, jika produktivitas sektor modern tidak meningkat, pertumbuhan perekonomian secara umum akan menjadi stagnan. Kontribusi yang diberikan oleh komponen perubahan struktural terbatas jika sektor modern tidak mengalami pertumbuhan produktivitas yang pesat.

Negara-negara berpendapatan rendah di Afrika dapat mempertahankan pertumbuhan produktivitas yang moderat di masa depan dengan didukung peningkatan sumber daya manusia dan tata kelola pemerintah yang stabil. Konvergensi berkelanjutan dengan tingkat pendapatan negara maju bisa dicapai. Namun, bukti menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan yang diakibatkan oleh perubahan struktural yang pesat adalah sebuah pengecualian dan mungkin tidak akan bertahan lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar