Kamis, 26 Oktober 2017

Merenungkan Bahasa Indonesia dari Ubud

Merenungkan Bahasa Indonesia dari Ubud
Na’imatur Rofiqoh ;   Esais dan Ilustrator;
Penulis emerging (njedul) di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017
                                                  DETIKNEWS, 26 Oktober 2017



                                                           
Lima belas penulis emerging (yang baru muncul, nongol, njedul, atau apa terjemahan yang pas untuk ini?) yang terseleksi dari seluruh Indonesia, Selasa, 24 Oktober 2017 mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Selama lima hari, mereka akan hadir dan berbicara di festival sastra dan seni (konon) terbesar se-Asia Tenggara, Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017.

Sejak melintas jarak selama satu jam lebih dari bandara dan memasuki desa internasional Ubud, mata telah dipaksa terbiasa oleh penampilan dominan penduduk Ubud: tinggi semampai, berkulit putih, dan berambut pirang. Di kiri-kanan jalan, mata pun berserobok dengan nama-nama restoran, toko-toko, galeri seni, petunjuk sekolah bagi anak, dan penginapan memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.

Para pegawai penginapan, pramuniaga toko, atau pramusaji restoran terlihat bercakap mesra dengan pelancong dari negeri jauh dalam bahasa Inggris, sesekali terselip bahasa Indonesia dari bibir sang pelancong. Di kafe-kafe dan restoran, mereka menghadapi segelas kopi, wine, dan penganan, bertutur sesama pelancong dalam bahasa Inggris. Hampir pasti, beginilah peristiwa bahasa sehari-hari terjadi di Ubud.

Kemarahan pemerintah yang selalu berulang tiap tahun saat Bulan Bahasa tiba, bahwa bahasa Indonesia tengah terancam karena orang-orang lebih senang mengiklankan produk dengan bahasa Inggris di ruang-ruang publik, sama sekali tak terasa. Tak ada satu pun polisi bahasa yang berani melarang pembiakan dan pengakraban bahasa Inggris dengan segala benda dan manusia di Ubud.

Ubud, yang berjuluk desa internasional, amatlah sangat wajar mengenakan busana bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia, apalagi bahasa Bali di seluruh tubuh. Jika saja Badan Bahasa nekat menjadi polisi bahasa paling galak, dan Ubud menjadi yang pertama kena semprit —setelah itu Pare, Kediri, dengan Kampung Inggris-nya— maka saat itu pula Badan Bahasa akan menjadi penyebab utama menurunnya pemasukan devisa negara.

Nasionalisme Bahasa?

Orang-orang suka menyangka, saat kita membicarakan soal bahasa Indonesia dan Inggris, detik itu juga kita harus berpikir soal nasionalisme bahasa. Padahal, saat bertemu dengan orang-orang asing (yang bahasa ibunya belum tentu bahasa Inggris), atau buku-buku, iklan, dan benda-benda berbahasa Inggris, kita hanya berhadapan langsung dengan kuasa globalisme yang bergerak, dan hanya bisa direngkuh dengan syaraf bahasa Inggris.

Bahasa Inggris —mungkin juga bahasa Korea yang mulai digemari pemuda-pemudi Indonesia masa kini penggila K-Pop dan K-Drama— selalu dianggap sebagai musuh besar yang harus diberangus, bukan teman sepermainan yang bisa dielus.

Kalau sedikit saja kita mau menengok masa lalu, kita akan menemukan, nama "Indonesia", yang kemudian disepakati bersama sebagai nama negara saat ini, lahir pada suatu malam di sebuah kafe tingkat dua kota Den Haag, pada 1922. Waktu itu, Hatta dan konco-konconya tengah berkumpul dalam rapat pengurus Indische Vereeniging, perkumpulan siswa Hindia Belanda (sebelum berganti menjadi Indonesia) yang meneruskan pendidikan ke Belanda. Kita simak tuturan Hatta di autobiografinya, Memoir (1982):

"Keputusan penting yang diambil ialah mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederlands-Indie dengan Indonesia. Di masa itu baru dikenal dari buku Prof. Van. Vollenhoven kata-kata "Indonesier" dan ajektif "Indonesisch", tetapi kata "Indonesia" sebagai nama Tanah Air adalah ciptaan Indonesische Vereeniging. Kemudian pada tahun 1927 baru diketahui dari karangan dr. Kreemer dalam Kolonial Weekblad 3 Pebruari 1927, bahwa perkataan itu dalam tahun 1850 sudah dipakai oleh seorang etnoloog Inggeris bernama Logan dalam karangannya yang berjudul The Ethnology of the Indian Archipelago."

Percakapan antara Hatta dan teman-temannya malam itu tentu berlangsung dalam bahasa Belanda. Produksi pengetahuan mutakhir masa itu, termasuk tulisan Vollenhoven yang menjadi pijakan para nasionalis, berada dalam rengkuhan bahasa Belanda. Dan, dalam bahasa Belanda itulah para nasionalis memperoleh aksesnya yang paling banyak pada pengetahuan yang sangat berpengaruh besar pada pembentukan pemikiran mereka.

Kita memastikan, bayi terpenting dalam sejarah pembentukan negara Indonesia itu dilahirkan dalam bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia (yang baru disepakati bersama sebagai bahasa nasional enam tahun kemudian). Sejak awal, Indonesia telah berutang pada bahasa asing.

Saat Romo Mangun melakukan perjalanan ke Leiden, ia pun sempat mencatat satu kalimat penting: "Menguasai di zaman modern tidak pertama-tama dengan meriam dan bedil (itu juga, tentu saja) tetapi terutama dengan otak dan ilmu pengetahuan." (Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987). "Ilmu pengetahuan" mutakhir detik ini, tentu saja, tidak diproduksi dan menyebar dalam bahasa Indonesia. Begitu juga dengan benda-benda teknologis beserta seperangkat bahasa yang dibawanya, mereka memasuki Indonesia jauh lebih cepat daripada penyesuaian bahasa Indonesia pada benda-benda itu. Itulah yang sedang dan terus berlangsung di Ubud, dan mungkin, akan di kota-kota lain di Indonesia.

Slogan permusuhan dengan bahasa asing, terutama sekali bahasa Inggris, telah bergaung berkali-kali meski tidak betah di mana-mana. Tetapi yang mereka musuhi sebenarnya adalah (teknologi) benda-benda, yang tidak akan dapat bicara sepatah kata pun secara langsung pada manusia. Manusialah, sang pemilik dan pengucap bahasa, yang dapat berbicara satu, dua, tiga, atau lebih bahasa, dan memiliki otoritas sepenuhnya atas punah atau tidaknya bahasa itu. Dan, kita tahu, 250 juta penduduk Indonesia saat ini tidak menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia untuk saling menyapa dalam ragam beda bahasa.

Sampai di penginapan, saya ngobrol berbahasa Indonesia dengan resepsionis yang ramah. Sayup-sayup, saat berjalan ke kamar setelah memperoleh kunci, saya mendengar seorang pelancong bicara terbata dalam bahasa Indonesia dengannya. Barangkali, kalau bukan karena sering mendengar orang-orang Indonesia bercakap dengan bahasanya, ia tengah belajar bahasa Indonesia di Cinta Indonesia, semacam kursus bahasa Indonesia di Ubud untuk penutur asing. Oh, siapa bilang bahasa Indonesia dan bahasa Inggris bermusuhan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar