Selasa, 31 Oktober 2017

Maskulinitas yang Keliru

Maskulinitas yang Keliru
Jean Couteau ;   Penulis Kolom UDAR RASA Kompas Minggu
                                                      KOMPAS, 29 Oktober 2017



                                                           
Hei, kaum pria, yang mana kubu perilakumu. Apakah yang mewakili kelembutan rasa: “Mataku menjawab matamu, jariku menyentuh jarimu, debaran jantungku bertemu dengan debaran jantungmu, hingga dari kau ke aku lahir suatu ‘kita’, yang tanda demi tanda, tak terhitung waktu, pada akhirnya bermuara pada penunggalan jiwa, nafas dan tubuh”. Atau yang mewakili kekasaran perilaku: “Aku tak hirau sorot pandangan matamu, aku tak mau mendengar debaran takut jantungmu, aku tak peduli memaksa kamu, meskipun kamu kian muak di dalam penyatuan paksamu dengan tubuhku”.

Adab versus biadab nafsu seksual: memang itulah dialektika yang senantiasa membayangi hubungan kaum pria dan wanita. Yang tak jarang pula, kebiadaban bagi perempuan ini bisa menghantui segenap waktu siang malamnya.

Namun, anehnya, ketimpangan dasar hubungan pria dan wanita seperti di atas ini ditanggapi sebagai suatu fakta kehidupan biasa. Apakah karena merata pada setiap peradaban dunia? Bisa jadi. Apa pun peradaban yang bersangkutan, sang wanita selalu berada dalam posisi di mana dia entah wajib secara sosial atau moral, atau dipaksakan secara psikologis dan fisik, untuk menampung tawaran seksual dari lawan jenisnya. Bermula dari siulan di jalan, sentuhan kecil yang mengisyaratkan ‘maksud’, genggaman yang bertujuan ‘jelas’, hingga ke aneka paksaan, di mana ‘no/tidak’-nya selalu diterjemahkan sebagai “ya”, apa pun rintihan penolakannya. Apalagi, saking terbiasanya dengan godaan kecil, sang wanita polos bisa saja jatuh di dalam perangkap cabul sang juru paksa-untuk menyadarinya ketika terlambat. Sedangkan, sok perkasa bak ayam jantan, pria kasar selalu meyakini dirinya sebagai penampung nafsu berahi betina yang dipuaskannya.

Fenomena kekerasan seksual hadir dengan aneka modus dan varian kultural dan sosial di seluruh dunia. Ada varian film-film Amerika, yang wanitanya selalu menyerah setengah paksa. Ada varian Timur Tengah, yaitu bila diungkap menjadi korban, wanita kerap diwajibkan menikahi pria yang telah memperkosanya. Ada varian ‘ngejuk’ ala Bali, yakni wanita diambil (juka) dengan paksa sebagai cara-yang konon ksatria-agar dapat menikahinya. Dan ada varian-varian lainnya yang tak terhitung banyaknya, yang selalu bertujuan tunggal: kecuali bila terdapat pembuktian, seperti kesaksian yang tak diragukan, atau tanda cedera nyata, sang pria luput dari hukum, termasuk dari vonis sosial. Agresivitas seksualnya selalu dibenarkan sebagai sesuatu yang kodrati. Wanita menggodanya, entah karena telah senyum, atau memakai rok mini. Dialah yang salah. Kini diyakini bahwa hanya 10-15 persen dari pemerkosaan dan kekerasan seksual tampil di permukaan. Di dalam situasi dengan bias tanpa harapan seperti ini, tidak mengherankan bila ‘mengonstruksi’ sebagai wajar kekalahannya di hadapan sang pria menjadi komponen intrinsik dari psikologi wanita. Seperti sebaliknya, bagi pria, tidak mengherankan bila mengonstruksi perkasaannya sebagai penaklukan wanita-secara bombastis di hadapan teman sekolah, rekan pria, dan lain-lain-menjadi bagian intrinsik dari psikologi pria, termasuk pria halus. Sangat sulit keluar dari lingkaran setan jender ini. Seolah-oleh kekasaran seksual adalah inheren pada setiap pria, dan penyerahan diri atribut wajib setiap wanita. Pria dan wanita yang tidak mau masuk dalam peran jender ini cenderung disindir sebagai kurang macho, tidak feminin, dan lain-lain.

Namun tak mustahil terdapat harapan kecil di tengah kegelapan. Baru-baru ini telah keluar di New York Times suatu artikel tentang kekerasan seksual yang dilakukan oleh salah satu moghul dunia perfilman Amerika, Harvey Weinstein. Menyusul artikel tersebut, puluhan perempuan telah melakukan protes dengan mengungkap kekerasan seksual yang dilakukan Weinstein. Lalu tuduhan diperluas hingga mencakupi puluhan tokoh lain yang juga digugat kekerasan seksualnya. Dan kini, dengan hashtag #metoo (saya juga) di Amerika atau #balancetonporc (gugatlah babimu) di Perancis, sudah puluhan ribu wanita yang mengungkap kisah kekerasan seksual yang dialami dan menuntut agar paradigma maskulinitas diubah. Cukup adalah cukup, tuntut mereka!

Tapi kau, wanita Indonesia, kapan kau pun akan berani bersuara? Apakah masih takut disalahkan kaum moralis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar