Selasa, 24 Oktober 2017

Negara dalam Kondisi Lemah

Negara dalam Kondisi Lemah
Prabowo Subianto ;   Ketua Umum Partai Gerindra
                                                    JAWA POS, 23 Oktober 2017



                                                           
KITA harus mengerti tujuan bernegara itu apa. Mari kita sepakat, tujuan setiap pemerintah di seluruh dunia itu adalah mencari keamanan bersama, dan tentunya kesejahteraan bersama. Kalau negara itu tidak bisa memberikan keamanan dan kesejahteraan, sesungguhnya harus kita akui negara itu tidak berhasil alias gagal. Dari tolok ukur itu, marilah kita menilai diri kita sendiri apakah negara kita sudah mampu menjamin keamanan rakyatnya. Aman dari penyalahgunaan kekuasaan, aman dari penindasan, aman dari perlakuan tidak adil, aman dari usaha-usaha untuk mengurangi hak-hak hidup rakyat kita.

Kita harus ingat bahwa bangsa kita sekarang ini hidup di dunia yang jumlah penduduknya tambah banyak. Kita ada ledakan penduduk di dunia. Sekarang ada perebutan air, lahan, tanaman, hingga makanan. Berarti bangsa-bangsa itu nanti akan bertikai, akan berebut air dan ruang hidup.

Di republik ini, kita sudah mengetahui bahwa sebagian besar kekayaan hanya dikuasai oleh satu persen paling atas. Itu dibuktikan oleh gini ratio yang diakui Bank Dunia. Gini ratio kita sekitar 4,1. Artinya, satu persen menguasai 41 persen kekayaan republik kita. Kalau dalam bidang tanah, gini ratio-nya lebih parah. Satu persen menguasai 80 persen tanah. Kalau kondisinya begini, bagaimana kita bisa sejahtera?

Inti dari gini ratio itu, bagaimana dampaknya kepada kita. Mampukah kita sebagai bangsa memberikan keamanan dan kesejahteraan bagi bangsa kita di tengah persaingan negara-negara. Kondisi bangsa harus kita akui lemah. Menurut saya, negara kita berada dalam kondisi yang lemah. Harus kita akui kelemahan kita.

Lemah dari tolok ukur apa? Dari ukuran pendidikan. Menurut studi lembaga internasional, di bidang pendidikan nomor urut kita 65 dari 73 negara yang disurvei. Nomor 65 itu masuk peringkat bawah. Prestasi matematika Indonesia berada pada ranking 36 dari 49 negara. Kita kalah dari Bahrain, Iran, apalagi Korea Selatan, Thailand, dan sebagainya.

Lalu, kondisi anak-anak kita di ibu kota yang sudah 72 tahun merdeka. Negara kita yang 72 tahun merdeka, di ibu kota, tidak jauh dari tempat kita berkumpul, sepertiga anak-anak DKI berada dalam keadaan kurang gizi. Istilah sebetulnya kelaparan. Tapi, bangsa Indonesia lebih senang untuk bicara tidak apa adanya.

Pantas kita bertanya, berhasilkah negara Indonesia memberikan kesejahteraan? Kalau kita lihat di NTT, dua dari tiga anak, dua pertiga anak-anak di NTT kelaparan setiap hari. Kurang gizi, artinya kurang protein. Artinya apa? Di bawah usia lima tahun, perkembangan sel otak, otot, dan sel tulang akan berkurang.

Kita sebetulnya menuju pada bangsa kalahan. Kalau bangsa kita kurang protein, pantas sepak bola kita kalah terus dari negara mana pun. Jadi kuli aja akan kalah. Enggak usah jadi insinyur, jadi kuli saja kalah.

Saya juga mau tanya, bidang apa saja yang kita tidak kalah? Di SEA Games, negara terbesar di Asia Tenggara, kita di urutan berapa, nomor 5 atau 6? Kita kalah dengan Singapura dengan penduduk 5 juta, yang wilayahnya sebesar Kota Bogor.

Kalau sistem pemerintahan kita lemah, tidak efisien, pengangguran, kita buang uang untuk hal yang tidak penting. Mari kita nilai, ada nggak korupsi di negara kita. Kalau akibat inefisiensi, korupsi, pembangunan itu minim, tidak menetes ke rakyat paling bawah, tidak dirasakan kesejahteraan oleh rakyat paling bawah, maka terjadi instabilitas, juga menambah kesenjangan antara yang kaya dan miskin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar