Kamis, 16 Juni 2016

Urban Sufism

Urban Sufism

Komaruddin Hidayat ;  Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                   KORAN SINDO, 10 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Akhir 1990 saya kembali ke Jakarta setelah selesai menamatkan doktor di Turki. Almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Utomo Danandjaja (Mas Tom) meminta saya untuk bergabung ke Yayasan Paramadina.
Keduanya tidak memberi pengarahan apa pun tentang apa yang mesti aku lakukan di Paramadina. Keduanya memberi kebebasan terserah saya mau apa, yang penting mau bergabung mengembangkan Paramadina yang sudah dikenal sebagai gerakan moral-intelektual keislaman, dengan basis utama kelas menengah kota dan kalangan elite. Yang menonjol dari kegiatan Paramadina kala itu adalah menyelenggarakan Klub Kajian Agama (KKA) setiap bulan, bertempat di hotel berbintang.

Peserta datang dengan membeli karcis. Panitia menyediakan minuman dan makanan ringan, serta makalah yang hendak disajikan malam itu. Cak Nur selalu menjadi pembicara, didampingi pembicara tamu secara bergantian. Topik kajian pun begitu beragam, semuanya disajikan dalam makalah ilmiah. Sebelum dimulai, ada kalanya para peserta disuguhi permainan piano.

Melihat antusiasme kelas menengah terhadap studi islam dengan pendekatan ilmiah, dialogis, tanpa semangat menggurui, maka saya bersama Elza Taher dan Budhi Munawar Rahman lalu menyusun paket-paket studi Islam layaknya sebuah forum kuliah di universitas. Pusatnya di Pondok Indah Plaza Tiga, Jakarta Selatan. Setiap tema kuliah, kami pecah-pecah menjadi 8-16 topik pertemuan, dengan menghadirkan dosen secara bergantian sesuai minat dan bidang keahliannya.

Dalam kajian tematik ini, saya selalu hadir mendampingi dosen tamu. Kalau dosen tidak hadir, saya sebagai gantinya. Mungkin tahun itu Paramadina merupakan pionir menyelenggarakan studi Islam secara tematik, terstruktur, dan sangat diminati kalangan eksekutif. Peserta hadir ke Paramadina sesuai dengan mata kuliah yang dipilihnya.

Pada Sabtu banyak peserta yang mengikuti kuliah pagi hari, pukul 10.00-12.00 WIB, diteruskan mengambil kuliah sore pukul 14.00-16.00 WIB. Beberapa topik kajian itu antara lain: Pengantar Studi Islam, Sirah Muhammad, Tema-Tema Pokok Alquran, Hukum Islam, Filsafat Islam, Sejarah Islam, Ilmu Kalam, dan Tasawuf. Karena diisi oleh beragam dosen, kajian Islam ini tanpa disengaja menerapkan pendekatan interdisipliner. Islam didekati secara historis, rasional, filosofis, dengan pedoman dasar Alquran dan semangat tasawuf, yaitu penghayatan akan kasih sayang Allah. Semesta ini hadir karena cinta-Nya.

Manusia diciptakan karena cinta-Nya. Para Rasul diutus karena cinta-Nya. Islam adalah agama cinta. Itulah salah satu pesan yang terkandung perintah agar memulai semua tindakan dengan bacaan basmalah. Bismillahirrahmanirrahim. Jadi, kajian Islam di Paramadina berangkat dari wahyu Alquran, lalu didekati dengan berbagai disiplin ilmu, seperti Sejarah, Filsafat, Hukum, dan Tasawuf. Oleh karena itu, beberapa peneliti asing menempatkan Paramadina sebagai pionir gerakan urban sufism atau sufisme perkotaan.

Sebuah pendekatan tasawuf populer, dengan menekankan bimbingan untuk meraih pencerahan intelektual dan hati. Ini berbeda dari tarekat yang dibimbing oleh guru spiritual secara langsung dengan bacaan zikir atau wirid dalam jumlah tertentu. Metode yang dirintis Paramadina ini sekarang sudah tumbuh di berbagai tempat. Salah satu kelebihan Paramadina adalah berbagai ceramah yang disajikan ditulis dan diterbitkan dalam bentuk buku, terutama ceramah oleh Nurcholish Madjid.

Sekian banyak buku karangan Nurcholish Madjid pada awalnya adalah makalah-makalah di Paramadina, yang ditulis secara serius dengan standar ilmiah. Tak banyak penceramah yang juga penulis serius. Yang menonjol tentu saja Pak Quraish Shihab. Karya-karya tulisnya akan menjadi amal jariah dan umurnya menjadi lebih panjang dari usia biologisnya. Kita mengenal Imam Ghozali pun lewat dan karena warisan karya tulisnya, terutama Ihya Ulumuddin.