Kamis, 16 Juni 2016

Kebangkitan Pendidikan Tinggi Kita

Kebangkitan Pendidikan Tinggi Kita

Tirta N Mursitama ;  Guru Besar Bisnis Internasional, Departemen Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara
                                                   KORAN SINDO, 10 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Akhir-akhir ini banyak dibicarakan riuh rendahnya pendidikan tinggi kita. Dari soal mahasiswa yang kecewa terhadap dosen pembimbing skripsi sehingga tega menghabisi nyawa dosen, mahasiswa yang ditolak proposal skripsinya lalu mengakhiri hidupnya, perilaku dosen di kampus, hingga keinginan Menristekdikti mendatangkan orang asing sebagai rektor di perguruan tinggi negeri (PTN).

Ada apa dengan pendidikan tinggi kita?

Integrasi Global

Tak terelakkan pendidikan tinggi kita hidup dalam dunia yang makin terintegrasi baik secara regional maupun global. Contohnya, merambahnya perguruan tinggi asing yang bekerja sama menyediakan kelas persiapan (preparation/foundation), semakin banyak skema kerja sama penelitian, program fast track, dual degree, joint degree, hingga PhD by research. Belum lagi, bila pemerintah jadi membuka kran pendirian perguruan tinggi asing di Indonesia.

Fenomena ini tidak bisa kita sikapi dengan tinggal diam. Tidak bisa lagi institusi pendidikan tinggi hidup dalam nina bobok 255 juta orang Indonesia sebagai pasar yang luas dan menjadikannya sebagai sesuatu yang diterima begitu saja (taken for granted). Pilihannya hanya dua. Apakah institusi pendidikan tinggi akan mengintegrasikan ke ranah regional atau global? Ataukah mengungkung diri (isolasi) dari dunia luar dengan alasan nasionalistik sempit.

Pilihan kedua sepertinya sangat sulit bila melihat gempuran kapital dan teknologi informasi yang selalu menemukan jalannya sendiri hadir di keseharian kita. Satu-satunya pilihan adalah yang pertama yaitu mengintegrasikan diri dengan dunia regional dan global. Namun, pilihan ini bukan serta-merta hanyut dalam arus globalisasi tanpa syarat, melainkan kita harus mampu juga mengambil manfaat darinya. Pada saat yang sama berusaha menguatkan resiliensi diri dan membangun daya saing institusi pendidikan tinggi. Bagaimana caranya?

Inovasi

Tiada cara lain melainkan berinovasi. Institusi pendidikan tinggi baik pemerintah pengambil kebijakan maupun kampus negeri (PTN) dan swasta (PTS) harus berubah. Bila kita saksikan saat ini banyak PTS yang mulai mengejar, bahkan melampaui PTN dari sisi kualitas. Banyak PTN yang masih mengandalkan nama besar dan dukungan dari pemerintah sehingga mereka tetap hidup.

Sebagian dari mereka memang hebatdanberprestasikelasdunia dari sisi penelitian, publikasi, hingga prestasi yang diraih para mahasiswanya. Namun, ironisnya beberapa dari mereka kurang memiliki perencanaan strategis yang jelas sehingga bisa dibayangkan implementasinya akan semakin jauh dari harapan pencapaian. Sebagai contoh, proses rekrutmen tenaga pengajar dan tenaga kependidikan yang kurang transparan dan kurang mampu menjaring talentatalenta terbaik bangsa.

Selain itu, persoalan pengembangan karier staf pengajar yang seringkali dukungan institusional sangat terbatas bahkan dipenuhi isu politik kantor yang kental. Akibat itu, karier akademiknya tidak meningkat atau bahkan mentok. Sebagian lagi kelompok PTN dengan penuh semangat daya juang tinggi berusaha menghidup- hidupi kampusnya dengan sumber daya manusia dan fasilitas yang jauh dari memadai.

Biasanya mereka berada di daerah walaupun tidak semuanya demikian. Padahal, sebagian besar calon mahasiswa mengincar kursi di PTN. Jadi di antara PTN pun kapabilitasnya sangat bervariasi. Sementara di antara PTS pun berlomba-lomba meningkatkan kualitas dalam pengajaran, penelitian, publikasi, dan kontribusi pengembangan masyarakat. Mereka berusaha mengejar reputasi pendidikan tinggi kelas dunia dengan berusaha meningkatkan reputasi akademik, jumlah sitasi publikasi akademik internasional, jumlah mahasiswa asing, pengajar asing, dan sebagainya.

Yang patut diacungi jempol bagi PTS yang serius melakukan ini adalah semangat mereka untuk berubah melakukan inovasi bila tidak mau mati ditinggalkan pelanggan (mahasiswa). Di antara berbagai inovasi yang mereka lakukan adalah keteguhan mereka menerapkan standar manajemen pendidikan modern ala korporasi.

Beberapa contoh yang mereka lakukan adalahpenerapansecara sungguh-sungguh prinsip-prinsip manajemenmodern dari perencanaan strategis hingga evaluasi, penggunaan indikator kinerja kunci (key performance indicator), sistem reward and punishment, serta merit-based system. Ihwal seperti ini relatif mudah dijumpai di beberapa PTS yang masuk jajaran utama.

Mereka patut diapresiasi karena terus melakukan hal baru dan mengembangkan praktikpraktik terbaik manajemen pendidikan berdasar aturanaturan bisnis yang membuat mereka bertahan bahkan semakin maju. Faktor kepemimpinan juga menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan di tengah tarikan liberalisasi jasa pendidikan global dan upaya perbaikan sistem pendidikan tinggi oleh pemerintah yang menjadikan mereka masuk dalam situasi turbulensi menuju kondisi yang lebih baik.

Tanpa kejelasan visi, kemampuan memimpin eksekusi dan mengawal di lapangan, serta mengedepankan kebijaksanaan menyikapi setiap perkembangan, perubahan sebatas rencana di atas kertas dan jadi jargon semata.

Peran LPDP

Inovasi di tataran pengambil kebijakan adalah pendirian Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI. Saat ini LPDP telah berevolusi menjadi satu institusi terintegrasi yang melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Keuangan, Kementerian Agama, serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

LPDP memiliki peran sangat strategis. Mereka memberikan bantuan beasiswa bagi talenta terbaik bangsa di berbagai bidang untuk menimba ilmu di kampus-kampus terbaik dunia. Selain itu, mereka juga memberikan dana penelitian baik yang mengarah ke komersialisasi maupun pengembangan kebijakan. Langkah-langkah LPDP ini menunjukkan upaya mengaitkan dunia akademik dengan dunia industri dan pengambil kebijakan.

Hal lain yang perlu diapresiasi adalah pemberian insentif bagi para dosen/peneliti yang menghasilkan publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi dan memiliki sitasi. Semua ini bentuk kehadiran pemerintah dan langkah serius mendorong (memberikan carrot, tidak hanya menggunakan stick) untuk kemajuan dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Pada gilirannya diharapkan mampu meningkatkan daya saing bangsa di berbagai bidang.

Namun, satu hal penting yang LPDP (pemerintah) perlu pikirkan adalah membangun sistem utilisasi para penerima beasiswa sekembalinya ke Tanah Air. Suatu rencana yang komprehensif bagaimana mendayagunakan lulusan-lulusan terbaik tersebut di berbagai institusi baik pemerintah maupun swasta secara sistematis perlu dikembangkan. Dengan demikian, kontribusi mereka bisa diukur, dipantau, hingga dipikirkan mobilitas vertikal maupun horizontal.

Khususnya bagi yang berkecimpung di dunia pendidikan tinggi, ada baiknya LPDP mengajak PTN/PTS untuk menyusun rencana bersama menampung para lulusan terbaik tersebut. Dengan demikian, fenomena brain drain yang pernah terjadi beberapa puluh tahun lalu tidak akan terjadi lagi. Kinilah saatnya kebangkitan pendidikan tinggi Indonesia!