Jumat, 17 Juni 2016

Tito

Tito

M Subhan SD ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                         KOMPAS, 16 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

We have spilt an ocean of blood for the brotherhood and unity of our people and we shall not allow anyone to touch or destroy it from within.

(Josip Broz Tito)

Begitulah Marsekal Tito (1892-1980), arsitek bangsa Yugoslavia modern. Berani menumpahkan lautan darah untuk persaudaraan dan kesatuan bangsa, dan takkan membiarkan siapa pun menghancurkannya dari dalam. Di zamannya, Tito berhasil merekatkan semua etnik dan menjadikan Yugoslavia sebagai bangsa yang disegani pasca Perang Dunia II (1939-1945).

Entah mengapa tiba-tiba saja terlintas ingatan pada Tito ketika Rabu (15/6), Presiden Joko Widodo mengajukan Komisaris Jenderal Tito Karnavian sebagai calon Kapolri. Mungkin gara-gara ada kemiripan sepotong nama, secara homograf maupun homonim. Tito Karnavian memang dikenal sebagai polisi yang bersinar. Lama malang melintang dalam penindakan terorisme, kini Tito memegang komando di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sejak Maret lalu.

Tito dikenal perwira polisi cemerlang. Namun, tidak banyak yang menduga karier puncaknya di jajaran Korps Bhayangkara secepat ini. Sampai beberapa hari lalu, nama Tito belum benar-benar masuk bursa calon Kapolri pengganti Jenderal Badrodin Haiti yang memasuki pensiun pada Juli nanti. Tito masih masuk dalam daftar next Kapolri. Tak heran, keputusan Presiden Jokowi kemarin membuyarkan pikiran banyak orang.

Keputusan Presiden itu tak diragukan. Tito memang memiliki kapasitas dan kualitas sebagai Kapolri. DPR pun mengamini. Kalaupun ada pertanyaan, bukanlah hal mendasar, melainkan menyangkut "senioritas". Maklum, stok perwira tinggi senior cukup banyak. Tito adalah lulusan Akpol 1987. Artinya Tito melangkahi enam angkatan di atasnya, yaitu Akpol 1981, 1982, 1983, 1984, 1985, dan 1986.

Perwira bintang tiga yang punya kans masuk bursa calon Kapolri adalah Wakapolri Komjen Budi Gunawan (1983), Kepala BNN Komjen Budi Waseso (1984), Irwasum Polri Komjen Dwi Priyatna (1982), Kalemdikpol Komjen Jenderal Syafrudin (1985), Kabaharkam Komjen Putut Eko Bayuseno (1984), Sekretaris Utama Lemhannas Komjen Suhardi Alius (1985), Kabaintelkam Komjen Nur Ali (1981).

Dari nama-nama tersebut, belakangan santer lagi nama Budi Gunawan (BG), setelah pencalonan pertama pada awal 2015 menimbulkan kegaduhan politik. DPR pun tampaknya memberi sinyal positif. Menjadi rahasia publik bahwa jabatan Kapolri sering kali erat dengan kepentingan politik. Misalnya BG dinilai dekat dengan PDI-P. Maklumlah BG pernah menjadi ajudan Presiden Megawati (2001-2004). Ada beberapa nama lain juga diduga punya kedekatan dengan pihak tertentu.

Presiden Jokowi tampaknya sadar betul. Karena itu, catatan pencalonan Tito ini, pertama, Presiden Jokowi sepertinya hendak memutus rantai politik. Tito dikenal tak punya kedekatan dengan pihak tertentu. Kedua, Presiden Jokowi tidak ingin di bawah tekanan pihak tertentu, termasuk parpol pengusungnya. Ketiga, Presiden Jokowi ingin menyegarkan institusi Polri dengan komandan yang lebih muda dan segar. Keempat, dengan Tito, posisi Presiden Jokowi juga dapat lebih nyaman.

Meski begitu, karena melangkahi para seniornya, mungkin saja Tito menghadapi riak-riak internal. Namun, seperti analogi Josip Tito, dalam konteks lebih spesifik, tantangan bagi Tito Karnavian adalah menyatukan dan menjaga soliditas Polri.