Jumat, 17 Juni 2016

Jalan Gelap Jalan Terang Renny Djajoesman

Jalan Gelap Jalan Terang Renny Djajoesman

Jodhi Yudono ;   Menulis Esai di media sejak tahun 1989;
Kini menulis Berita dan Kolom di KOMPAS.COM
                                                    KOMPAS.COM, 16 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Nggak ada jalan hitam sehitam yang saya lalui," kata Renny di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, Senin 13 Juni 2016 pada acara diskusi album Renny yang berjudul "Sujud".

Renny Djajoesman, rocker dan pelakon teater, mengaku sudah bertobat atas semua dosa yang pernah dilakukannya dalam hidup. Renny mengaku sudah mentok dengan semua polahnya yang menumpuk dosa. Semua perbuatan yang berakibat dosa pernah dia lakukan, kecuali membunuh. Itulah sebabnya, dia berani memastikan kepada peserta diskusi bahwa jalan hidupnya pasti lebih legam dibanding semua orang yang ada di acara tersebut.

Hari-hari sebelum tiba pada kesadaran akan sorga dan neraka, adalah hari-hari penuh huru-hara dan hura-hura. Hampir semua perbuatan dosa pernah dia lakukan. Berjudi, minuman keras, narkoba, adalah di antara perbuatan dosa yang dilakukannya sebagai seorang muslimah.

Kepada saya Renny bercerita, kesadaran itu baru terjadi dua tahun lalu. "Tahun 2014 saat bulan ramadan, sehabis dua hari dua malam bermain judi di rumah teman. Tatkala pagi hari pulang ke rumah, tiba-tiba terjadi revolusi jiwa yang membuat chaos dalam jiwa saya. Tubuh terasa tak karuan disertai sesak nafas yang hebat. Akhirnya saya minta dibawa ke rumah sakit. Di RS saya dichek selama tiga hari, tapi tak ditemukan penyakit serius. Yang terpikir saat itu saya hanya membutuhkàn pertolongan spiritual," Renny berkisah.

Akhirnya kelahiran Semarang, 2 Januari 1959 ini pun mengontak seorang kawan musisi yang telah menjadi pendakwah, Yuke Sumeru namanya. Tapi sebagai ustadz di bulan ramadan, rupanya jadwal Yuke padat.

Melalui telepon Yuke menyarankan agar Renny terus beristighfar, "Saat itu saya tanya istighfarnya gimana Yuk? Akhirnya dia ajari saya," sambung Renny.

Selama di RS perasaan Renny tak karuan. Galau, paranoid, sakau (ketagihan narkoba yang sangat). Keringat pun terus bercucuran. Kemudian Renny kepikiran, agar hatinya tenang dia pun minta supaya Ryu, cucu pertama dari puterinya, Yuka Mandiri, untuk tidur disampingnya.
"Saat Ryu saya peluk, dia berbisik di telinga saya....'Tinie (panggilan sayang Ryu kepada Renny) jangan ngerokok terus dong, jangan pergi-pergi main kartu terus, akhirnya Tinie sakit, lebih baik Tinie shalat aja, biar gak sakit-sakit.' Itu kalimat cucu saya yang kengembalikan kesadaran saya pada Allah," ungkap Renny.

Sejak tahun 1990 saya sudah mengenal Renny. Saya sebagai wartawan musik, Renny sebagai penyanyi. Sejak berkenalan, kami langsung dekat. Sikapnya yang terbuka dan bersahabat, membuat kami nyaris tak berjarak. Karena telah lama mengenalnya itulah, saya jadi tahu betul... Jauh sebelum Sujiwo Tejo jadi Presiden Jancuker, Renny sebetulnya telah menjadi Ratu Jancuker. Sebab, pada situasi apa pun, entah resmi entah santai, Renny selalu menyapa kawannya keras-keras dengan ucapan "jancuk!"

Renny kini mengaku tobat. Dan pada pertobatannya itulah, dia telah menutupi tubuhnya dengan hijab. Suaranya masih tetap lantang, tapi umpatan 'jancuk" sudah tak terdengar lagi. Salah satu bukti ketulusannya bertobat, dia pun membuat album religi, bukan album rock yang kadang berisi sumpah serapah. Dengan album religi berjudul "Sujud" itulah Renny berdakwah melalui lagu yang menyeru nama Tuhan.

Mantan peragawati Ratih Sanggarwati, salah satu kawan Renny memberi kesaksian, betapa hatinya bergetar hebat saat melihat ribuan jemaah di Balai Pusat Dakwah Islam, pada acara Gema Muslimar Indonesia di Bandung, seusai Renny Djajoesman menyanyi lagu PadaMU Kuberlindung (salah satu lagu di album "Sujud").

"Bayangkanlah, sebanyak 3.000 orang perempuan menangis demi mendengarkan Renny bernyanyi. Yang lebih menggetarkan lagi adakah ketika seorang ibu sambil menangis berkata kepada Renny. Ibu itu bilang, dulu anaknya bejat gara-gara menjadi fansnya Renny. Ibu itu dendam akan memarahi Renny habis-habisan. Tapi sekarang dia dipertemukan dengan Renny dalam keadaan sudah insyaf. Ibu itu pun mengaku sudah memaafkan Renny," kenang Ratih.

Demikianlah cara Tuhan memanggil "si anak nakal" Renny Djajoesman kembali ke jalanNya agar menjadi pelajaran bagi kita sekalian. Tak ada seorang pun yang bisa menduga dengan tepat perjalanan di muka. Mereka yang semula melintas di jalan yang lempang, bisa tiba-tiba terperosok di jalan berlumpur, demikian sebaliknya.

Ryu cucunya hanyalah pemantik dari kesadaran Renny. Selebihnya, sebagai teman saya merasa bahwa segila apapun Renny, dia masih memiliki kasih sayang yang luar biasa kepada keluarga dan kawan-kawannya. Jangan-jangan lantaran itulah, Tuhan masih mengasihi Renny untuk kembali ke jalanNya. Atau, ini kali Renny mengambil kesempatan yang ditawarkan Allah untuk kembali di jalanNya, setelah beberapa kali peringatan dia abaikan. Atau.... Entahlah, hanya Dia yang tahu.

Membayangkan perjalanan Renny, terkenanglah saya pada perjalanan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang semula menjadi musuh-musuh besar Islam, semacam Umar bin Khatab dan Khalid bin Walid akhirnya justru menjadi pembela Islam terdepan.

Karena tak bisa diduga itulah, rasanya kita tak boleh sombong, bahkan saat kita dinilai sebagai orang baik. Sementara yang sedang berada di kubangan dosa pun tak juga harus rendah diri.

Renny adalah contohnya. Siapa yang menduga, dari seorang pendosa berubah menjadi solehah. Semula melintas jalan yang gelap, kini memilih jalan terang.