Minggu, 12 Juni 2016

Reaktor Daya Eksperimental Jadikan RI Jawara Nuklir Regional

Reaktor Daya Eksperimental

Jadikan RI Jawara Nuklir Regional

Taswanda Taryo ;   CEO of Project Management Office for RDE – Batan
                                              MEDIA INDONESIA, 11 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

HAMPIR dipastikan setiap orang di negeri ini antusias dengan program kelistrikan Indonesia 35.000 megawatt (Mw). Pasalnya, gonjang-ganjing krisis listrik di Indonesia bukan isu baru. Di tingkat ASEAN, energi per kapita Indonesia pada 2015 masih berada di kisaran 800 kwh. Meski sedikit unggul di atas Filipina, Indonesia masih kalah oleh Vietnam serta tertinggal jauh dari Malaysia dan Singapura yang kisarannya 8.000 kwh per kapita.

Dengan jumlah penduduk 257 juta jiwa, Indonesia harus mengejar ketertinggalan tersebut bila tidak ingin kalah dalam percaturan MEA. Dalam rangka mengejar pendapatan domestik bruto (PDB) sebesar per kapita US$14.250-US$15.500 pada tahun 2025, ketersediaan listrik yang besar mutlak.

Peraturan Pemerintah No 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) telah menetapkan bahwa kebutuhan listrik Indonesia hingga 2025 sebesar 115 Gw dan 23% di antaranya berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT). Namun, sungguh disayangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) disiapkan menjadi pilihan terakhir. Padahal, PLTN sebagai energi baru masuk ke rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN), yakni ‘bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir pertama yang telah mempertimbangkan keselamatan tinggi mesti beroperasi tahun 2015-2019’. Faktanya belum satu pun PLTN dibangun di Indonesia.

Sebenarnya PLTN diyakini dapat menjadi solusi pas untuk memenuhi pembangunan kelistrikan 35.000 Mw sampai 2025 bahkan sampai 2050. Selain hijau, berkelanjutan dan berdaya besar, harga listriknya kompetitif dibandingkan pembangkit listrik lainnya. Sejumlah negara, semisal Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia yang kaya minyak juga telah merencanakan pembangunan PLTN. Tetangga kita, Vietnam, sedang membangun PLTN 2x1.000 Mw dan dipastikan Malaysia segera menyusul.

Harus diakui bahwa keputusan pembangunan PLTN sarat dengan keputusan politik meskipun belakangan ada angin segar berembus. Pada acara ground breaking proyek pembangunan Mobile Power Plant (MPP) di Bangka Belitung awal Juni lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa plus minus pembangunan PLTN sedang dikaji para ahli. Jika hasil kajiannya positif, diharapkan Presiden segera menyatakan Go PLTN. Ini mengingat pembangunan PLTN membutuhkan waktu antara 7-10 tahun.

Reaktor daya eksperimental

Bak pepatah, tak ada rotan akar pun jadi. Karena keputusan politik yang maju mundur sejak PLTN pertama kali dicanangkan tahun 1972, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di awal 2014 bergerak cepat mengajukan pembangunan reaktor daya eksperimental (RDE) berdaya 10 MW dengan daya listrik 3-4 MW kepada Bappenas. Ini sejalan Rencana Jangka Menengah Nasional (RJMN) 2015-2019 Bappenas yang menyatakan perlunya dibangun PLTN berskala kecil.

Pada 2015, konsep pembangunan RDE telah selesai disusun. Pengerjaannya 40% muatan lokal serta pelaksananya merupakan gabungan perusahaan rekayasa lokal dan luar Jerman-Rusia. RDE akan dibangun di kawasan Puspiptek Serpong berdekatan dengan Reaktor Serbaguna GA Siwabessy (RSG-GAS) 30 MW yang telah beroperasi sejak 1987. Adapun jenis RDE yang dipilih berbasis HTGR (high temperature gas-cooled reactor). Tidak hanya menyediakan listrik, RDE ini juga didesain memproduksi hidrogen, desalinasi air laut dan pencairan batubara. Gas hidrogen yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan untuk industri pupuk.

RDE memiliki konsep PLTN masa depan atau masuk dalam kategori reaktor Generasi IV. Ciri utama reaktor generasi IV ialah sistem keselamatan mandiri, nonproliferasi, efektif dan efisien dalam pengoperasian, penggunaan bahan bakar dan manajemen limbah. Pembangunan RDE di Indonesia atau yang pertama di kawasan ASEAN ini, menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), akan menjadi contoh pengembangan PLTN masa depan. Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan Tiongkok juga sedang giat-giatnya dalam pembangunan reaktor setipe RDE.

Tentu sebuah prestasi yang tidak bisa dianggap ringan jika Indonesia sukses membangun RDE pertama di Asia Tenggara. Apalagi, teknologi RDE setara pengembangan teknologi tinggi. Pembangunan RDE dapat dijadikan sebagai pembelajaran bangsa di bidang nuklir dan melambungkan Indonesia menjadi jawara nuklir regional. Indonesia bakal dikenal dunia sebagai produsen RDE Merah Putih. Itu pasti.