Sabtu, 04 Juni 2016

Patutkah Berbagi tentang Kerentanan Mental Kita

Patutkah Berbagi tentang Kerentanan Mental Kita

Sawitri Supardi Sadarjoen  ;   Penulis Kolom PSIKOLOGI Kompas Sabtu
                                                        KOMPAS, 04 Junii 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya seorang pribadi yang terbuka, dan rasanya semakin tua saya merasa semakin menjadi pribadi yang lebih terbuka. Menjadi tua membuat diri kita mempertimbangkan bahwa semua hal yang mempermalukan diri kita dan aneh sebenarnya bersifat universal. Artinya, setiap orang ternyata memiliki keanehan yang juga membuat dirinya malu.

Ternyata perkembangan kemampuan menjadi realistis yang membuat diri kita merasa bukan sosok unik membuat kita menjadi lebih mudah untuk membuka diri, siapa diri kita dan bagaimana kita bisa menjadi seperti ini. Apakah memang seyogianya demikian?

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan catatan harian (diary) yang saya tulis sejak saya kelas dua SMP sekitar tahun 1959, dan saya bacakan kepada teman akrab yang saya percaya sambil minum kopi. Pada satu halaman dari diary saya, saya menemukan ungkapan "Saya mencintai R" yang dimulai bulan Juli-Agustus tahun yang sama, dan sejak bulan dan tahun itu saya menyebut namanya hampir 100 kali. Ada beberapa benda kecil yang menjadi pengingat saya dengannya, seperti prangko yang dia gunakan saat menulis surat kepada saya, ada sobekan kertas surat yang berisi tanda tangannya, dan berbagai benda kecil-kecil lainnya, yang terlampir dan direkat bersama catatan saya mengenai dirinya.

Masa usia tersebut, kesadaran diri saya sebagai perempuan membuat saya malu sendiri, saya tidak ingin orang lain tahu apa yang saya hayati saat itu dan apa yang saya rekat secara rahasia pada tulisan mengenai R serta gambar-gambar kenangan yang saya peroleh darinya. Banyak sekali ungkapan-ungkapan yang penuh romantisisme, lirik-lirik serta prosa khusus yang saya temukan pada buku harian itu, seolah saya adalah seorang penyair andal yang tentu saja sangat mempermalukan diri saya, andai ungkapan romantisisme tersebut dibaca atau terbaca oleh orang lain.

Ketika tiba giliran kawan dekat saya membacakan diary-nya, saya akhirnya mendapat kenyataan bahwa kawan itu pun memiliki kejadian-kejadian spesifik pada masa remajanya yang bisa juga mempermalukan dirinya bila saat kejadian tersebut terjadi, tulisannya dibaca orang lain.

Ternyata, saat tiba kita pada usia saya ini, kehidupan masa remaja kita itu tidak lagi begitu memalukan karena kita melihat kenyataan bahwa orang lain pun merasakan perasaan yang analog dengan diri kita pada usia remajanya. Ternyata pula ungkapan-ungkapan dalam diary kita pun bisa juga membuat diri kita bangga karena ungkapan-ungkapannya begitu romantis layaknya seorang penulis cerita roman. Mengapa? Karena ungkapan-ungkapan romantis tersebut disusun dengan penyertaan emosi yang didominasi oleh nuansa romantisisme seorang gadis yang sedang dilanda cinta.

Memang, kita mungkin mengagumi kemampuan kita mengungkap rasa cinta tersebut pada masa remaja, tetapi pada saat yang sama kita pun bisa menertawakan diri kita. Situasi ini akan menambah keakraban pertemanan yang kita jalin dengan teman akrab tempat kita berbagi.

Timbul pertanyaan, apakah ada perbedaan antara mengungkap diary pada masa lalu dan membuka diri pada saat ini? Sejauh manakah kita seyogianya membuka diri secara tuntas segala sesuatu yang kita alami saat ini? Apakah menceritakan apa yang telah kita alami pada masa muda berpengaruh pada posisi kita di lingkungan di mana kita berada?

Serentak setelah saya merasa diri saya menjadi pribadi yang matang (mature), saya merasa semakin menjadi lebih bersikap mandiri dan sangat "pribadi" saat melalui tahapan perkembangan lingkaran kehidupan lanjut ini. Dalam kehidupan paruh baya, bahkan lansia ini, saya merasa semakin menjadi diri pribadi dan memilih apa yang akan saya bagikan kepada orang lain. Cara berkomunikasi saya pun menjadi semakin bijak.

Jawaban:

Memang di saat kita menginginkan relasi intim dengan lingkungan, ada baiknya menceritakan masa kanak-kanak kita. Namun, berbagi tanpa upaya diskriminasi dan kurang matang justru tidak akan membuat diri relasi kita semakin intim, melainkan justru sebaliknya. Karena, bila kita menemui seseorang dalam suatu pesta, yang dengan spontan menceritakan kesulitan-kesulitannya, maka kita pun akan justru mempertanyakan keputusannya dan tahap kematangan pribadinya daripada mengagumi kondisi mental dirinya.

Dalam situasi pesta kita hendaknya mampu menciptakan keintiman dan keterikatan emosional dengan lingkungan dengan cara mengendalikan pernyataan-pernyataan kita dan cerita-cerita kita serta hal-hal yang ingin kita bagi dalam lingkungan baru itu. Andai akhirnya kita sampai pada masalah kelemahan kita dan kerentanan kondisi kita, adalah sangat bijaksana bila kita mempertimbangkan terlebih dahulu apakah lingkungan baru tersebut memang tepat bagi kita untuk berbagi kerentanan dan kelemahan kita. Kecuali itu, kita pun hendaknya mempertimbangkan pula apakah tingkat keamanan dan kenyamanan yang kita peroleh di situ.

Kita harus yakin dan percaya bahwa orang-orang baru di sekeliling kita tidak akan melecehkan kita dan merendahkan diri kita saat mendengar kelemahan-kelemahan dan kerentanan mental yang kita hayati. Karena, tentu saja kita tidak menginginkan diri kita direndahkan atau dijadikan sumber gosip bagi mereka atau bahkan kita tidak menginginkan informasi tentang kekurangan kita digunakan justru untuk melawan diri kita di kemudian hari. Kalaupun pada saat itu kita sedang merasa "tidak nyaman" dengan perasaan kita, ambillah justru hal-hal yang menyenangkan kita dalam pertemuan tersebut dan buatlah diri kita sebahagia mungkin, dengan berusaha menikmati kebersamaan dalam pertemuan tersebut.

Jadi, bila kita sedang sangat sensitif dan menghadapi situasi sulit, hendaknya hal pertama yang harus menyibukkan diri kita adalah mencari seseorang yang benar-benar kita percaya untuk bisa bersikap empati dan memberikan atensi yang tulus bagi upaya meringankan penghayatan perasaan kita yang sedang sensitif tersebut.