Senin, 13 Juni 2016

Negeri Praktik

Negeri Praktik

Renald Kasali ;   Pendiri Rumah Perubahan
                                                       JAWA POS, 09 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PADA pengujung Mei 2016, empat anak kelas IV SD di Lamongan, Jawa Timur, nekat membakar seluruh rapor siswa kelasnya yang belum dibagikan gurunya. Mereka membakarnya di ruang kelas.

Alasannya, mereka kesal karena nilai-nilai yang tercantum di rapornya (mungkin) bakal jelek. Karena penasaran, saya googling untuk mencari informasi soal ini.

Rupanya itu bukan satu-satunya kasus. Di Gowa, Sulawesi Selatan, misalnya, ada tiga pelajar SMP yang membakar sekolahnya karena kesal dihukum gurunya. Tiga siswa tersebut kedapatan merokok.

Sang guru pun menghukum dengan tidak memperbolehkan mereka mengikuti pelajaran di kelas. Kesal oleh hukuman tersebut, sekitar pukul 3 dini hari, tiga siswa kelas IX itu membakar ruang guru.

Masih terkait dengan pembakaran sekolah, seorang siswa kelas V SD di Sukoharjo, Jawa Tengah, membakar kain gorden di ruang kelasnya. Api dengan segera membakar lemari dan buku-buku di dalam kelas tersebut.

Apa alasannya? Dia marah karena sering menjadi bahan olok-olok temannya.

Masih penasaran, saya lalu memperluas pencarian. Saya jadi ingin tahu kasus-kasus kriminalitas apa lagi yang melibatkan anak-anak.

Kali ini giliran saya yang mengurut dada dan memutuskan untuk tidak melanjutkan pencarian. Hasil sementara yang saya dapatkan, ada cukup banyak kasus kriminalitas yang melibatkan anak-anak.

Pencurian, perampokan, hingga pemerkosaan dan bahkan pembunuhan. Semuanya, masya Allah, mengerikan.

Di Jakarta, tiga anak usia belasan tahun tega membunuh temannya, yang juga belasan tahun, dengan cara menggorok lehernya. Alasannya sederhana, karena korban kerap memaki-maki tiga temannya tersebut.

Baiklah, saya langsung masuk ke potret besarnya. Menurut data Komnas Perlindungan Anak (PA), pada 2013 saja ada 5.000-an anak yang mendekam di penjara karena berbagai kasus.

Sebagian sudah divonis bersalah. Saya jadi gelisah. Ada apa dengan anak-anak kita?

Si Kancil Anak Nakal

Saya percaya semua kasus tadi pasti tidak berdiri sendiri atau hanya disebabkan faktor tunggal. Pasti ada beberapa penyebab.

Misalnya, Kak Seto Mulyadi, yang ketika itu masih menjabat ketua Komnas PA, menilai di situ ada peran orang tua. Masih banyak orang tua di Indonesia yang tidak tahu bagaimana cara mendidik anak-anaknya (dan setahu saya belum ada sekolah untuk menjadi orang tua).

Maka, yang kita temukan, kalau melakukan kesalahan, si anak langsung dihukum. Bahkan dengan hukuman yang bersifat fisik.

Dijewer, ditampar, atau bahkan dipukul. Kalau di Jepang, bahkan ada yang ditinggal di hutan oleh orang tuanya.

Saya setuju bahwa cara-cara semacam itu sama sekali tidak mendidik. Hanya, sebagai orang yang bergerak dalam bidang pendidikan, sekaligus pemerhati masalah-masalah perubahan, perkenankan saya melihatnya dari sudut pandang lain.

Saya akan memulai dari lagu anak-anak terlebih dahulu. Pernah dengar lagu Si Kancil? Anda pasti hafal syairnya.

Begini salah satu petikannya. ”Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun…”

Salahkah kalau anak-anak kita menafsirkan, barang siapa berbuat salah, segera dihukum? Jangan kasih ampun! Di mana ajaran belas kasihnya?

Jumlah lagu anak-anak di negeri kita sangat terbatas. Maka, tak heran kalau anak-anak kita pun menyanyikan lagu-lagu untuk orang dewasa.

Syair-syairnya malah lebih mengerikan. Mau tahu? Untuk soal ini, rasanya Anda lebih tahu ketimbang saya.

Sekolah Hidup

Di kota-kota besar, banyak orang tua yang berpikir, kalau anaknya pintar dan masuk ranking, urusan masa depannya beres. Celakanya, pintar di sekolah itu tidak sama dengan pintar dalam kehidupan.

Kalau Anda dulu sekolahnya pintar, lalu cari nafkah, bangun rumah tangga dan pergaulannya juga pintar, itulah anugerah. Tapi celakanya, jarang sekali kita temui orang yang sekolahnya pintar, hidupnya juga pintar.

Jadi, akhirnya harus saya katakan, istilah pintar itu hanya ada di sekolah. Namun, apalah artinya sekolah pintar kalau kehidupannya tak pintar?

Artinya tidak pandai menerjemahkan apa dalam kehidupan. Artinya lagi, kita belum bisa menyerahkan anak-anak kita kepada sekolahnya saja.

Tapi, nanti dulu, bukankah waktu anak-anak lebih banyak bersama keluarganya di rumah? Artinya, kita orang tua juga belum menerapkan cara mendidik anak yang benar.

Jangan-jangan cara mendidik yang baik itu bukan memberi mereka les yang banyak agar nilai sekolahnya bagus, diterima di sekolah unggulan, masuk fakultas top, ranking, beasiswa, dan seterusnya.

Jangan-jangan anak kita kurang diajak bicara, diajak bermain, berlibur, berkegiatan sosial, dan seterusnya. Jangan-jangan waktu berlibur itu kitalah yang asyik berlibur, bukan mereka.

Banyak orang tua yang terkecoh dengan judul-judul mata pelajaran. Faktanya, sekolah kita masih belum banyak mendidik, baru memindahkan isi buku ke dalam kertas.

Masih kurang melatih otot dan tindakan. Contohnya adalah mata pelajaran budi pekerti yang mulai diajarkan kembali.

Jadi, selama beberapa jam dalam sehari, beberapa hari dalam seminggu, dan beberapa minggu dalam sebulan, serta beberapa bulan dalam setahun, anak-anak kita belajar dan menghafal pelajaran soal budi pekerti agar memperoleh nilai ulangan atau ujian yang baik. Bukan agar mereka benar-benar memiliki perilaku yang baik.

Buat saya, ini ”pemborosan waktu” yang luar biasa! Kita menanam, tetapi tidak menuai hasilnya.

Maka, tak heran kalau kita pada jauh hari kemudian memanen dampaknya. Setidak-tidaknya itu bisa kita lihat saja pada kasus-kasus kriminalitas yang melibatkan mereka, sebagaimana saya paparkan tadi.

Dulu, semasa kecil, saya diajari untuk menaruh hormat kepada guru. Bahkan, naik sepeda pun berhenti dan turun menyapa pak guru yang ada di depan kita.

Coba lihatlah apa yang terjadi sekarang? Jangankan berhenti, mereka malah menyerobot jalan. Jadi salah siapa? Yang mendidik atau yang dididik?

Kita juga memandang sekolah sebagai lembaga yang berwibawa. Di sana tempat kita belajar. Maka, ketika ada siswa –SD dan SMP pula– yang berani membakar sekolahnya, ini sungguh membuat saya terkejut sekaligus gelisah.

Rasanya sudah waktunya kita mengubah orientasi pendidikan anak-anak kita dari sekadar tahu menjadi menjalankan. Bukan hanya untuk pendidikan budi pekerti, tetapi juga untuk mata pelajaran lainnya. Ini bukan negeri teoretis, ini negeri praktik.