Jumat, 10 Juni 2016

Menjemput Siswa, Membebaskan Penyandera

Menjemput Siswa, Membebaskan Penyandera

Ahmad Baedowi ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                              MEDIA INDONESIA, 06 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

HARI-hari belakangan ini, sejak 31 Mei 2016, delapan guru Sekolah Sukma Bangsa (SSB) bergabung dengan delapan tenaga volunter asal Mindanao untuk berusaha membebaskan para penyandera dari kegelapan pikiran dan hati melalui pendidikan. Enam belas tenaga perekrut siswa tersebut akan menyebar setidaknya ke lima daerah yang dikenal sebagai pusat gerakan Abu Sayyaf Group, yaitu Cotabato, Zamboanga, Basilan, Sulu, dan Tawi-tawi. Mereka sedang mencoba menjemput impian sebagian kecil remaja Mindanao yang mulai kehilangan harapan karena konflik berkepanjangan.

Yayasan Sukma telah berkomitmen untuk memberikan sedikit lesson learned kepada semua pihak yang tidak mencintai perdamaian, dan lebih memilih cara-cara kekerasan dalam penyelesaian masalah, melalui sebuah program beasiswa Menjemput Siswa Mindanao kepada 30 remaja yang akan bersekolah di SSB Aceh selama 4 tahun. Saat ini, proses rekrutmen masih berlangsung, dan hingga hari ketujuh setidaknya 18 siswa sudah menyatakan ke sediaan mereka untuk menerima harapan itu dengan suka cita. Akan ada banyak cerita di balik proses penjemputan siswa Mindanao itu, karena Yayasan Sukma sebelumnya juga telah memiliki kerja sama dengan Autonomous Region of Moslem Mindanao (ARMM) dalam bidang pendidikan. Sebanyak delapan pejabat ARMM pernah berkunjung ke SSB di 2012, dan baru sekarang kesepakatan untuk meneruskan kerja sama itu dilakukan secara strategis dan dengan kesamaan pandangan.

Siklus 10 tahun

Salah seorang yang juga terlibat dalam proses rekrutmen siswa 10 tahun lalu di Aceh, dan kini membantu rekrutmen siswa di Mindanao, ialah Saudara Tongky, Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Dalam catatannya setelah mengunjungi Zamboanga, Basilan, dan Sulu dalam 7 hari terakhir, Tongky setidaknya mengalami atmosfer yang sama ketika melihat fakta-fakta akibat konflik yang berkepanjangan. Dalam situasi konflik, pendidikan jelas merupakan korban yang paling tersakiti. Itu disebabkan ketiadaan pendidikan sungguh merusak tatanan masyarakat, sehingga menghargai perilaku sesama menjadi hampa dan tiada. Hampir sulit menemukan sesuatu yang positif di tengah ketiadaan harapan, apalagi lingkungan pendidikan yang positif bagi anak-anak di Sulu dan Basilan.

Tawaran beasiswa ibarat oase bagi anak-anak Basilan dan Sulu, juga di Cotabato dan Tawi-tawi. Bayangkan, saat ini di daerah tersebut rasio siwa guru ada pada angka rata-rata 1-60 dengan fasilitas belajar-mengajar yang sama sekali kurang mendukung kemampuan anak untuk berkembang. Mereka sangat takjub ketika melihat foto-foto aktivitas belajar-mengajar di SSB, dan bahkan bangunan State University of Mindanao setara dengan kualitas bangunan SD di Indonesia era 80-an. 

Belum lagi persoalan keamanan dan kemiskinan yang kasatmata sangat jauh dari layak, sehingga rata-rata orangtua yang mendaftarkan anak mereka lebih banyak berkata `mau' dan `terima kasih' daripada bertanya hal-hal teknis yang mereka perlu ketahui.

Bayangan mereka untuk belajar di tengah situasi yang positif dan kondusif merupakan impian rata-rata anak Mindanao saat ini. Bahkan sebagian dari mereka malah bertanya soal kuota yang hanya 30, kenapa tidak 90 dan masih adakah kesempatan di tahun-tahun berikutnya untuk adik-adik mereka? Tentu saja para penjemput siswa itu tidak bisa memberi janji yang muluk, kecuali menerangkan sekaligus menenangkan hati para orangtua bahwa untuk tahap awal jumlah 30 siswa sudah merupakan langkah awal yang berani dari Yayasan Sukma.

Dalam catatan Tongky, “Orangtua berharap anak mereka dapat merasakan pendidikan yang lebih baik dan bisa kembali memberi kontribusi ke masyarakat mereka sendiri. Mereka begitu antusias dengan sedikit rasa takut, tetapi selebihnya ialah mereka mulai berani untuk bermimpi besar; masa depan yang lebih baik. Saya melihat beasiswa Yayasan Sukma akan menjadi tumpuan harapan mereka untuk masa depan yang lebih baik, dan kita tidak boleh mengecewakan mereka.“

Bagi Yayasan Sukma, peristiwa penjemputan siswa untuk menerima beasiswa seperti mengulang cerita 10 tahun lalu, ketika Tim Sukma melakukan proses rekrutmen siswa dari 21 kabupaten/kota se-Aceh. Saat ini, tujuan Yayasan Sukma ialah ingin memastikan bahwa penerima beasiswa ialah benar-benar siswa yang mengalami trauma akibat konflik dan tsunami, serta fakir miskin. Kualifikasi itu menjadi lebih diutamakan ketimbang melihat nilai akademik siswa semata, tanpa mempertimbangkan situasi sosial dan ekonomi calon penerima beasiswa. 

Hal yang sama juga saat ini terjadi dalam proses perekrutan siswa di Mindanao, yaitu lebih mengutamakan siswa yang mengalami trauma akibat konflik berkepanjangan dan juga miskin.

Pendidikan damai

Dalam naskah kerja sama antara Yayasan Sukma dan Basulta Contacting Group dan ARMM, disepakati bahwa tujuan pemberian beasiswa itu ialah agar anak-anak Bangsamoro dapat menyelesaikan pendidikan menengah mereka dengan proses belajar-mengajar yang disesuaikan dengan ragam bakat dan minat siswa selama 4 tahun.Selain itu, program itu juga seperti mengulang peristiwa 10 tahun lalu, saat Aceh, sebagaimana Mindanao hari ini, membutuhkan sebuah program pendidikan yang dapat menumbuhkan sikap menghargai antarsesama warga bangsa baik secara budaya, agama, maupun perbedaan bahasa dan suku bangsa.

Hal lain yang juga menarik ialah kesadaran untuk belajar dari sejarah Aceh, yakni `Bangsamoro students enhanced their peace education, Islamic Leadership and governance and are able to translate such knowledge into practice at their immediate localities'. Kata kunci tentang pendidikan damai, gaya kepemimpinan berdasarkan ajaran Islam dan tata cara berkepemerintahan merupakan hal yang juga akan dipelajari dalam lansekap Aceh secara keseluruhan. Tidak untuk menempatkan Aceh sama dengan Mindanao, tapi Mindanao harus belajar dari sejarah Aceh bagaimana mengelola konflik dengan cara-cara yang damai agar semua tujuan pembelajaran dapat terlaksana.