Jumat, 17 Juni 2016

Mendefinisikan Takwa di Ruang Mubah

Mendefinisikan Takwa di Ruang Mubah

Hasanudin Abdurakhman ;   Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang; Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang; Kini bekerja sebagai General Manager for Business Development
di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta
                                                    KOMPAS.COM, 15 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Berpuasalah agar kamu bertakwa. Apa itu takwa? Menjalankan perintah Allah, menjauhi larangannya. Selesai? Uh, itu masih sangat dasar. Itu adalah dinding terluar dari “koridor” takwa.

Kita sering menganggap apa yang ada dalam koridor itu adalah ruang bebas. Tapi pilihan-pilihan kita di ruang bebas itu justru akan menentukan kualitas kita, dan membedakan kita dengan orang lain.

Kita coba bayangkan contoh sederhana. Kita tidak makan barang haram. Dengan begitu kita sudah berada dalam koridor takwa minimalis tadi.

Ada berapa banyak orang yang sakit kolesterol tinggi, asam urat, gula, dan sebagainya, padahal mereka makan makanan halal? Halal saja tidak cukup. Thayyiban perlu ditambahkan.

Thayyiban itu tidak jelas rambu-rambunya, ia ada di ruang bebas tadi. Tapi pilihan bebas itu akan menentukan apakah kita akan jadi orang sehat atau sakit-sakitan.

Siapa saja yang bertakwa, Allah akan memberikan baginya jalan keluar. Kalau mendengar ayat ini ini bayangan kita adalah kita rajin beribadah, melaksanakan perintah, dan menjauhkan larangan, lalu Allah secara mukjizati, secara gaib akan diam-diam mengurai masalah kita. Tiba-tiba kita dapat solusi secara ajaib. Expecting the unexpected. Itu yang sering diceramahkan para ustaz. Itu sih mungkin saja, terserah Allah untuk menggunakan hakNya.

Tapi saya lebih suka melihat ayat di atas sebagai tantangan. Kalau masalah-masalahmu belum selesai juga, kalau mimpi-mimpimu tidak tercapai, itu artinya kamu belum bertakwa.

Ayat di atas adalah janji Allah, dan Dia tidak mungkin ingkar janji. Jadi kalau kamu merasa sudah takwa tapi masih dililit berbagai masalah, bukan berarti Allah tidak membantu menyelesaikannya. Kamu saja sedang GR, menganggap diri sudah takwa, padahal belum. Nah, boleh jadi kamu salah mendefinisikan ketakwaan.

Berpuasalah agar kamu bertakwa. Berpuasalah, nanti masalahmu selesai. Ini kan selintas seperti tidak ada hubungan nalarnya. Ya, bila kau hanya melihatnya sebatas untaian kalimat saja. Atau bila kau hanya menganggap puasa itu tidak makan dan tidak minum. Itulah salahmu.

Puasa itu melatih disiplin, bung. Ini saya sampaikan berulang-ulang. Disiplin, tepat waktu. Sahur pada waktu yang telah ditetapkan, tidak molor barang semenit pun. Buka puasa juga tepat waktu, tidak maju barang semenit pun. Kita sayangnya hanya disiplin dalam dua hal itu, tidak dalam hal lain.

Tahukah Anda berapa banyak masalah yang bisa diselesaikan dengan disiplin waktu? Tahukah Anda berapa besar efek ekonomi yang bisa ditimbulkan dari efisiensi waktu?

Toyota adalah perusahaan manufaktur kelas dunia. Apa senjatanya? Sistem produksi Just In Time. Toyota mengatur sistem supply berbagai komponennya dengan waktu yang teliti.

Barang-barang dari supplier langsung dikirim ke jalur produksi sesuai waktu yang telah ditentukan, tidak boleh maju dan tidak boleh mundur.

Stok di jalur produksi dibuat hanya untuk 2-3 jam saja. Jadi supplier harus kirim barang setiap 2-3 jam, tidak boleh lebih cepat, tidak boleh lebih lambat.

Apa efeknya? Toyota tidak perlu gudang. Tidak perlu punya tanah untuk gudang. Tidak perlu bangunan gudang, tidak perlu orang untuk jaga gudang, tidak perlu sistem komputer untuk administrasi gudang. Tidak ada barang yang rusak atau hilang di gudang. Tidak habis waktu untuk menata dan mengatur gudang. Tidak perlu proses untuk membawa barang keluar masuk gudang. Tidak ada yang dimubazirkan. Nanatsu no muda, menghilangkan 7 kemubaziran.

Itu contoh sederhana dari makna yang lebih dalam dari ibadah. Semua itu tidak ada tuntunannya dalam Quran maupun hadist. Hanya ada dalam ruang bebas kreativitas kita. Itulah ruang mubah tadi.

Mubah, tidak wajib juga tidak haram. Tapi bagaimana kita membuat pilihan di ruang itu menentukan hasil akhirnya.

Jadi kalau kau masih dililit masalah dalam hal karir, misalnya, padahal kau sudah berpuasa, karena puasamu tidak menghasilkan ketakwaan dalam format kreativitas di ruang bebas. Puasamu mungkin tidak membuatmu jadi lebih disiplin dan produktif.